Senin, 13 Januari 2014

Kematian Ariel Sharon dan Ramalan Kedatangan Al-Masih

Ramalan rabbi Yitzhak Kaduri mengejutkan umat Yahudi.

VIVAnews - Kematian Ariel Sharon menyisakan kisah mistik dan ramalan dari Yitzhak Kaduri, rabbi terkemuka umat Yahudi di Israel. Kaduri beberapa bulan sebelum Sharon jatuh koma mengatakan, Al-Masih tidak akan datang selama Sharon masih hidup.

Seperti diulas oleh situs WND Faith pekan lalu, Kaduri yang juga dianggap orang suci oleh Yahudi ini mengaku didatangi oleh Al-Masih atau Sang Penyelamat pada tahun 2006, beberapa waktu sebelum kematiannya.

Menurut pemuka Yahudi dari mazhab Sephardic Haredim ini, Al-Masih mengatakan bahwa dirinya tidak akan turun ke bumi sampai Sharon meninggal. Dua bulan setelah ramalan tersebut Sharon jatuh koma dan Kaduri meninggal di usia 108 tahun.

Delapan tahun kemudian, Sabtu lalu, Sharon meninggal dunia. Kaduri tidak menyebutkan waktu dan tempat yang spesifik soal kedatangan Al-Masih. Hanya dikatakan "setelah kematian Sharon".

Sebelum meninggal, rabbi kelahiran Bagdad, Irak, pada Kekhalifahan Ottoman ini meninggalkan catatan tertutup yang mengungkapkan nama dari Al-Masih yang ditunggu-tunggu tersebut. Setahun setelah kematiannya, catatan itu diteliti dan dipastikan keabsahannya oleh para pengikut dekat Kaduri.

Lantas catatan itu dipublikasikan di situs Kaduri. Hal ini membuat kehebohan di antara umat beragama. Dalam ramalannya, Kaduri mengatakan bahwa Al-Masih nantinya bernama Yehoshua atau dalam bahasa Inggrisnya, Yesus.

Ramalan ini bertentangan dengan ajaran Yahudi yang mengatakan bahwa Al-Masih adalah Ben David, putra keturunan Daud, yang menurut mereka akan mengalahkan pasukan Ya'juj dan Ma'juj.

Tidak lama kemudian, catatan itu ditarik dari situs Kaduri. Keluarganya dan pengikutnya mulai membantahnya dengan mengatakan bahwa catatan itu palsu dan dibuat-buat.

Namun, ramalan ini membuat penasaran umat Kristen. Carl Gallups, seorang pastur asal Amerika dan mantan polisi mengulas soal ramalan Kaduri ini dalam bukunya yang juga diangkat dalam film dokumenter berjudul “The Rabbi Who Found Messiah: The Story of Yitzhak Kaduri and His Prophecies of the Endtime.”

"Semua yang meneliti ramalan Kaduri menginterpretasikan bahwa Al-Masih akan muncul sesaat setelah kematian Sharon. Hal ini diperkuat fakta, bahwa beberapa tahun sebelum kematiannya, Kaduri membuat beberapa pernyataan soal kedatangan Al-Masih," tulis Gallups yang tidak membenarkan atau menentang ramalan tersebut.

Dalam agama Islam, yang disebut Al-Masih adalah Nabi Isa -yang disebut Yesus oleh orang Kristiani. Dalam beberapa hadits dikatakan bahwa Nabi Isa akan muncul di akhir zaman setelah turunnya Imam Mahdi.

Nabi Isa menurut Nabi Muhammad shallahu 'alaihi wassalam akan membunuh Dajjal dan memerangi Ya'juj dan Ma'juj, makhluk perusak. Kedatangan Nabi Isa juga merupakan pertanda akan tibanya hari kiamat. (adi)

Warga Palestina Rayakan Kematian Sharon "Si Pembantai"

VIVAnews - Kematian mantan perdana menteri Israel Ariel Sharon disambut gembira oleh warga Palestina. Mereka turun ke jalan-jalan, membagikan makanan dan permen, merayakan kematian pria yang mereka sebut "si pembantai" ini.

Seperti diberitakan Jerusalem Post, Sabtu 11 Januari 2013, ratusan masyarakat di Bani Suhaila, Jalur Gaza keluar ke jalan-jalan. Pria dan wanita bersuka cita, bernyanyi dan berdansa, beberapa terlihat membakar foto Sharon.

"Mereka mengatakan bahwa kematian Sharon adalah awal dari kehancuran masyarakat Israel, membuka jalan pada kemerdekaan," tulis laporan reporter Jerusalem Post.

Mereka membagikan permen pada pejalan kaki, anak-anak dan pedagang, sebagai bentuk kegembiraan atas kematian pria yang telah koma 8 tahun itu.

"Kami membagikan permen untuk rayakan kematian si kriminil Sharon, pembantai anak-anak, wanita dan pemuda serta orang tua. Kematiannya adalah pesan bagi seluruh pembunuh di Israel bahwa mereka akan menghadapi nasib yang sama," kata seorang warga warga Gaza, Fadi Abu Shab. (adi)

Hal serupa disampaikan Partai Hamas di Gaza yang menganggap kematian Sharon adalah pembuka kemenangan. "Rakyat kami sekarang sangat bahagia atas kematian kriminal ini yang tangannya penuh darah warga Palestina dan para pemimpin kami di sini dan di pengasingan," kata juru bicara Hamas, Sami Abu Zuhri.

Perayaan juga digelar di kamp pengungsi Palestina di Beirut, Lebanon. Kebanyakan mereka pernah merasakan berada dalam kengerian saat Sharon memerintah, terutama pada peristiwa pembantaian di Sabra dan Shatila.

Saat itu selama tiga hari, mulai dari 16 September 1982, ratusan warga Palestina di pengungsian, tidak terkecuali wanita dan anak-anak di wilayah Sabra dan Shatila, sebelah selatan pinggiran kota Beirut, dibantai tanpa ampun. Sebanyak 500 orang hilang tanpa jejak setelah tiga bulan sebelumnya Israel menginvasi Lebanon.

Sharon saat itu adalah menteri pertahanan. Akibat peristiwa ini, dia dipaksa mengundurkan diri setelah komisi penyidik Israel menemukan fakta bahwa Sharon "terlibat tidak langsung" dalam peristiwa itu.

"Tetangga mendatangi kami, bajunya penuh darah. Mereka bilang, orang-orang dibantai di jalanan. Awalnya kami tidak percaya, tapi lalu kami mendengar teriakan, permohonan ampun orang-orang untuk tidak dibunuh," kata seorang pedagang, Magida, 40, mengenang peristiwa itu, dikutip dari YNet News.

Kebanyakan warga Palestina sebenarnya ingin melihat Sharon diadili dulu sebelum mangkat. Namun mereka pasrah pada ketentuan Tuhan dan menyerahkan keadilan pada pengadilan yang maha adil nanti.

"Tentu saja saya bahagia dia mati. Saya tentu akan senang jika dia diadili di hadapan seluruh dunia atas kejahatannya, tapi ada pengadilan Tuhan yang dia tidak akan bisa lolos," kata seoarng penjaga toko di Palestina, Mirvat al-Amine.



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar