Senin, 16 Desember 2013

Pemimpin itu Ibarat Pasar

Kelahiran pemimpin yang buruk sebenarnya mencerminkan kegagalan sebuah generasi

MEDIA massa kita dipadati berita-berita politik yang nyaris seragam. Seiring dengannya, penjara-penjara kita juga dipenuhi narapidana yang ‘istimewa’. Banyak mantan menteri, kepala daerah, perwira militer, penegak hukum, pejabat publik, konglomerat, artis, dan anggota dewan yang sekarang justru mendekam di balik jeruji besi. Konon, kini penjara tidak menyeramkan lagi, karena telah dijejali oleh para priyayi dan orang-orang berpendidikan tinggi. Bagaimana bisa?
Ketika merenungkan masalah ini, kami mendapati sepucuk surat yang pernah dikirimkan oleh ‘Abdullah bin Zubair (Sahabat Nabi) kepada Wahb bin Kaisan (Tabi’in). Surat ini kemudian dicatat oleh al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam karyanya, Hilyatul Awliya’. Dikatakan di dalamnya, sbb:

“Amma ba’du. Sesungguhnya orang-orang bertakwa itu memiliki tanda-tanda yang bisa dijadikan ciri untuk mengenali mereka, dan mereka pun bisa mengenalinya pada diri mereka sendiri, yaitu bersabar menghadapi bencana, ridha kepada ketetapan Allah, mensyukuri nikmat, dan tunduk kepada hukum al-Qur’an. Sungguh, pemimpin itu ibarat pasar. Apa saja yang laris disana pasti akan didatangkan ke dalamnya. Jika kebenaran laris di sisinya, maka kebenaran akan didatangkan kepadanya dan para pembelanya pun akan berdatangan. Jika kebatilan yang laris di sisinya, maka para pembela kebatilan pun akan berdatangan kepadanya dan laris di sekitarnya.”

Sungguh benar apa yang beliau katakan. Ini pulalah nasihat para ulama berikutnya kepada para pemimpin, seperti Imam Abul Hasan al-Mawardi dalam kitab Tas-hilun Nazhr wa Ta’jiluzh Zhufr fi Akhlaqil Malik. Ketika membahas bagaimana cara meluruskan rakyat, beliau menasehati penguasa untuk lebih dahulu meluruskan dirinya sendiri. Sebab, tidaklah mungkin meluruskan bayangan jika benda aslinya ternyata bengkok. Setelah mengulas berbagai akhlak buruk yang mestinya dijauhi oleh seorang pemimpin, beliau berkata, “Penguasa adalah orang yang jauh lebih utama untuk mewaspadai dan berhati-hati dari semua itu. Sebab, ada sangat banyak orang yang menginginkan dirinya, sebagaimana pasar yang didatangkan kepadanya semua yang laris di dalamnya. Setiap orang yang menemuinya pasti ingin dekat dengannya, entah melalui ucapan maupun tindakan; entah ingin mengejar kedudukan, memanfaatkan peluang, atau berhati-hati agar tidak terkesan melawan. Jika saja akal sehat tidak menghalangi mereka dan agama pun tidak menahan mereka, mereka pasti merajalela dalam kemunafikannya, lalu berkhianat dan melakukan praktek-praktek kotor.”

Maka, jika Anda seorang pemimpin dan kebingungan menyaksikan orang-orang di sekitar Anda, segeralah berkaca. Sadarilah, bahwa Anda tidak ubahnya pasar. Komoditas apa pun yang laku dan mudah didapatkan di sekitar Anda, pasti akan semakin ramai berdatangan. Semakin besar kuasa dan pengaruh yang Anda miliki, semakin besar pula apa yang berdatangan kepada Anda. Jika Anda seorang pemimpin yang jujur, maka para penipu akan kehilangan pasar dan dagangannya tidak mungkin laku. Sebaliknya, jika Anda adalah penipu, maka orang-orang jujur pasti kehilangan pelanggan dan segera menyingkir.

Adapun bagi rakyat biasa, kaidah ini bisa menjadi metode untuk mengenali calon-calon pemimpin dan meneropong para pemimpin yang tengah menjabat. Sebagaimana pasar ikan pasti dipenuhi oleh pedagang dan pembeli ikan, maka – kemungkinan besar – pemimpin yang korup juga akan dikelilingi oleh para koruptor, atau mereka yang menyukai korupsi. Secara psikologis, manusia cenderung berteman dengan orang yang sealiran dan sepemikiran. Jika para koruptor telah berkumpul, mereka akan bahu-membahu untuk memuluskan agenda korupsinya, sehingga sangat rapi dan sulit dibuktikan. Di dekat pemimpin semacam ini, hanya sedikit orang jujur yang lolos dari jerat-jerat mautnya. Biasanya, kelompok kecil ini akan menghadapi aneka tekanan dan isolasi yang menyengsarakan.

Dalam konteks lebih luas, kaidah ini juga bisa menjadi bahan muhasabah, merenung dan mengintrospeksi diri. Pada hakikatnya, para pemimpin adalah bagian dari masyarakat kita sendiri. Sebelum tampil berkuasa, mereka adalah orang-orang biasa seperti kita. Mengapa mereka sangat cepat berubah? Samar-samar sebenarnya kita juga patut menyangsikan diri kita sendiri. Bila saja posisi dan kesempatan yang ada di tangan mereka diserahkan kepada kita, dapatkah kita selamat? Di titik ini, setiap orang mestinya tunduk memohon perlindungan kepada Allah, bukannya mengangkat muka dan menepuk dada.

Para ulama terdahulu berpandangan bahwa tampilnya pemimpin yang buruk adalah hukuman Allah atas dosa dan kesalahan mereka. ‘Abdullah bin Bakr as-Sahmi (Atba’ Tabi’in, w. 208 H) berkata, “Semoga Allah memperbaiki kita dan para pemimpin kita, karena sesungguhnya kerusakan mereka adalah akibat dari dosa-dosa kita sendiri.” (Riwayat al-Khatthabi dalam al-‘Uzlah no. 232).

Artinya, kelahiran pemimpin yang buruk sebenarnya mencerminkan kegagalan sebuah generasi dalam mendidik anak-anaknya. Untuk menyikapinya, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar memang tetap dijalankan semaksimal mungkin, tetapi mereka tidak menyarankan pemberontakan. Solusinya adalah ishlah (reformasi) masyarakat secara utuh dan simultan.

Mereka pun tidak menyalahkan siapa-siapa, tetapi memperbaiki diri agar kelak bisa melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang lebih baik. Bagaimana pun, pemimpin hebat seperti Shalahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih hanyalah representasi sebuah generasi yang terdidik dengan baik, sebab di belakang mereka telah berdiri ribuan muslim-mujahid yang berbaris rapi di bawah satu komando. Mereka tidak berarti apa-apa jika hanya sendirian. Kini, kita telah menyaksikan semua tingkah-polah para pemimpin kita. Belum tibakah saatnya untuk meluruskan hidup dan memperbaiki diri? Wallahu a’lam.*/Alimin Mukhtar http://www.hidayatullah.com

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar