Rabu, 20 September 2017

AJAK NOBAR, PANGLIMA TNI DIBULLY BERJAMAAH, BERIKUT ISINYA...

GAGAL FAHAM......AJAK NOBAR G30S/PKI, PANGLIMA DIKEROYOK PDIP, DEMOKRAT DAN WATIMPRES, NGERI....INTIMIDASI BERJAMAAH?
Acara debat ILC dengan tema, “PKI, Hantu atau Nyata” tanggal 19 september kemarin sekali lagi bikin geger warga netizen, karena paska acara tersebut, setelah para pakar diacara tersebut mengajak semua pihak untuk berdamai, tiba-tiba pihak istana Watimpres menyerang sikap Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang mengajak masyarakat nonton bareng film G 30S/PKI agar segera menganulir ajakannya, atau Seruan Politisi PDIP yang menuding Panglima telah memanfaatkan posisinya untuk berpolitik. Atau Politisi Demokrat yang mempertanyakan sikap Panglima mengajak orang menonton film gestapu. PDIP memandang Gatot sedang bermain politik dengan mengeluarkan instruksi itu. Apakah sekeji itu maksud seorang panglima TNI yang pernah menjadi bagian sejarah memanfaatkan moment ini untuk berpolitik, apakah pantas politisi pendukung pemerintah PDIP mengeluarkan pernyataan seperti itu? Dimana hati nuraninya terhadap rakyat, bukannya melanjutkan rencana rekonsiliasi, pakar politisi ini malah balik menuding Panglima sebagai biang kerok kekacauan yang terjadi belakangan ini. Berikut Pernyataan Effendi Simbolon: "Sebagai orang politik, (saya kira) adalah ya (muatan politis). Kalau mau nonton, ya nonton aja. Prajurit siap ya, kalau sudah dibuat instruksi ya," ujar anggota Komisi I F-PDIP Effendi Simbolon di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/9/2017). Berikut pernyataan politisi Demokrat Rachland Nashidik menanggapi situasi yang belakangan terjadi. Menurutnya, instruksi itu sama saja menguatkan sikap ekstrem terhadap sikap ekstrem lain. Ujungnya, hanya akan menambah konflik di negeri ini. "Apa sebenarnya yang dimaui Panglima TNI? Menguatkan sikap ekstrem terhadap sikap ekstrem lain? Belum cukupkah bangsa kita dirobek konflik?" tanyanya PENGISI ACARA BAGUS DAN BERBOBOT Padahal dalam acara tersebut sudah sangat jelas dipaparkan oleh Prof. Salim Said bahwa semua fakta yang diungkapkan sang Sutradara Arifin C. Noer semuanya adalah fakta, karena Salim Said mengungkapkan seorang Arifin C. Noer tidak mungkin mau ditekan dalam berkarya dan film G30S/PKI bukanlah film pesanan Orde Baru sebagaimana yang diutarakan Sukmawati Soekarnoputri dalam paparannya. Soekmawati bicara bahwa Film yang dibuat Arifin C.Noer adalah karya yang amburadul, penuh kebohongan dan rekayasa. Padahal Prof. Salim Said sudah menunjukkan fakta bahwa Film itu mengandung isi kebenaran dan tidak mungkin seorang Arifin C. Noer berbohong karena ia adalah orang yang punya integritas, ia adalah orang yang teliti dan cermat. Jadi dengan demikian, ajakan Panglima nonton bareng Film Gestapu sudah benar, karena isinya mengandung kebenaran dan bukan film abal-abal sebagaimana yang dituduhkan Soekmawati Soekarnoputri. Atau bisa juga kita katakan bahwa semua yang disampaikan Soekmawati adalah kebohongan, justru ia yang mengarang cerita dan memutarbalikkan fakta dalam rangka melindungi koleganya yang sedang tersudut. Bagaimanapun Soekmawati adalah anak dari Presiden Soekarno, yang juga merupakan tokoh penting bagi partai pendukung pemerintah saat ini PDIP. Upaya menyerang Panglima TNI di berbagai media nasional yang dilakukan Politisi PDIP dan pegawai Watimpres saat ini sangat amat disayangkan, bukannya berusaha menenangkan massa dengan upaya rekonsiliasi yang sudah disarankan oleh Lemhanas dan Prof Salim Said, masyarakat malah diajak lagi berargumentasi, bahwa apa yang dikatakan Soekmawati adalah fakta kebenaran, padahal, peristiwa sejarah saat ini sangat sulit diungkap kebenarannya karena itu menyangkut kepentingan banyak pihak dan sulitnya pengungkapan akibat para pelakunya sudah wafat. Tuduhan Politisi ini sangat tendensius dan justru memposisikan Panglima sebagai biang kerok kegaduhan yang terjadi belakangan ini, seakan-akan Panglima sedang memainkan peran ganda didalamnya. Tuduhan ini bukannya membuat masyarakat senang, karena ini makin mengukuhkan bahwa nampaknya PKI yang sebenarnya sedang menujukkan batang hidungnya. Sebagaimana cara kerja PKI pada umumnya, mereka sangat rajin membuat tuduhan dan fitnah untuk menyudutkan pihak lawan. Dengan cara itu, mereka bisa menggiring opini public bahwa mereka tidak bersalah, yang salah si anu, dalam hal ini cara kerja PKI disini justru sangat kentara sekali. Jika anda ingin lebih jelas lagi, tonton lagi video ILC yang menampilkan paparan Soekmawati dan Prof. Salim Said, perhatikan gesture tubuh Soekmawati yang selalu menunjukkan gerakan tangan kiri menepis selendangnya (gerak tangan kiri artinya menolak) setiap kali ingin membuat statement rahasia. Atau beberapa kali ia terbatuk dan kesulitan berbicara karena ada yang mengganjal di mulutnya. Ia Nampak sedikit tertekan dan ketakutan salah bicara dan akhirnya mengeluarkan statement berbeda. Itu adalah salah satu ciri dan gaya orang sedang berbohong dan sedang memutar balikkan fakta. Mulut bisa bicara tapi bahasa tubuh tidak bisa bohong. Sementara Prof. Salim said terlihat tenang dan terarah, gesture tubuhnya pun tidak menujukkan perihal mencurigakan. Atas pernyataan Soekmawati ini, nampaknya PDIP bagaikan mendapat angin surga dan mereka merasa berada di atas awan karena mendapat pembelaan Sang anak Proklamator, karena berhasil bicara bahwa dalang semua ini adalah Letjen Soeharto. Soeharto yang harusnya disalahkan bukan PKI, kurang lebih seperti itu. Dalam hal ini, artinya PDIP masih memendam amarah sehingga ia merasa perlu menyerang Panglima TNI dan menuduh Panglima sedang berpolitik. Itu adalah tuduhan yang sangat keji, dan tidak berdasar, bagaimana bisa seorang pimpinan pasukan bersenjata yang menjaga negeri ini dengan sepenuh jiwa difitnah seperti itu, bukankah itu sesuatu yang menunjukkan bahwa jangan-jangan PKI memang ada di dalam tubuh PDIP. Jangan-jangan PDIP memang sedang menyiapk sesuatu untuk ditunjukkan pada bangsa ini. Terlepas dengan apa yang dituduhkan PDIP terhadap rezim Orde baru, mana pihak yang paling benar. Jika memang benar pengkhianatan itu dilakukan oleh rezim Soeharto, maka seharusnya kemarahan itu ditujukan kepada rejim berkuasa orde baru pada saat itu, bukan dilampiaskan pada masyarakat saat ini. Rakyat saat ini tidak tahu apa-apa, dan mereka juga tidak mau terlibat dalam genosida tersebut, rakyat sudah legowo dan menganggap itu adalah bagian masa lalu bangsa ini. Rakyat juga tidak mau menengok ke belakang, sesuatu yang tidak pernah Nampak nyata. Jika orde baru yang berkhianat, toh mereka juga sudah mendapat ganjarannya, dibalas dikudeta di tahun 1998. Itukan sudah setimpal dengan perbuatannya, lalu kenapa kita harus balik lagi menengok ke tahun 1965, itu kan namanya pembodohan. Rakyat sudah move on….bro, ente ke mana aja. Masih perlukah kita berkelahi dan terkotak-kotak lagi, karena tuduhan yang menyerang Panglima ini akan membuat masyarakat jadi terpecah belah. Rakyat menganggap ajakan Panglima ini sesuatu yang wajar dilakukan pimpinan militer karena ia khawatir dengan keselamatan bangsa ini, tidak berlebihan dan bisa dimaklumi. Tapi kenapa tanggapan politisi seperti ini sangat memalukan. Panglima hanya dalam kapasitanya mencegah dan antisipasi. Apa itu salah? Lalu masih perlukah kita menyaksikan lagi kekejian itu terulang di depan mata, lalu sampai kapan kita akan berdamai dengan diri kita sendiri. Sementara hal-hal buta dan seharusnya sudah dilupakan harus korek-korek lagi. Dalam hal ini kami menilai justru memang dalang dari semua kegaduhan ini adalah PDIP, mereka yang memang ingin mengangkat kembali tragedi ini ke permukaan, sehingga mereka mendapat pengakuan, pembelaan dan pembenaran bahwa pihak mereka tidak bersalah, pihak mereka harus dipulihkan nama baiknya. Rakyat harus tahu sisi kebenaran yang sesungguhnya dari sisi berbeda dan sebagainya. Apa itu ada pengaruhnya buat rakyat, atau jangan-jangan sebenarnya mereka sendiri yang sedang mengantisipasi isu ini menyerang mereka di pilkada serentak 2018 nanti. Lelah kita ini di giring kepada opini salig serang terus-menerus seperti ini. Jika memang ingin berdamai, maka mari sama-sama kita lupakan dan mari kita mulai lagi dengan lembaran baru. Sudahi semua polemic sebagaimana saran yang disampaikan Lemhanas pada saat itu. Karena jika tidak, kita semua akan berjalan di tempat, atau kita akan berjalan mundur ke belakang. Tapi Politisi ini nampaknya belum puas dengan hasil diskusi ILC saat itu, makanya masih saja mengajak rakyat berpolemik dan menganggap pihaknya yang benar. Dia masih saja ingin menggoreng isu ini menjadi isu nasional. Ya seperti inilah jadinya, kita akan kembali lagi berjalan mundur ke belakang. Karena anjuran Panglima itu pasti ada maksudnya, tapi PDIP merasa terganggu makanya mereka membuat pernyataan seperti itu. Ya tapi itulah mental tempe politisi kita, beraninya berlindung dibalik penguasa. Tidak berani menerima kenyataan dan berlapang dada, sakit hati itu akan mereka bawa sampai mati dan sampai anak cucu mereka nanti. Maka dari itu, rakyat jangan terpengaruh, jika anda pandai dan cerdas, anda akan melihat kebenaran. Tapi jika anda tidak punya pandangan, sebaiknya diam. Inilah contoh rezim yang....gagal faham.

Artikel Terkait: