Senin, 16 Desember 2013

Manusia, Mahluk Belum Layak Sempurna


Sebagai salah satu mahluk yang sudah dilengkapi dengan berbagai kelebihan dan dicukupkan dengan berbagai nikmat, mulai saat ini jangan pernah kita menyebut diri kita mahluk sempurna, bahkan menyebutkan diri kita jauh lebih baik daripada mahluk lain yang ada di alam semesta ini, sesungguhnya itu adalah salah satu tindakan kufur nikmat dan salah satu perbuatan yang amat dibenci Allah swt. Hanya karena merasa mampu menciptakan peradaban modern dan meningkatkan taraf hidup menjadi lebih maju, lalu kita menganggap bahwa semua itu sudah menjadikan diri kita jauh lebih baik dari mahluk yang lain. Tahukah anda bahwa semua kemajuan dunia ini sama sekali tidak ada artinya bagi Allah swt, semua itu bahkan bisa Allah ciptakan sendiri tanpa membutuhkan bantuan manusia sedikitpun. Jika anda membaca artikel ini hingga tuntas, maka anda akan menangis sejadi-jadinya dan terbangun dari mimpi, akan timbul rasa bersalah karena sudah menyadari bahwa sesungguhnya manusia hanyalah mahluk yang paling hina, manusia tidak pantas disebut mahluk yang baik sekalipun. Semoga Allah mengampuni dosa kita.

Di masa kenabian nabi Adam, adalah segolongan bangsa jin di usir dari surga karena sudah melakukan tindakan sombong dan membanggakan diri akibat mereka berbangga diri merasa lebih baik daripada mahluk lain. Tindakan pembangkangannya ini dilakukan secara terbuka didepan sang Khalik, sehingga ini membuat Allah murka dan menganggap bangsa jin yang tadinya adalah pemimpin para malaikat telah mendustakan nikmat yang sudah Allah berikan kepada mereka, maka terlemparlah mereka dari surga-Nya Allah. Nah begitu halnya manusia, yang pada saat ini sudah menganggap dirinya mampu melakukan banyak perubahan dan menciptakan peradaban maju, lalu mereka menyebutkan diri mereka adalah mahluk sempurna. Sungguh sebuah cerminan perilaku iblis yang kembali timbul dalam diri manusia ini dapat mengakibatkan terhapusnya ras manusia dari muka bumi ini, jika Allah menghendaki.
Tinjauan Ayat Suci
Ada beberapa firman Allah yang menuliskan tentang kelebihan dan keunggulan manusia, tetapi pemahaman ini menjadi salah kaprah ketika kita hanya memandangnya dari satu sudut pandang saja. manusia menganggap bahwa makna dari ayat tersebut adalah tentang kesempurnaan penciptaan manusia, padahal sama sekali bukan. Berikut penjelasan bahwa ayat ini bukan dalam rangka menyebut manusia adalah mahlu sempurna. Dalam salah satu firman-Nya
Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At Tiin 95:4) ”
Dalam ayat diatas sangatlah jelas bahwa Allah hanya menyebutkan manusia diciptakan dalam wujud yang paling baik diantara mahluk-mahluk lainnya. Predikat manusia yang baik di sini mencakup rancangan penciptaan yang sangat sempurna baik fisik maupun non fisik seperti akal, qalb (hati), tanpa kehilangan syahwat dan nafsu hewaniyahnya, demikian juga gerak mekanik seluruh tubuhnya yang demikian indah dan dinamis. Baru pada tahap umat yang memiliki kelengkapan jasad dan ruhani, memiliki bentuk fisik yang paling indah dan didukung dengan ilmu pengetahuan. Belumlah pada tahap kesempurnaan mahluk secara utuh. Disamping itu allah juga membekali manusia dengan akal dan nalar, lalu ditambahkan juga dengan berbagai nikamt kekayaan alam untuk dikelola dengan baik dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok dan ditambahkan dengan kelebihan lain yang tidak dimiliki mahluk lainnya.
Pada tahap ini seorang manusia belum berada pada tahap manusia sempurna, manusia sempurna yang dimaksud Allah dalam hal ini adalah sesosok mahluk yang juga dilengkapi dengan kemampuan suprantaural layaknya malaikat dan bangsa jin, memiliki kemampuan ghaib. Hingga saat ini predikat manusia sempurna hanya layak disandangkan pada para nabi dan rasul, para wali dan ahli sufi yang mana mereka memiliki pengetahuan ilmu pengetahuan yang amat tinggi dan sudah diridhoi Allah untuk mampu menjadi khalifah di muka bumi. Itulah intisari hakikatnya manusia sempurna di mata Allah swt.
Bukan manusia-manusia kosong yang sangat banyak jumlahlah saat ini, terlihat berperawakan gagah perkasa tetapi dalam hal pemahaman ilmu sangat sedikit dan bahkan mereka sama sekali tidak memahami makna dan tujuan mereka hidup.
 

Pengukuhan dalam Kitabullah

Mengapa firman tentang kelebihan manusia ini diturunkan dalam ayat kitab Al quran, mengapa hal ini diungkapkan secara khusus ditujukan kepada umat manusia. Ada beberapa alas an yang bisa dikemukakan dan menjadi dasar pertimbangan agar hal ini diketahui secara luas, bahwa bentuk pencpitaan manusia adalah sudah yang sebaik-baiknya dicantumkan secara gambling adalah Al Quran dalam rangka:

Pertama, Pengertian mahluk yang sebaik-baiknya ini mengandung arti yang sangat mendalam dimana didalamnya juga terkandung unsur sombong dan angkuh. Sebaik-baiknya mahluk, bagi sebagian orang menganggap definisinya berdekatan dengan kesempurnaan. Dan seperti sudah kita bahas sebelumnya bahwa golongan jin dan iblis yang kala masih berada di surga sebelum kedatangan nabi Adam merupakan salah satu mahluk kesayangan Allah yang juga paling baik diantara yang lain telah berubah menjadi mahluk pembangkang dan menyombongkan diri, karena mereka sudah merasa menjadi mahluk yang paling baik diantara yang lain. Padahal bangsa jin juga tidak pernah mendapat gelar mahluk sempurna selama masa hidupnya, tetapi akibat sangat cintanya Allah kepada mereka, mereka menjadi congkak dan menganggap diri merekalah mahluk yang paling baik. Itulah sebabnya dengan jelas Allah mengabarkan bahwa sesungguhnya manusia bukanlah mahluk yang sempurna, mereka hanya diciptakan dalam bentuk fisik yang lebih baik jika merujuk pada kelengkapan fisik secara keseluruhan.
Dengan demikian, tujuan pencantuman ayat tentang bentuk manusia adalah yang sebaik-baiknya adalah, bahwa allah ingin menekankan penekanan kata baik itu hanya terletak pada wujud fisik manusia, bukan pada unsur jiwa, ruh dan hatinya.
Kedua, Allah swt juga ingin meyakinkan kita dalam kitab-Nya bahwa terlepas dari semua kekurangan yang ada pada diri kita, manusia tetaplah mahluk terbaik yang pernah diciptakan. Kita sebagai mahluk yang dimaksud pastilah penasaran sekali dengan apa maksud kalimat ‘mahluk terbaik’ yang mendekati makna sempurna itu. Sampai seberapa besarkah nilai kata terbaik’ itu jika memang gelar itu layak disandangkan kepada manusia. Apakah memang kalimat’lebih baik’ itu memiliki makna khusu s sehingga Allah mencantumkannya secara jelas dalam kitab Al Quran. Jika ditilik dari asal kejadiannya, maka pemberian gelar ini memiliki alas an karena manusia yang asal mula kejadiannya dibuat dari segenggam tanah dan setitik air, janganlah sampai merasa rendah diri, merasa paling buruk dan hina seperti yang disangkakan mahluk lainnya. Jangan sampai manusia menjadi bersedih hati karena asal kejadian yang tidak sebaik mahluk-mahluk lainnya.
Ketiga, adapun maksud disematkannya ayat ini adalah dalam rangka menutupi sebuah fakta bahwasanya manusia adalah mahluk yang paling lemah diantara mahluk lainnya. (anda tidak percaya, akan dijelaskan pada uraian berikut ini) Itulah sebabnya manusia dilengkapi dengan berbagai pendukung dan disempurnakan bentuknya, sesungguhnya semua itu dilakukan agar manusia tidak semakin terpuruk dengan sekian banyak kekurangan yang ada pada dirinya. Sifat dasar manusia diantaranya pemalas, ceroboh, pelupa, sombong dan kikir. Setan dan iblis sangat senang dengan semua sifat dasar manusia ini sehingga mereka bisa dengan sesuka hati mengacaukan keimana manusia.
Maksud dari kata mahluk yang paling lemah diantara mahluk lainnya adalah bahwa manusia tidaklah diberikan tugas khusus layaknya malaikat yang ditugaskan untuk banyak bertasbih kepada Allah, manusia bebas menentukan sendiri jalan hidupnya, sehingga jika manusia itu salah menentukan arah hidupnya maka mereka akan terjebak dalam kehinaan dan tidak ada yang bisa keluar dari lembah nista kecuali mereka mau berusaha memperbaikinya sendiri. Berbeda dengan malaikat, tidak ada ganjaran buruk yang ditimpakan kepada malaikat, tumbuhan dan hewan atas karena iman mereka slalu stabil.
Namun di luar semua itu, Allah sudah menjanjika bahwa Allah akan memberikan gelar manusia sempurna itu bagi mahluknya yang mampu mencapai nilai kesempurnaan iman dan taqwa, karena sesungguhnya dalam diri manusia terkandung unsur Ruh Al-Quds. Melalui keberadaan ruh inilah nilai dan derajat manusia dimata Allah ditentukan.
Salah satu manusia yang pernah menyandang kategori manusia sempurna dan sudah dilengkapi dengan unsur Ruh al-Quds ini adalah nabi Adam as dan Nabi Isa As. Nabi adam diciptakan-Nya langsung dengan ‘tangan-Nya’ sementara Nabi Isa as. Diciptakan melalui proses pembuahan, Ruh ilahiyah ‘penyempurna’ ini langsung ‘menyatu/melekat’ ketika mereka diciptakan. Karena itulah, dalam proses penciptaan Adam as, setelah ditiupkannya Ruh-Nya, para malaikat pun sujud kepada Beliau.
Berikut firman Allah yang menerangkan tingkat kesempurnaan manusia:
Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia dengan Ruh Al-Quds, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk manapun juga. Perhatikan juga kata Ruh-Ku dalam ayat 38:72, yang ditiupkan pada diri Adam saat penciptaanya.

“Maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya Ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya “. (Q.S. Shad :72).
Sujudnya Malaikat kepada Adam, karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan-Nya (Insan Kamil) ada yang disebut ‘Ruh-Ku’ dalam ayat 38:72 tadi. Malaikat —bukan— sujud kepada sifat jasadiyahnya Adam. Malaikat akan sujud kepada siapapun yang dalam dirinya ada pantulan ‘citra’ Allah (yang jelas, fokus, dan tidak blur), yaitu dengan kehadiran Ruh-Nya (Ruh Al-Quds) dalam jiwa seseorang. Iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia tempat Ruh Al-Quds disematkan Allah, maka ia melihat Adam tidak lebih dalam dari sekedar tanah yang digunakan sebagai bahan jasadnya, sehingga ia enggan bersujud (perhatikan kata yang dipakai dalam ayat tersebut: ‘kafir’: tertutup, tidak mampu melihat kebenaran).
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan mereka yang kafir”. (QS. 2:34)

Sebagian bangsa jin tidak menyadari hal tersebut bahwa ketika seorang anak manusia sudah dilengkapi dengan unsur Ruh Al-Quds, maka posisi mereka di alam ghaib akan sejajar di mata Allah swt. Malaikat berasal dari cahaya, jin dari api dan manusia disertai Ruh al-Quds. Unsur Ruh-AlQuds ini memiliki kekuatan super yang tidak dimiliki kedua mahluk lainnya. Secara kasat mata ketiganya memiliki kekuatan dan kelebihan masing-masing, namun tetaplah posisi manusia berada di atas malaikat dan bangsa jin, karena unsur Roh Al-Kuds ini yang sejatinya berasal dari cahaya Illahi yang maha suci. Ruh ini merupakan ruh ciptaan-Nya, namun dalam martabat tertingginya, dalam tingkatannya yang paling agung dan paling dekat kepada Allah.

Keistimewaan Ruh Al-Quds Pada Nabi Isa As.

 

Awal mula kisah kelahiran Nabi Isa As adalah sebuah kejadian yang luar biasa, tanpa bapak, yaitu dengan tiupan Ruhul Qudus oleh Jibril kepada diri Maryam. Ini termasuk mu'jizat 'Isa a.s. Proses ditiupkannya ruh kuds kedalam diri Nabi Isa as seperti yang termaktub dalam al-Quran berikut ini:
"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhann ya untuk mengatur segala urusan. " QS. al-Qadr 97 : 4

Dan Allah berfirman yang artinya:
"Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf". QS. an-Naba' 78 : 38
 

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (QS. Al Imran:42)
 

Dan (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat [195] (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih 'Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (QS. Al Imran:42)
 

Dalam Qs. 21: 91 “Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (al-kuds) dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.”

Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. ( QS. Al Imran:47)

la (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci" (QS. Maryam 19:-19). Dalam tafsir disebutkan, bahwa malaikat meniupkan ke kantung baju Maryam, lalu ruh itu masuk ke dalam rahim dan jadilah nabi Isa.
“lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (QS. Maryam 19 : 17)
Allah memberitakan, bahwa Dialah yang mengirim ruh-Nya kepada nabi Isa, lalu nabi Isa menjadi manusia yang sempurna. Jelas, bahwa nabi Isa adalah rasul utusan Allah.
Berikut firman Allah terkait kesempurnaan penciptaan Nabi Isa as.
Qs. 4:171 "Sesungguhnya Al masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Nya".
Dan juga renungkan juga bunyi Hadits ini "Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan Kalam Allah" (Hadits Anas Bin Malik hal. 72)
Nabi Isa as. Adalah salah satu nabi yang diberi keistimewaan dengan disematkannya ruh kuds ke dalam dirinya langsung semenjak Nabi Isa as di dalam kandungan melalui perantara malaikat Jibril. Alas an pemberian ruh kuds secara khusus kepada nabi Isa as ini adalah dalam rangka penyelesaian sebuah misi besar seorang khalifah (pemimpin) yang berkaitan dengan masa depan seluruh umat dan alam semesta di akhir jaman. Keistimewaan ruh yang ada pada nabi Isa telah disabdakan dalam sebuah hadits dari Rasulullah, ketika Umar melihat dajjal dan bermaksud membunuhnya, Rasulullah mencegah beliau. Rasulullah mengatakan, Umar tidak akan mampu membunuhnya. Yang akan menghadapi dajjal menjelang hari akhir kelak adalah Nabi Isa as di akhir zaman. Kenapa Nabi Isa as, bukan Umar atau bahkan bukan Rasulullah? Karena, walaupun semua orang yang telah dianugerahi Ruh Al-Quds tidak bisa lagi disentuh iblis, hanya Nabi Isa-lah satu-satunya orang yang oleh Allah diberi kehormatan sebagai manusia yang memiliki Ruh Al-Quds sejak hari kelahirannya, bahkan sejak dalam kandungan. Kenapa bukan Adam a.s.? Karena Adam as tidak pernah dilahirkan. Beliau ‘diciptakan’ langsung dengan tangan-Nya. Maka yang akan memiliki hak khusus menghadapi dajjal adalah hak Nabi Isa a.s.
 

Dalam Qs. 21: 91 “Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (al-kuds) dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.”
 
Jangan Merasa Lebih Baik dari Binatang Sekalipun
Untuk menjauhkan diri kita dari sifat kufur, maka janganlah pernah kita membandingkan diri kita dengan hewan, tumbuhan, jin bahkan dengan malaikat sekalipun. Meski Allah sudah menetapkan manusia sebagai mahluk yang paling baik dalam penciptaannya, namun didalamnya terdapat celah bagi setan untuk menghasut manusia untuk berperilaku sombong. Apakah anda tahu bahwa seluruh mahluk ciptaan Allah di alam semesta ini sudah memiliki tugas dan fungsinya masing-masing, sebut saja bintang, bulan, gunung-gunung, planet-planet, matahari, tumbuhan, hewan, jin dan malaikat, semuanya ditugaskan untuk selalu bertasbih dan berdzikir kepada Allah. Jika diukur besarnya ibadah mereka dalam sehari-semalam, maka mungkin manusia tidak akan sanggup menandingi, karena mereka amatlah taat dan tekun dalam beribadah.

Satu-satunya mahluk yang diberi kepercayaan untuk menjadi wali Allah dan memimpin seluruh mahluk-mahluk di muka bumi adalah manusia. Ya hanya manusia yang diberikan kebebasan untuk menetukan sendiri tugas apa yang ingin mereka laksanakan di muka bumi ini terkait kekhalifahannya tersebut. Bahkan Allah sudah menyiapkan berbagai sarana pendukung dan kelengkapan lainnya guna menunjang eksistensi manusia ini. Tugas ini tergolong berat, karena didalamnya terkandung unsur percaya dan amanah, manusia yang dianugerahi kemampuan memimpin ini haruslah orang yang pandai memberian contoh yang baik bagi mahluk lain dalam hal beribadah, dan dalam hal berperilaku yang terpuji, jika ia mampu maka itu akan membuat manusia menjadi mahluk yang layak untuk disembah. Manusia diberi tugas amat berat yaitu menjadi pelopor dan pemimpin yang harus banyak memberikan contoh teladan kepada para pengikutnya. Tapi apa yang terjadi, manusia selama ratusan tahun kehadirannya di muka bumi ini justru sudah terlalu banyak melakukan perusakan. Manusia banyak melakukan dosa, maksiat, mudharat dan kufur nikmat, tidak sesuai dengan hakikat awal penciptaannya. Apakah mahluk lain mau menjadi pengikut.


Dan lihatlah peran hewan misalnya, walau sebagian orang menganggap hewan adalah mahluk yang buruk dan rendah, tetapi apakah eksistensi manusia bisa dilakukan tanpa ikut campur hewan, rasanya tidak. Kita ambil contoh saja anjing, sebagian menganggap anjing adalah mahluk yang tidak memiliki akal dan perasaan seperti manusia, hewan ini hanya memiliki nafsu dan syahwat saja dan mereka hanya melakukan rutinitas tanpa tujuan jelas, tapi satu hal yang tidak kita disadari bahwa hewan ini adalah salah satu mahluk Allah dengan tingkat penciuman paling tajam, ia dapat mendeteksi suatu barang dari radius yang lumayan jauh dan itu tidak bisa dilakukan oleh manusia. Meski hewan ini dipandang sebelah mata, namun paling sedikit dia sudah memberi manfaat bagi manusia. 
Tapi lihatlah ulah sebagian besar manusia, apakah mereka juga mampu memberi manfaat bagi hewan?wallahualam. Lalu bagaimana dengan binatang lainnya, lalat misalnya, yang dianugerahi Allah kemampuan dualism pada diri lalat. Di satu sisi pada dirinya itu terdapat racun, namun di sisi yang lain justru sebagai penawarnya alias pada kedua sayapnya. Apakah manusia juga memiliki kemampuan special layaknya lalat yang bertubuh paling kecil diantara hewan-hewan lainnya itu? contoh lainnya burung Hantu, yang dianugerahi Allah kemampuan melihat sangat tajam di malam hari, mereka mampu menangkap tikus yang banyak berkeliaran merusak sawah dan ladang. Apakah kemampuan ini juga dimiliki manusia, jika memang manusia merasa kemampuan melihatnya paling baik. Pernahkah kita bertanya untuk apa Allah memberikan keistimewaan itu kepada lalat dan burung, apa tujuannya. apakah kita juga perlu melakukan perbandingan dengan mahluk Allah lainnya, semisal malaikat dan jin? wah pastinya sangat amat tidak sebanding, karena malaikat adalah salah satu mahluk yang Allah sayangi dan cintai. maka jika kita ingin melakukan perbandingan, maka sebaiknya kita merasa malu terlebih dahulu.
Sampai sini apakah kita masih berpikir bahwa manusia adalah mahluk yang sempurna seperti sangkaan kita selama ini, masihkah kita merasa jauh lebih baik jika dibandingkan dengan hewan sekalipun. Masihkah kita bersikap angkuh dan sombong seperti yang kerap dilakukan para bangsa iblis dihadapan pencipta-Nya. Dimata Allah jawabannya belum tentu hidup kita jauh lebih mulia jika dibandingkan lalat, burung dan anjing, atau bahkan nilai hidup kita tidak lebih baik daripada hewan dan tumbuhan. Karena jika dibandingkan dalam hal jumlah dan kualitas ibadah, seluruh mahluk dimuka bumi ini senantiasa bertasbih dan beribadah kepada Allah setiap waktu, sementara kita manusia hanya melakukan ibadah sehari semalam sebanyak 5 kali waktu shalat (itupun jika kita tidak lupa). Apakah manusia layak disembah dan dimuliakan jika pada kenyataannya mereka sendiri tidak memahami hakikat tujuan penciptaannya.
Jadi janganlah kita membandingkan diri kita dengan mahluk lain, karena sesungguhnya pada setiap penciptaan Allah ada maksud dan tujuan yang tidak bisa dimengerti manusia. Manusia memang memiliki kelengkapan panca indera, kesempurnaan jasad dan bersemayamnya ruh Al-Quds, namun semua itu tidaklah artinya jika manusianya sendiri tidak menyadari keistimewaan pada dirinya.


Ruh AL Quds pada Manusia Biasa

 

Pada diri manusia biasa yang tercipta melalui proses pembuahan alamiah atas kehendak-Nya, juga diberikan perangkat untuk memperoleh ruh al quds-Nnya (tepatnya perangkat untuk ‘membuat’ Allah berkenan dan ‘percaya’ untuk menurunkannya pada kita), yaitu melalui qalbu, syariat lahir, dan syariat batin. Manusia harus menyadari bahwa dalam dirinya terkandung sebuah ruh istimewa dan mengemban misi khusus, barulah kemudian Allah akan membuka pintu rahmatnya sedikit demi sedikit sesuai usaha manusia tersebut.

Dengan demikian, bagi manusia yang belum memiliki ‘unsur ruh al quds’ ini dalam dirinya, sangat wajar jika mereka kerap melakukan kesalahan, karena secara umum manusia penuh dengan kekurangan. perlu kerja keras agar dapat mencapai tingkat kesempurnaan seperti yang sudah dilakukan para nabi dan rasul. kerja keras ini sedikitnya sebanding dengan ibadah yang dilakukan para malaikat dan mahluk-mahluk lainnya, barulah nanti tabir kesadaran dan hidayah itu akan menghampiri dan bersemanyam dalam diri manusia.


Mengapa para malaikat tunduk pada para Nabi, anbiya dan orang-orang suci? Karena lewat proses perjuangan penyucian qalbu dan diri mereka masing-masing, Allah berkenan menganugerahkan Ruh-Nya tadi kepada orang-orang itu. Bedanya dengan Adam a.s dan Isa a.s, mereka ‘tertular’ Ruh-Nya sejak lahir dan karena diciptakan langsung dengan ‘tangan Allah’ (dalam tanda kutip); sedangkan manusia selain mereka, untuk dapat dianugerahi Ruh Al-Quds, harus melewati perjuangan diri. Mereka harus membuktikan dengan sungguh-sungguh pada Allah bahwa mereka layak untuk dianugerahi ‘unsur’ yang paling agung yang bisa didapatkan oleh makhluk ke dalam jiwanya.
Secuil ‘ruh’-Nya itu hanya diturunkan Allah pada manusia yang telah ‘disempurnakan-Nya’, yang diizinkan-Nya untuk mencapai derajat manusia yang sempurna (insan kamil) saja dan tidak pada semua manusia.
Salah satu contoh manusia sempurna yang menerima limpahan ruh Al-Quds adalah junjungan kita nabi Muhammad saw, Nabi Muhammad mendapatkan limpahan rahmat dan karunianya karena dengan kesungguhan hati dan keimanan yang sempurna Allah kengizinkan-Nya mencapai derajat manusia sempurna hingga akhirnya beliau bisa melakukan perjalanan ghaib isra' dan mi'raj.


Kesimpulan

1. Kalimat bahwa tidak ada manusia yang sempurna adalah salah, faktanya di bumi ini ada 3 orang yang masuk dalam golongan manusia sempurna, mereka adalah nabi Adam as, Nabi Isa as, dan Nabi Muhammad saw serta pada ambiya, sisanya adalah golongan manusia yang belum sepenuhnya sempurna, masih dibutuhkan usaha keras untuk mewujudkannya.
2. segeralah kita bertobat jika di dalam diri kita masih terselip rasa sombong dan dengki, karena sesungguhnya itu adalah sifat setan dan iblis yang merasuki hati kita agar kita terjerumus dalam lembah dosa dan kehinaan.
3. selama ini ternyata kehidupan manusia amatlah banyak dipengaruhi oleh besarnya rasa cinta Allah swt, sebab hanya dengan rahmat dan karunianya-Nya kita manusia masih berada di muka bumi ini dan dengan kasih sayang-Nyalah manusia masih diberi banyak kesempatan untuk berbenah diri
4. manusia pada umumnya seharusnya merasa malu dengan mahluk-mahluk lain, karena tidak bisa menjadi sebaik-baiknya pemimpin di muka bumi ini.
5. manusia harus banyak intropeksi diri mengenai hakikat keberadaannya di alam ini, menjadi manusia yang sadar diri dengan misi kehidupannya dan berupaya sekuat tenaga menggapai rahmat Allah swt agar mampu menjadi manusia seutuhnya.

Jadi kurang tepat jika kita mengatakan dengan terlalu mudah bahwa manusia, atau kita, adalah makhluk yang paling sempurna dan mulia di alam semesta. Manusia baru menjadi makhluk yang paling mulia jika telah diperangkati Allah dengan ‘unsur ruh quds’ ini. Jika belum diperangkati dengan unsur ini, bahkan kedudukan manusia bisa lebih rendah dari hewan ternak (lihat Q.S. 25:44).
Ruh Al-Quds inilah yang membawa penjelasan kemisian seseorang, untuk apa seseorang diciptakan Allah, secara spesifik orang-per-orang. Dengan kehadiran Ruh Al-Quds, seseorang menjadi mengerti misi hidupnya sendiri. Mereka-mereka yang telah dianugerahi Ruh Al-Quds inilah yang disebut sebagai ‘ma’rifat’, dan telah mengenal diri sepenuhnya.
“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu,” kata Rasulullah. Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Rabb-nya. Dengan kehadiran Ruh Al-Quds ke dalam jiwanya, seseorang menjadi mengenal dirinya, mengerti kemisian dirinya, dan mengenal Rabb-nya melalui kehadiran Ruh-Nya itu.
Dengan mengenal dirinya secara sejati, maka mulailah seseorang ber-agama secara sejati pula. “Awaluddiina ma’rifatullah,” kata Ali bin Abi Thalib kwh. Awalnya ad-diin (agama) adalah ma’rifatullah (mengenal Alah). Jadi berbeda dengan pengertian awam bahwa mencapai makrifat adalah tujuan beragama, justru sebaliknya: ma’rifat adalah awalnya beragama, ber-diin dengan sejati.



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar