Kamis, 22 Desember 2016

PARADIGMA PELAKU TEROR BOM BERUBAH

Kita memang patut mengapresiasi apa yang dilakukan polri dengan pasukan densus 88 yang sangat sigap menangkap dan menggagalkan upaya peledakan bom bunuh diri di berbagai tempat beberapa waktu lalu, ada di 4 tempat berbeda diantaranya di Babakan Setu, Tangerang selatan (tangsel). Tapi tahukah anda bahwa usaha polri itu tidak akan bisa menghentikan aksi mereka secara keseluruhan, bahkan ke depan kelompok ini akan kembali melakukan aksinya bahkan kejadian akan makin dramatis. Jumlah korban meninggal akan lebih banyak, dan ada banyak bercak darah berceceran dimana-mana. Jangan pernah bayangkan besok-besok tidak akan ada lagi teror bom, tidak akan ada lagi upaya meledakkan bom, malah pelakunya akan makin berani dan sengaja menampakkan diri ke muka umum? sebab apa? tujuan mereka mati syahid sudah bisa dipastikan tercapai. Lho kok bisa???


Faktanya,, memang salah satu alasan kelompok ini melakukan aksi teror bom adalah untuk mendapatkan predikat mati syahid, dan apapun dan bagaimanapun cara mereka melakukan aksi, apakah itu dengan bom berdaya ledak rendah atau daya ledak tinggi, tujuan mereka akan tetap tercapai yaitu mati syahid di tangan penembak jitu pasukan densus 88. Paradigma mereka bisa berubah dari yang sebelumnya berharap bisa meledakkan diri dengan bom yang mereka rakit sendiri, walau daya ledak pun hanya apa adanya (kisaran daya ledak sama dengan bom ikan) kini tujuan mereka mati syahid jadi lebih mudah tercapai karena densus 88 memiliki seluruh kemampuan menembak jitu yang mematikan.

Tidak perlu menunggu bersusah payah meledakkan diri dengan bom yang pada akhirnya hanya akan melukai sebagian saja tubuh mereka, lalu mereka di siksa dengan kejam oleh polisi di ruang pemeriksaan. Mereka cukup mengumpulkan nyali untuk berbaku tembak dengan polisi ketika jejak dan gerak-gerik mereka diketahui dan polisi akhirnya melakukan penggerebekan di tempat tinggal mereka, lalu mereka menyiapkan diri menghadap kematian di tembak densus 88. Selesai sudah misi mereka tercapai, berhasil membuat takut musuh karena akhirnya musuh tau keberadaan mereka dan kedua berhasil menggapai jannah karena mati ditembak oleh aparat bukan mati karena bunuh diri.

Perubahan paradigma di kalangan teroris ini yang berbahaya dan harusnya menjadi bahan kajian polri dalam menangani kasus teroris, maka dari itu polri juga harus melakukan perubahan paradigma untuk mengantisipasi hal ini.
Bagaimana caranya?
Ya polisi dan densus 8 jangan lagi menggunakan cara tembak mati di tempat, usahakan melumpuhkan teroris dengan cara menembak bagian tubuh yang tidak membuat mereka mati seketika, misalnya di bagian kaki dan tangan, jangan di bagian kepala dan dada. Karena selain orang yang ditangkap itu bisa diambil keterangannya, juga untuk mempelajari motif dan mengungkap jaringan mereka lebih dalam. Karena bagaimanapun para teroris ini juga selalu terus meningkatkan kemampuan dan mengembangkan teknik baru yang mengikuti perkembangan jaman. Mereka sebenarnya adalah kumpulan orang pintar dan terpelajar, hanya saja mereka salah jalan dan gagal faham mengenai hakikat hidup beragama.

Maka dari itu polisi jangan mudah terlena dengan teknik tembak mati ditempat yang belakangan ini mendapat pujian banyak pihak, karena bisa jadi sesungguhnya itu yang akan dijadikan titik lemah polri di mata para pelaku teror. Saat ini mungkin para perwira polri itu akan dapat lencana penghargaan, tetapi kita lihat beberapa waktu ke depan kemampuan pelaku teror juga akan naik level ke fase berikutnya yang lebih mutakhir. Jadi jangan mudah berpuas diri.

Intinya, ini hanyalah bagian dari wacana upaya pemberantasan teror yang mana siapapun tidak menginginkan menjadi pelaku apalagi korban. Bersama-samalah kita saling mengingatkan untuk membangun tembok penghalang bagi makin berkembangnya bibit-bibit teror di masa depan. salam


















Artikel Terkait: