Senin, 08 Juli 2013

Seorang Muslim Pantang Sia-siakan Waktu

DALAM tradisi masyarakat Barat waktu adalah uang. Sementara bagi bangsa Arab, waktu adalah pedang. Semua itu menunjukkan secara pasti bahwa waktu sangat berharga. Siapa kehilangan waktu maka sungguh ia tak kan pernah mampu mendapatkannya kembali.

Maka sungguh aneh jika kemudian masih banyak di antara kita yang menyia-nyiakan waktu. Kalau kita melihat, misalnya seseorang yang setiap harinya membakar uang – meski sedikit -, tentu kita akan menganggapnya orang bodoh dan tidak layak memiliki harta.

Lantas, bagaimana tanggapan kita terhadap orang yang suka menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, tentu lebih bodoh dari orang yang membakar uangnya sendiri. Sebab, harta dapat diganti, sedangkan umur bila sudah berlalu, tak mungkin kembali lagi. Pepatah berkata, “Hari kemarin yang baru saja berlalu, tak ada orang yang dapat mengembalikannya”.

Oleh karena itu, kita mestinya segera sadar bahwa hidup ini selalu berpacu dengan waktu. Amat sayang jika ada waktu kita lalui tanpa bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Dalam hal ini kita patut merenungi ungkapan yang disampaikan oleh seorang sahabat Nabi, Ibn Mas’ud Radhiyallahu anhu. “Aku tidak pernah menyesali sesuatu seperti aku menyesali hari yang mataharinya sudah terbenam, sedang umurku berkurang dan amalku tidak bertambah.”

Terkait dengan pemanfaatan waktu Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Ketika suatu kaum duduk dalam suatu majlis dan tidak ingat Allah, kelak mereka akan menyesal. Dan ketika seseorang berjalan pada suatu perjalanan tidak juga ingat kepada Allah, mereka pun kelak akan menyesal (merugi). Dan, ketika seseorang berbaring di kasurnya dan tidak berdzikir kepada Allah, ia pasti akan menyesal.” (HR. Ahmad).

Pemanfaatan Waktu Para Ulama


Kepada siapa kita akan mencontoh pemanfaatan waktu terbaik? Kepada siapa lagi jika tidak kepada para Nabi, sahabat, dan tentunya para ulama.

Mari sedikit luangkan waktu untuk melihat secara lebih dekat beberapa hasil karya tulis ulama terdahulu. Mereka mampu menulis kitab sedemikian banyak dengan bahasan yang sangat lengkap.

Jika diukur menggunakan rasio, jelas umur mereka tidak cukup untuk menulis buku sebanyak itu. Tetapi fakta telah berbicara bahwa pendeknya umur tak membuat mereka gagal melahirkan karya besar yang sebenarnya sangat membutuhkan umur panjang.

Imam Bukhari 16 tahun berjalan mengumpulkan hadits Nabi dengan tidak melewatkan penulisan satu haditspun kecuali diawali dengan sholat dua raka’at. Fakhruddin Al-Razi menulis tidak kurang dari 120 judul buku dalam berbagai macam bidang kajian ilmu. Demikian pula dengan Imam Ghazali, Ibn Khaldun dan ulama-ulama lainnya.

Sungguh benar-benar sangat mengagumkan. Padahal zaman itu belum ada alat percetakan dan komputer seperti sekarang. Lantas, mengapa mereka mampu? Tidak lain karena dorangan iman mereka yang selalu mendorong segenap daya dan upaya untuk memanfaatkan umur mereka detik demi detik dengan amal, karya dan bakti.

Bahkan beberapa sangat cermat dalam memilih makanan hanya karena persoalan waktu. Seperti diceritakan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya misalnya, Dawud Ath-Thusi lebih suka minum “fatit” (sop roti) daripada makan roti.

Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, “Perbedaan waktu untuk mengunyah roti dan minum sop roti itu cukup untuk membaca lima puluh ayat suci al-Qur’an”.

Subhanallah, betapa sangat luar biasanya para ulama terdahulu dalam memanfaatkan waktu. Dengan demikian, sudah sepatutnya, kita umat Islam akhir zaman mencontoh apa yang telah ditauladankan para ulama. Jadi, jangan banyak buang waktu dengan urusan sia-sia apalagi mengundang murka Allah Ta’ala.

Bagaimana dengan kita?


Kita sungguh sudah dikelilingi oleh berbagai macam fasilitas teknologi yang sangat mungkin bisa menambah berkah dan pahala dalam keseharian kita. Misalnya, ketika di dalam mobil, sangat baik jika kita mendengarkan murottal, ceramah atau paling tidak mendengarkan nasyd Islami. Atau terus berdzikir dalam hati.

Seandainya saja itu berhasil kita lakukan itu secara konsisten, misalnya mendengarkan ceramah satu jam setiap dalam perjalanan dengan mobil. Maka dalam setahun kita telah mendengar 200 ceramah. Artinya, kita telah berhasil memanfaatkan 200 jam dari umur kita untuk kebaikan.

Dengan begitu, iman dan ilmu kita akan terus bertambah pada waktu dan tempat dimana kebanyakan orang lain lalai memanfaatkannya.

Bahkan ketika kita sedang berinternet sekalipun, katakanlah membuka facebook, maka buatlah status yang bisa memotivasi diri dan orang lain lebih bersemangat dalam belajar, beribadah, berdakwah dan beramal. Jangan gunakan facebook hanya sekedar alat hiburan yang kadang kala justru merenggut waktu kita.

Tetapi, kita kan juga butuh hiburan? Ya, silakan berhibur, tetapi tetap yang tidak melalaikan. Syukur-syukur mengambil hiburan yang bisa menambah wawawan, kecerdasan dan keimanan. Taruhlah seperti berhibur ke masjid bersejarah, pondok pesantren, atau pun museum dan perpustakaan.

Prinsipnya sangat sederhana, silakan manfaatkan waktu kita untuk apa saja yang penting jangan sampai sia-sia apalagi mengundang murka Allah Ta’ala. Di dalam al-Qur’an Allah telah memberikan panduan agar waktu kita digunakan untuk menguatkan iman, memperbanyak amal sholeh, dan saling memotivasi dalam kebenaran dan kesabaran. Jika itu tidak kita lakukan, maka kerugian akan datang menimpa.*/Imam Nawawi

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar