Kamis, 05 Desember 2013

SUDAHKAH KITA MENJADI ‘MANUSIA BERAKAL’?

Kita semua pastilah sangat senang ketika ada seseorang yang memuji kepintaran dan kepandaian kita dalam melakukan suatu hal. Entah itu berupa pujian secara lisan maupun bentuk lain yang menunjukkan penghargaan seseorang atas kemampuan kita menyelesaikan suatu pekerjaan ataupun tugas yang dianggap tidak semua orang bisa. Tahukah anda seharusnya kita bersyukur atas hal tersebut karena sesungguhnya kemampuan itu berasal dari organ tubuh kita yaitu otak. Otak dan akal yang cerdas menujukkan kemampuannya dalam mengolah data dan informasi yang dikumpulkan, lalu menganalisa (mengutak-atik) dan lalu memformulasikannya menjadi sebuah formula yang akurat dan bisa digunakan untuk banyak kepentingan.

Lalu apakah peran akal sebenarnya dalam kehidupan manusia secara keseluruhan, mengapa Allah mengistimewakan manusia dengan menganugerahinya akal. Seberapa besar manfaat akal ini bagi manusia atau bahkan bagi keberlangsungan mahluk hidup lainnya yang ada di muka bumi ini. Apakah pemberian akal ini memiliki tujuan spesifik sehingga ia bisa dikategorikan mahluk yang istimewa di hadapan Allah.


Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia berasal dari surga yang berperadaban maju. Turun ke muka bumi bisa sebagai manusia dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan jauh lebih cerdas dari peradaban manusia sampai kapanpun, oleh karena itulah Allah menunjuknya sebagai `khalifah` (pemimpin) di muka bumi.
Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Sesuai dengan Surah Al Israa' 70, yang berbunyi:

“ ...dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (Al Israa' 17:70) ”
Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi:
“ sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At Tiin 95:4) ”

Berikut ini Al quran mengisahkan bagaimana hendak menghilangkan pandangan miring dari para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmah-Nya yang menyatakan Adam sebagai penguasa bumi. Maka Allah memerintahkan malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda. Para malaikat tidak sanggup menjawab firman Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka dan mengakui ketidaksanggupan mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui sesuatupun kecuali apa yang diajarkan-Nya.
Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama benda itu kepada para malaikat dan setelah diberitahu oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka bahwa hanya Allah lah yang mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui segala sesuatu yang nampak maupun tidak nampak.
Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki akal yang dinamis. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis sehingga hanya mengetahui hal-hal yang diajarkan langsung oleh Allah saja.


Adapun akal atau yang biasa kita sebut otak ini sangatlah istimewa dan sempurna, akal itu adalah salah satu sifat yang ALLAH swt anugerahkan pada manusia. Bentuknya yang rumit dan kompleks, meski berukuran kecil dan padat, cobalah anda perhatikan dengan sekesama, apakah anda bisa melihat wujud otak ini menyerupai susunan tata surya di antariksa, berputar-putar panjang dan berliku-liku, setiap sisi dan bagiannya memiliki fungsi masing-masing dan jika ada kerusakan disalah satu siisnya maka akan terjadi kekecauan. Cobalah anda perhatikan bagaimana otak anda bekerja, otak yang ada pada diri kita adalah pusat pengendali segala aktivitas panca indera, organ tangan dan kaki, emosi dan bahkan otaklah yang menjadi pusat informasi atas segala hal yang berasal dari luar diri kita. Demikian juga hakikat penciptaan manusia, Allah menciptakan manusia dalam rangka menjadikannya sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi, menjadi satu-satunya mahluk yang dipercaya untuk bisa mengendalikan dan menjadi pusat pengatur penghuni di muka bumi. Adakah kita menyadarinya bahwa selama ini manusia seharusnya banyak-banyak bersyukur dan memanjatkan syukur berlipat-lipat kali lebih banyak daripada yang dilakukan malaikat. Manusia seharusnya lebih tahu diri dalam hal pemahamannya selaku mahluk hidup yang paling banyak diberikan kelebihan dan seharusnya juga tahu bagaimana caranya berterima kasih.

Tapi apa yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, banyak manusia yang menyia-nyiakan waktu hanya untuk sibuk memenuhi kebutuhan makan bagi perutnya saja, tidak ada sedetikpun waktu disisakan dalam sehari semalam untuk mengisinya dengan mengucap dan menyebut apalagi mengagungkan asma Allah. Lihat betapa banyaknya orang yang tersesat dalam kekufuran karena mereka sudah tenggelam dalam gemerlap dunia. Apakah khalifah seperti itu yang diharapkan oleh Allah swt hadir di muka bumi ini. Batas antara si pintar dan si bodoh menjadi sangat tipis, karena keduanya hanya disibukkan dengan urusan materi dan kesenangan duniawi. Makna dan fungsi akal yang sebenarnya harus digunakan untuk mengembangkan kehidupan ini, saling tolong menolong dalam kebaikan, telah di geser menjadi besarnya nafsu menguasai harta sebanyak-banyaknya. Padahal semakin banyak harta yang kita kumpulkan di dunia, kelak akan menjadi beban berat yang harus dipikul diakhirat yaitu di masa penimbangan amal. Apakah kita sanggup mempertanggung jawabkannya setiap perak uang yang kita terima dan bahkan yang sudah kita makan, itupun akan ditanyakan bagaimana cara mendapatkannya. Sungguh sebuah pemandangan yang mengerikan jika kita ternyata mendapatkannya bukan dengan cara yang benar dan halal. Masya Allah.

Lalu mengapa seseorang itu ada yang berotak cerdas da nada juga yang tidak? Ada orang yang bisa menangkap banyak informasi dalam jumlah besar lalu menyimpannya dan bisa menggunakannya kapan pun ia mau, orang dengan jenis ini biasa disebut jenius atau pintar, karena ia mengetahui banyak hal dan bisa memberikan banyak informasi kepada orang lain ketika informasi itu dibutuhkan. Orang dengan kategori jenius ini juga memiliki ingatan yang kuat, karena ia memiliki kemampuan menyimpan data layaknya computer dengan kapasitas memori yang cukup besar sehingga ia bisa menampung banyak infomasi dalam otaknya untuk kepentingannya di masa depan. Itulah sebabnya mereka bisa menjawab berbagai pertanyaan yang rumit sekaligus, itu tugas yang dilakukan hypocampus.

Pada sebagian orang yang lain, dengan keterbatasan kemampuan otak mereka biasanya mereka sangat mudah lupa, bersifat penakut, dan tidak focus. Anda tahu mengapa? Ya karena umumnya orang dengan tipe ini memiliki informasi yang kurang atau bisa dikategorikan mereka umumnya tidak berpendidikan cukup tinggi. Itulah sebab pentingnya pendidikan dan informasi, anda bisa lihat dengan mata kepala anda sendiri dimana terlihat perbedaan yang sangat tajam perilaku orang yang bersekolah dengan yang tidak. Coba saja anda bandingkan tatap mata seorang eksekutif muda yang berusia 25 tahunan dengan seorang cleaning servis yang berusia sama, keduanya akan menunjukkan fokus mata yang berbeda. Si eksekutif muda akan terlihat lebih percaya diri dan mantap tatapnnya lurus ke depan, sedangkan si cleaning servis akan terlihat rendah diri dan tatapan matanya kosong dan menerawang. Dari cara melihat saja anda bisa mengetahui apakah seseorang memiliki pengetahuan yang cukup atau tidak. Ya karena kurangnya informasi yang dimiliki seseorang akan berpengaruh pada cara berpikir dan cara melihat segala sesuatu yang ada di hadapannya.

Sempitnya pengetahuan yang dimiliki seseorang akan membuatnya sempit dalam berpikir, melihat segala sesuatu hanya dari sudut kotak persegi empat yang segala sisinya serba dibatasi oleh sekat-sekat. Beda dengan orang yang berpengetahuan luas, semakin banyak info yang dipunya maka akan makin luas ruang berpikirnya, semakin banyak jalan keluar yang bisa ia ciptakan dalam menyelesaikan masalah bahkan jika ia mampu mengembangkannya maka ia akan bisa menembus luar alam sadarnya. Hal ini bukanlah tidak mungkin untuk dilakukan, hanya saja sedikit orang yang memahami hal ini dan mau menggali dengan tekun dan konsisten menjaga tujuan bahwa hakikatnya manusia bisa menjadi mahluk yang mulia hanya jika ia bisa menjaga istiqomah menetapkan tujuan hanya karena Allah swt.

Ada banyak orang yang memiliki kemampuan menggali berbagai khasanah keduniawian namun karena imannya tidak cukup kuat menahan godaan maka akhirnya mereka terjelembab dalam kekufuran. Ada juga yang bisa menjaga keimanannya dari berbagai tipu muslihat dunia lalu pada akhirnya ia mendapat julukan sang wali, imam atau sunan atau berbagai julukan terhormat di masyarakat yang menunjukkan konsitensinya menegakkan tiang agama, namun ia harus menyembunyikan diri. Jaman sekarang ada diantara mereka yang tidak bisa menampakkan diri ke permukaan, karena gerakan mereka selalu diawasi pemerintah berkuasa, ya kita sebutlah saja yang ada saat ini bernama Abu Bakar Ba’asyir, dimana saat ini ia mendekam di Nusakambangan karena dianggap sebagai dedengkotnya kelompok teroris Jamaah Islamiah (JI). Sesungguhnya yang ingin ia lakukan adalah menegakkan syariat islam di muka bumi pertiwi ini dan menentang pemberlakukan asas tunggal pancasila, apakah salah seorang ulama melakukan hal itu? sebagian dari kita juga bahkan ikut-ikutan menghujat tindakannya. Subhanallah, ampunilah kami jika tindakan kami itu malah menghalangi jalan-Mu.

Lalu bagaimanakah sebaik-baiknya umat berakal yang dilafazkan dalam al quran, ditunggu-tunggu para malaikat dan diridhoi Allah swt. Manusia berakal yang dimaksudkan di sini tidaklah selalu identic dengan orang yang memiliki tingkat intelejensi tinggi dengan skala kepintaran IQ diatas 200 point, atau yang paling pandai dalam hal ilmu matematika dan fisika. Kepandaian yang diridhoi Allah adalah orang dengan kategori kemampuan mengelola kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan intelegensi (IQ) dan kecerdasan spiritus (SQ) secara bijaksana. Ketiga kategori ini akan tumbuh secara berkelanjutan dengan komposisi yang seimbang mencapai tingkat tertinggi yaitu manusia berakal yang beriman dan bertaqwa. Lalu bagaimana proses pembentukan manusia berakal dengan pelaksanaan ketiga unsur kecerdasan tersebut, ini bermula ketika seseorang berkeinginan untuk mencari tahu tentang hakikat kehidupan misalnya, maka hal pertama yang akan dilakukan adalah menggunakan kecerdasan intelegensinya (IQ) dalam mencari tahu banyak hal yang berkaitan dengan asal mula kehidupan. Setelah seluruh informasi terkumpul, maka ia akan mulai menggunakan kecerdasan emosionalnya (ES) untuk memilah-milah mana informasi yang sesuai dengan keyakinanya, dalam proses ini akan sangat dipengaruhi oleh kemampuannya mengendalikan emosi, karena pada setiap orang maka ada setan penggoda yang akan selalu membelokkan hati manusia, karena pada dasarnya ketika seseorang mencari hakikat kebenaran sejati maka ia akan banyak dipengaruhi oleh logika berpikir. Otak sebagai pusat kecerdasan intelegensi akan mendominasi seberapa tingkat logis suatu data, dibagian ini adalah tugas kecerdasan emosional (Eq) untuk menenangkan dan mendamaikan kecerdasan otak agar tidak berlebihan dan melampaui batas. Ketika kedua komponen Eq dan Es bisa menerima suatu pernyataan, maka atas kehendak Allah kecerdasan spiritualnya (Es) akan muncul. Jika dalam dua tahap sebelumnya sudah dinyatakan lulus dan bisa mulai masuk rahmat-Nya untuk menerima pemahaman agama yang lebih mendalam. Pemahaman ini bisa dalam bentuk semakin kuatnya iman atau bisa dalam bentuk semakin merasa takut kepada Allah swt, atau bisa dalam bentuk meningkatnya kemampuan membaca fenomena alam. Manusia ini akan mendapatkan julukan manusia berakal jika ia mampu mengendalikan ketiga komponen utama tersebut menjadi sumber masuknya berbagai informasi yang diperlukan untuk makin memperdalam pengetahuan dan pemahamannya tentang agama, alam semesta dan hari akhirat.


Lalu Seperti apa ciri manusia berakal yang dapat kita temukan sehari-hari, orang dengan kemampuan akal yang sudah diridhoi Allah ini akan menunjukkan perilaku yang berbeda dari manusia pada umumnya, biasanya mereka lebih tenang dan terarah focus berpikir dan tujuannya. Lalu apakah kita semua bisa menjadi manusia berakal tersebut. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firmanNya:
لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“…terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…”
Yaitu mereka yang mempunyai akal yang sempurna lagi bersih, yang mengetahui hakikat banyak hal secara jelas dan nyata. Mereka bukan orang-orang tuli dan bisu yang tidak berakal.

Ciri manusia berakal yang diridhoi Allah Swt memiliki ciri sebagai berikut;

1. Memiliki jiwa yang tenang (pembawaannya tenang dan sejuk)


Orang dengan ciri jiwa yang tenang adalah orang ini memiliki cara berpikir yang sederhana, mudah diajak bertukar pikiran, mau menerima keritikan, berbesar hati, bersabar dalam setiap cobaan, cermat dalam bertindak, halus dalam bertutur kata, dapat mengendalikan emosi dan selalu pandai memanfaatkan waktu luangnya. Sikap tenangnya ini bahkan bisa menundukkan seekor harimau yang sedang lapar sekalipun, karena sorot matanya teduh dan usapan tangannya sangat lembut. Sikapnya ini mencerminkan kemampuannya dalam mengendalikan emosi (Eq), menggunakan kemampuan otak dan akalnya (Iq) dalam bertindak dan menyerahkan segala urusan kepada Allah lah (Sq) yang membuat jiwanya menjadi tenang dan terarah.


"Tidak ada sekelompok orang yang berkumpul di rumah Allah, mereka membaca dan mengkaji serta mempelajari kandungan al-Qur'an, kecuali mereka akan diberikan ketenangan, mereka akan dicurahkan rahmat dan kasih sayang serta mereka akan dikelilingi oleh malaikat juga Allah akan mengingat (memberikan kasih sayang) kepada orang yang disebut dan dimilikinya", (HR. Muslim).

2. Selalu tidak punya cukup waktu


Orang tipe ini selalu merasa waktunya tidak pernah cukup untuk terus menggali dan mengobservasi berbagai hal berkaitan penciptaan langit dan bumi misalnya. Ketertarikannya pada ilmu yang sedang ia geluti semakin lama semakin dalam dan semakin tidak terbendung semangatnya untuk terus menelusuri setiap titik yang membuat ia semakin memahami banyak hal. Baginya seluruh waktu yang dimiliki hanya ingin ia habiskan dengan lebih banyak memahami hokum Allah dan segala isinya. Kecerdasan yang akan diraihnya pada akhirnya bukan hanya akan membuat dia menjadi makin beriman, melainkan akan membuat dia mengerti bahwa sangat kecilnya manusia di alam semesta ini.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
(QS.Ali ‘Imraan: 190-191)


3. Selalu mendapat petunjuk dan hidayah


Hidayah tidaklah serta merta turun kepada seseorang tanpa sebab, namun itu haruslah dimulai dengan niat dan kemamuan seseorang dalam mencari dan menggali kebenaran yang hakiki dengan satu-satunya niat mulia yaitu mendapatkan ridho-Nya. Did alam setiap usaha dan upaya yang dilakukan seseorang, maka Allah akan membukakan pintu hidayahnya sehasta demi sehasta. Melalui malaikat, allah akan selalu memberi petunjuk kepada akalnya mengenai berbagai hal yang dibutuhkan dalam hal menunjang bertambahnya pengetahuan yang dibutuhkan sehingga semakin bertambah iman dan taqwa-Nya kepada Allah.

Allah membuka rahasia hidayah ini dengan firman-Nya,"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam memperoleh hidayahKu, niscaya akan Kami tunjuki jalan-jalanKu" (QS. Al-Ankabuut: 69).
Tanpa ilmu (agama), seseorang tidak mungkin akan mendapatkan hidayah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya “Jika Allah menginginkan kebaikan (petunjuk) kepada seorang hamba, maka Allah akan memahamkannya agama” (HR Bukhori)


4. Selalu ingin berduaan dengan Allah swt

Ciri manusia berakal lainnya adalah tumbuhnya rasa cintanya kepada Allah yang semakin tumbuh dan berkembang, tidak ada rasa ragu ataupun takut sedikitpun dalam hatinya, karena ia senantiasa merindukan untuk bertemu dengan sang Khalik baik dalam keadaan susah ataupun senang. Setiap saat ia selalu ingin mencari waktu berduan dengan Allah, karena hatinya menjadi semakin dekat dan mencinta layaknya sepasang kekasih.

“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu -karena Allah- janganlah kau lupakan untuk membaca doa di setiap akhir sholat, yaitu: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik ‘Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu’.” (Hadits ini disahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, lihat takhrij kitab al-Fawa’id cet. Dar al-’Aqidah hal. 124)


5. Wajahnya Bercahaya

Orang dengan kategori ini akan terlihat lebih percaya diri, senyumnya lebih mengembang dan wajahnya memantulkan cahaya, bukan sembarang cahaya yang menyembur dari dalam diri seseorang yang sudah menerima secara keseluruhan hokum Allah. Sebuah data hasil riset menunjukkan bahwa data kejahatan membuat jiwa seseorang menjadi redup cahayanya atau bahkan padam sama sekali. Sedangkan data kebaikan membuat jiwa seseorang menjadi bersinar terang. Dan sinar ini mampu menghalau cahaya gelap. Semakin terang cahaya jiwa seseorang, maka semakin dekatlah ia kepada Allah.
Muslim yang dekat dengan Allah sehingga menjadi kekasih Allah (Wali Allah) dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada dimana wajah mereka memancarkan cahaya.


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala“ Seorang dari sahabatnya berkata, “siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka“. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: “Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Yunus [10]:62)

6. Selalu ingin melakukan kebaikan

Tidak ada hari-hari yang dilaluinya hanyalah ingin terus-menerus melakukan kebaikan, berbuat baik tanpa mengharap imbalan sedikitpun. Kebiasaan baik berupa hal-hal kecil yang dilakukan secara rutin. Baginya menanam sebuah kebaikan di saat ini adalah salah satu cara terbaik untuk menghadap sang ilahi tanpa rasa malu sedikitpun. Kebaikan bukan hanya akan membuat wajahnya bercahaya namun juga akan makin memantapkan imannya sang Khalik.

Allah SWT. berfirman: "Inilah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmat, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS. Luqman: 1-2).

7. Selalu ingin menya mpaikan kebenaran


Tidak merasa tenang dirinya jika ia belum melakukan kebaikan dengan cara menyampaikan kebenaran baik dalam bentuk lisan, tulisan maupun cara lain yang sesuai kemampuan masing-masing orang. Rasa gelisah kerap dating menghampiri yang membuat dirinya merasakan ingin menumpahkannya, karena kerap kali orang yang telah mendapatkan hidayah maka mereka hanya akan bisa merasa tenang jika sudah menyampaikan kepada khalayak umum.

8. Hidupnya sangat teratur dan terarah


Sebagai akibat dari sikap tenang dan tawaqalnya. Dalam setiap langkahnya Allah akan senantiasa menjaga dirinya dari segala kesusahan dan keburukan dunia. Allah juga akan menjaga dirinya dari berbagai godaan dan tipu daya jin dan manusia yang keduanya bersekutu untuk melemahkan dan menghalangi langkahnya. Maka allah akan membantu memenuhi segala kebutuhan agar ia tidak merasa ketakutan dalam kekurangan dan kelemahan. Apakah benar orang yang bersungguh-sungguh berjuang dijalan Allah akan mengalami kemiskinan di dunia, itu adalah sebuah anggapan yang sangat keliru, karena nikmat Allah amatlah luas dan tidak terbatas, baik di dunia maupun di akhirat. Berikut janji Allah dalam firman-Nya;

“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)


Kesemua ciri manusia berpikir dan berakal ini sangatlah mulia derajatnya disisi Allah swt. Mereka diberikan kelebihan yang tidak sama dengan manusia pada umumnya, mereka diberikan hidayah/amanah yang lebih besar daripada yang lain dan mereka mampu menjalankan amanah tersebut dengan baik, mereka tetap menjaga rasa cintanya kepada Allah swt tanpa mengharap imbalan sedikitpun, mereka melakukan tugas dengan ikhlas tanpa bersedih hati dan mereka sama sekali tidak tergoda dengan gemerlap dunia. Sikap istiqomah dan rendah hati telah melekat pada diri mereka sehingga tidak ada sedikitpun rasa ragu dalam dirinya tentang kebenaran janji Allah swt. Tipe manusia-manusia berakal seperti inilah yang sedang dinanti-nanti pada para malaikat, syuhada, dan orang soleh. Kepintarannya mencakup banyak hal dan menyangkut kepentingan banyak orang. Pintar dalam hal tekun berusaha, mengendalikan hawa nafsu dan menjaga amanah.


Sebuah Kisah Teladan


Diriwayatkan dari Abu Jum’ah ra yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang berkata “Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau”. Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 dengan sanad yang shahih.
Dalam riwayat Ahmad dari Anas r.a, katanya : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Aku sangat suka untuk bertemu dengan saudara-saudaraku yang beriman denganku walaupun mereka tidak pernah melihatku”.
Siapakah saudara-saudara dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam ?
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendatangi pekuburan lalu bersabda: “Semoga keselamatan terlimpahkah atas kalian penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah kami akan bertemu kalian, sungguh aku sangat gembira seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita”.
Para Sahabat bertanya, “Tidakkah kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah? “
Beliau menjawab dengan bersabda: “Kamu semua adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita ialah mereka yang belum berwujud”.
Sahabat bertanya lagi, “Bagaimana kamu dapat mengenali mereka yang belum berwujud dari kalangan umatmu wahai Rasulullah? “
Beliau menjawab dengan bersabda: “Apa pendapat kalian, seandainya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih di dahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu?”’
Para Sahabat menjawab, “Sudah tentu wahai Rasulullah.’
Beliau bersabda lagi: ‘Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudlu. Aku mendahului mereka ke telaga (HR Muslim 367)
Wassalam



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar