Jumat, 11 Agustus 2017

OMG,GEN MILENIALS GAK BISA NABUNG?

Menabung adalah kegiatan menyisihkan pendapatan/uang saku di tempat yang aman dengan jumlah tergantung kemampuan kita, untuk keperluan mendesak, untuk tujuan tertentu dan untuk keperluan dimasa depan. Menabung bertujuan untuk melatih kita lebih bijak dalam menggunakan uang.

Menurut hasil studi terbaru, muda-mudi usia di bawah 35 tahun masa kini, atau yang disebut generasi milenial, adalah orang-orang yang tidak bisa menabung. Studi yang dilakukan oleh Moody’s Analytics itu menunjukkan tingkat menabung orang-orang usia tersebut menurun hingga negatif 2%. Artinya, mereka menghabiskan lebih banyak uang dari yang mereka hasilkan.

Seperti dilansir dari situs CNN.com pada Jumat (31/7/2015), kelompok generasi ini adalah yang satu-satunya memiliki tingkat tabungan negatif. Sebagai perbandingan, pekerja dengan usia antara 35 sampai 44 tahun memiliki tingkat tabungan positif, yaitu 3%. Atau dengan kata lain generasi ini adalah generasi miskin secara finansial.

Lalu kenapa dikatakan Gen Milenial tidak bisa menabung? karena konsep menabung atau menyisihkan sebagian uang kurang tertanam dalam diri mereka, mereka cenderung suka meng-gampangkan segala urusan, suka menganggap remeh hal-hal kecil, sehingga menabung dianggap sesuatu yang menyulitkan. Menabung bisa menghambat aktivitas mereka mengeksplorasi diri. Karena bagaimanapun, untuk mengetahui minat seseorang dibutuhkan banyak uji coba dan eksperimen sehingga butuh banyak biaya untuk mendapatkan hasil terbaik.

Sehingga timbul dalam benak mereka, bahwa kesulitan atau keterbatasan adalah sesuatu yang menghambat dan menghalangi, dan menabung adalah bagian dari keterbatasan. Menabungg bisa menghambat ruang gerak. Tapi bukan berarti mereka tidak punya keinginan untuk memiliki tabungan, hanya saja penghasilan mereka terbatas dan sudah terlanjur habis untuk berbagai keperluan eksistensi diri tadi.

Faktanya semakin maju jaman, semakin banyak juga yang ditawarkan dan semakin banyak yang harus dibeli, mulai dari aksesoris gadget, pernak-pernik rumah tangga, keinginan liburan, rekreasi, makan di restoran, dan sebagainya. Dunia ini semakin hari semakin banyak menawarkan hal-hal yang belum pernah dicoba dan sebagian generasi milenial merasa perlu untuk mencoba hal-hal baru. Kembali lagi ke konsep awal, mencari jati diri. Dalam hal ini, biaya yang harus mereka sisihkan pun tidak sedikit.

Ada sebagian juga yang mengaggap menabung sama dengan membatasi ruang lingkup, keinginan, hasrat, gengsi, dan sebagainya, sementara aktivitas mereka menuntut banyak ketersediaan dana. Pergi keluar rumah sudah pasti akan mengeluarkan banyak biaya, ini itu yang tidak perlu, terpaksa dibeli karena tuntutan eksistensi. Pakaian, gadget, makan, kendaraan, penampilan, perawatan dan sebagainya, dimana seseorang baru merasakan diri mereka percaya diri jika sudah memiliki berbagai fasilitas penunjang yang boleh dikatakan canggih. Maka budget yang harus mereka siapkanpun lumayan banyak, bahkan ada yang sampai membobol tabungan.

Belum lagi tagihan yang harus dibayar, telefon, listrik, pulsa/kuota handphone, pajak penghasilan, kartu kredit, cicilan kendaraan, sekolah anak, sewa rumah/apartemen dan sebagainya yang mau tidak mau harus dibayar mengingat itu semua berkaitan langsung dengan kehidupan ke depan. Total biaya yang harus mereka keluarkan untuk membayar semua ini kadang sudah menghabiskan sebagian penghasilan mereka dalam sebulan. Belum lagi keperluan makan sehari-hari yang variasinyapun sangat banyak dan harganya lumayan mahal. Jadi bagaimana caranya mereka bisa menabung sementara ongkos biaya hidup saat ini memang sudah selangit.

Bukan tidak ada keinginan, hanya saja terkadang kebanyakan anak milenial tidak bisa menolak berbagai tawaran yang ada dihadapannya, dengan berbagai potongan harga dan hal-hal menarik lainnya. Belum lagi promo yang ditawakan toko online, ini adalah sesuatu yang sulit ditolak. Kadang mereka menanggap perlu membeli sesuatu yang tidak terlalu penting, karena ada banyak kemungkinan suatu saat akan digunakan. Atau mereka perlu menambah frekwensi jalan-jalan karena merasa frustasi dengan rutinitas sehari-hari. Atau hal-hal lain yang sebenarnya tidak terlalu perlu tetapi menjadi penting jika melihat dari sisi lain.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Bankrate.com menyebutkan kalau generasi milenial kini menjadi korban. Mereka menghabiskan uang makan lebih besar di luar rumah. Apalagi dengan populernya layanan pesanan online sehingga membuat pemesanan makanan lebih mudah dari sebelumnya. Survei itu juga menyebutkan kalau 29 persen generasi milenial membeli kopi setidaknya tiga kali setiap minggu. Sisanya 51 persen pergi ke bar seminggu sekali, dan 54 persen makan di luar setidaknya tiga kali seminggu dan lebih.

Jadi sebenarnya tidak ada hal berlebihan yang dihadapi generasi milenial, karena sebenarnya mereka hanya mengikuti perkembangan jaman dan menikmati apa yang ditawarkan dunia kepada mereka. Hanya saja titik kesalahan mereka adalah mereka tidak bisa menentukan skala prioritas dan tidak bisa menahan godaan belanja dan gaya hidup serta kondisi perekonomian yang makin lama yang makin sempit tidak sesuai perkembangan jaman ini yang menjadi penghambat mereka yang ingin berkembang. Menabung adalah salah satu cara untuk mengembangkan diri di masa depan, hal itu tidak bisa dilakukan karena dana yang ada terbatas.

Jadi sebenarnya ini bukan semata-mata karena anak milenial tidak mau menabung, tetapi karena mereka kadang tidak bisa menentukan skala prioritas dalam urusan belanja dan masa depan. Mereka faham bahwa dengan menabung bisa menyelamatkan ekonomi di masa sulit, tetapi apa boleh buat merekapun harus tetap eksis untuk menjalani hidup hari ini. Mereka harus mengeluarkan banyak biaya untuk bayar ini itu, sementara penghasilan mereka tidak naik-naik. Dilema dialami kebanyakan orang yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi saat ini dan akhirnya pasrah saja pada keadaan.

Survey yang dilakukan banyak lembaga itu memang benar adanya, tetapi kitapun sebaiknya tidak menampik fakta bahwa sektor ekonomi yang tidak menunjukkan peningkatan juga bisa menjadi penyebab semakin sulitnya orang mempersiapkan masa depan mereka. Saat ini menabung sudah bisa dibilang menjadi aktivitas yang sulit dilakukan, disamping karena kebanyakan orang tidak punya penghasilan tetap, penghasilan terbatas, atau penghasilan yang terus menurun.

Menabung walau bagaimanapun kerasnya orang berusaha, tetap saja pada akhirnya mereka tidak berdaya ketika berhadapan dengan situasi pilihan sulit. Menabung bukan tidak bisa dilakukan oleh kaum milenial, mereka pastilah berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya agar tetap bisa memiliki cadangan uang di kas mereka, tetapi ada banyak hal yang tidak bisa dihindari dalam kurun waktu ke depan. Masih ada banyak kemungkinan tidak terduga yang juga harus mereka pertimbangkan. Keadaan darurat dan tidak terduga kadang mengganggu niat menabung.

Lalu bagaimana cara mengatasi kesulitan yang dialami generasi milenial ini? Bagaimana caranya agar mereka terbiasa menabung.

Mau tidak mau setiap orang harus menyisikan penghasilannya secara tegas, terapkan sikap hidup yang keras, bagaimanapun caranya harus ada uang yang bisa disimpan. SIkap keras ini terutama dalam hal kemampuan menentukan skala prioritas yang paling utama. Biasakan menentukan kebutuhan yang paling darurat dan penting, sementara kebutuhan yang sifatnya komplementer atau hiburan dikurangi. Komplementer misalnya suatu barang yang masih bisa dipakai tetapi rusak sebaiknya diperbaiki, jangan membeli yang baru. Kebutuhan hiburan misalnya makan di restoran, jika sebelumnya seminggu sekali, maka mulai terapkan sebulan sekali. DAn sebagainya, dengan cara mulai melihat sesuatu dari fungsinya daripada penampilannya, melihat sesuatu dari kegunaannya bukan gengsinya. Cara melihat suatu kebutuhan mulai dipersempit menjadi sesuatu yang banyak manfaat dan kegunaan. Dengan begitu akan terbiasa hidup cukup dan tidak berlebih-lebihan menilai sesuatu. Camkan dalam diri bahwa uang yang ditabung jauh lebih bermanfaat daripada dibelanjakan untuk barang yang tidak perlu. Masa depan anak-anak jauh lebih penting dibanding menunjukkan gengsi. Perlahan-lahan sikap hidup seperti ini akan menjadikan kita pribadi yang hemat, teliti, dan cermat.

Karena pada prinsipnya, semua orang sukses di kehidupan saat ini pun mereka memulainya dengan sikap hidup prihatin dan cermat. Mereka semua sangat teliti menggunakan uang dan tidak mudah terbawa pengaruh pergaulan dan gaya hidup. Contohnya saja sang pendiri Facebook, Marck Zukerberg, milioner ini memulai karirnya dari seorang mahasiswa sederhana dan kini walau hartanya triliunan ia tetap menerapkan hidup hemat bersama istrinya. Masih tinggal di rumah kecil mungil dan menggunakan kendaraan tua. Gaya pakaiannyapun tidak layaknya milioner menggunakan jas dan sepatu merk, ia tetap seperti anak muda pada umumnya, menggunakan T-shirt dan kemeja serta sepatu kets trendi. Dan lihatlah bagaimana orang memperlakukannya dengan hormat dan respek. Yang terpenting bagi Marck bukanlah penampilan, tetapi apa yang ada dalam otak dan kemampuannyalah yang paling utama. Bahkan dengan harta yang melimpahnya itupun sama sekali tidak ingin dimanfaatkan untuk kepentingannya pribadi, melainkan ia ingin menanamkan uangnya itu untuk mengembangkan ilmu dan teknologi lebih maju lagi.

Lalu hal sederhana apa yang dilakukan Marck Zukerberg hingga ia bisa mancapai puncak sukses?

Marc mengungkapkan bahwa selama hidupnya ia tidak pernah berfokus pada hasil akhir, melainkan ia hanya berkonsentrasi pada proses menuju sukses; ia terus belajar, mengembangkan kemampuan, terus eksplorasi ilmu dan terus saja mendalami keahliannya. Ia tidak terlalu terpengaruh pada pergaulan, barang mewah, kesenangan dan sebagainya, yang dipedulikannya adalah ilmu dan pengetahuan. Ia hanya tertarik pada ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Dasar pemikiran mementingkan dan menghargai proses belajar ini yang mengantarkan pada puncak kesuksesan. Walau berkali-kali gagal, tetapi kegagalannya itu yang mendorongnya menuju puncak.

Nah gaya hidup seperti inilah yang harusnya ditiru anak milenials saat ini jika mereka ingin berhasil dan sukses di masa depan, utamakan belajar daripada tergoda hasil akhir. Gaya hidup sederhana dan cermat yang dibutuhkan untuk membangun generasi pintar dan mumpuni dimasa depan. Pandai mengatur kehidupan termasuk didalamnya mengatur kemampuan dan keinginan untuk mengembangkan kemampuan dalam dirinya lebih besar dan lebih maju lagi dalam berpikir dan berinovasi. Kecerdasan itu yang dihargai orang dibanding kemewahan gaya dan penampilan semata, kecerdasan itu yang menjadikan orang sangat dihargai dan dihormati.



Artikel Terkait: