Rabu, 25 Desember 2013

Teori Phytagoras Ungkap Nyanyian Alam Semesta

Pythagoras (Pythagoras Ho Samios, Pythagoras Samian) dianggap sebagai orang yang menambahkan string kedelapan dengan kecapi, tujuh senar selalu dihubungkan dengan korespondensi dalam tubuh manusia dan planet-planet di alam semesta. Dalam sejarah terdahulu, orang-orang Yunani mendapatkan pengetahuan tentang aspek filosofis dan terapi musik dari Mesir. Tetapi pada akhirnya orang Yunani menganggap Hermes sebagai dewa yang menciptakan seni. Dalam salah satu legenda, Dewa Hermes diceritakan pernah membuat kecapi dengan peregangan string dari cangkang kura-kura. Kemudian Dewa Isis dan Osiris menjadi salah satu penikmat musik dan puisi.
Plato pernah menggambarkan seni kuno diantara penduduk Mesir, menurutnya lagu dan puisi sudah menjadi hiburan diantara orang Mesir sejak sepuluh ribu tahun sebelumnya. Seni ini terdengar lebih mulia dan inspiratif sehingga hanya para Dewa dan manusia setengah Dewa yang bisa menikmatinya. Misteri kecapi dianggap sebagai simbol rahasia konstitusi manusia, dimana instrumen mewakili bentuk fisik, srting mewakili saraf dan musisi mewakili roh. Mereka bermain musik dan merasakannya melalui saraf, semangat, kemudian menciptakan harmoni dan fungsional normal, sehingga terjadi keganjilan jika sifat manusia kotor.


Pythagoras Mendengar Senandung Alam Semesta

Di Cina, Persia, Hindia, Mesir, Israel, dan Yunani, mereka menghasilkan musik baik secara vokal dan instrumental dalam upacara keagamaan dan melengkapi puisi serta drama. Dalam penciptaan musik, Pythagoras tetap menggunakan rumus untuk meningkatkan seni sejati dengan menunjukkan pondasi matematika. Dalam catatan sejarah, Pythagoras dianggap bukan seorang musisi tetapi umumnya dikenal sebagai penemu skala Diantonis. Dia telah belajar teori musik dari para imam sehingga dalam beberapa tahun mampu mengatur harmoni dan disonansi.

Legenda menyebutkan, ketika Pythagoras berjalan diantara toko perkotaan dimana pada saat itu para pekerja sedang diluar memukul sepotong logam pada sebuah landasan (pandai besi). Dia mencatat variasi antara suara yang dihasilkan palu besar dan kecil serta peralatan lain yang ikut mewarnai suara di toko tersebut. Dengan perkiraan dan secara perlahan, selisih nada yang dihasilkan akhirnya membuat Pythagoras mendapat petunjuk interval musik dari skala siantonis. Ketika kembali kerumahnya, Pythagoras membuat potongan kayu didalam kamarnya dimana masing-masing potongan mempunyai ukuran dan berat berbeda.


Semua kemungkinan yang dihasilkan Pythagoras merupakan teori harmoni dari Monochord, sebuah penemuan yang terdiri dari string tunggal yang membentang antara dua pasak dan disertakan dengan Frets bergerak. Inilah awal-awal penyempurnaan nada dalam sejarah musik, tetapi bukan berarti bahwa Pythagoras adalah penemu musik.

Dari saat itu, Pythagoras dikenal sebagai salah satu orang yang menyumbang pengetahuan matematika dan harmoni yang telah dikendalikan dalam proporsi matematika. Matematika menunjukkan metode yang tepat dimana semua ini telah ditetapkan dan dipelihara alam semesta. Setelah menemukan rasio harmonik, Pythagoras kemudian mengajarkan pengetahuan tersebut secara bertahap kepada murid-muridnya. Dia membuat aneka ragam peralatan musik dimana masing-masing untuk menentukan nada, interval harmoni, nomor, warna dan bentuk, serta dilanjutkan dengan pembuktian akurasi dari peralatan berbeda. Semua itu dimulai dari premis logis paling abstrak hingga yang paling geometris konkrit dan padat.

Teori Pythagoras Dan Musik Surgawi

Dari semua bentuk musik yang menjadi ilmu pasti, Pythagoras menerapkan hukum baru yang akan menemukan interval harmoni pada semua fenomena alam, bahkan menunjukkan hubungan harmonis antara planet-planet di luar angkasa, rasi bintang, dan elemen benda lainnya. Temuan ini selanjutnya disempurnakan John A Newlands yang kemudian dikenal sebagai hukum oktaf dalam kimia modern.

Harmoni pada dasarnya bukan ditentukan oleh persepsi akal tetapi dengan alasan dan matematika, menegaskan rasa dan naluri untuk menjadi prinsip normatif sebenarnya dalam harmoni. Pythagoras meyakini, efek mendalam musik pada indera dan emosi makhluk hidup telah mempengaruhi pikiran dan tubuh yang disebut musik pengobatan. Jiwa dapat dimurnikan dari pengaruh irasional secara khidmat yang dinyanyikan dengan iringan musik kecapi.

Quote:
Jadi, teori Pythagoras sebenarnya mendekati musik surgawi, dimana alam semesta sebenarnya menjadi Monochord besar dengan string tunggal yang terhubung pada ujung atasnya menggambarkan semangat dan diujung lainnya untuk mengungkapkan hal mutlak, gambaran ini tidak lain adalah tali yang membentang antara langit dan bumi.
Nama-nama yang diberikan Pythagoras didalam berbagai catatan skala diantonis berasal dari perkiraan kecepatan dan besarnya massa planet. Masing-masing benda angkasa diyakini mengeluarkan nada tertentu yang disebabkan perpindahan secara terus menerus (orbit, rotasi). Planet-planet yang menjalani rotasi dan revolusi mengucapkan suara-suara tertentu dan berbeda sesuai ukuran, massa dan kecepatan masing-masing. Sementara Bulan yang terdekat dengan Bumi, akan memberikan (bias) suara dari tujuh planet dan bintang. Orang Yunani juga mengakui adanya hubungan antara bola (langit) dan tujuh planet serta tujuh vokal suci. Vokal suci itu adalah Alpha, Epsilon, Eta, Iota, Omicron, Upsilon dan Omega. Ketika tujuh langit bernyanyi akan menghasilkan harmoni sempurna yang naik keatas dan dianggap sebagai pujian.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar