Selasa, 05 November 2013

SIAPA KAH YANG TERMASUK GOLONGAN “MANUSIA RUGI”?


Jika anda mampu menjadi seorang pengamat, maka cobalah anda perhatikan dengan seksama beberapa jenis golongan manusia rugi yang ada disekitar kita. Apa saja yang mereka lakukan sehingga dimasukkan dalam golongan ini. Mengapa diberi gelar seperti itu, memangnya apa yang menjadi kerugian dirinya bagi orang lain sehingga ia mendapat julukan seperti itu. Rugi yang dimaksud disini karena usia manusia hanya dibatasi oleh waktu. Waktu yang mereka miliki sangat terbatas, tidak ada apapun yang bisa menggantikan fungsi waktu, dan nyatanya waktu tidak pernah bisa dikembalikan. Waktulah yang amat berkuasa atas kualitas hidup seseorang, jika baik kualitas usia yang mereka ciptakan maka baiklah kehidupan mereka di waktu-waktu berikutnya. Berapa banyak waktu yang sudah kita buang sia-sia dalam kehidupan ini, berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berbuat dosa, dan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk berbuat baik, itulah yang dimaksud dengan kata rugi yang akan disandangkan kepada beberapa kelompok manusia.

Sebagian manusia hanya sibuk dengan urusan dunia dan sama sekali tidak memperhatikan bahwa waktu selalu berjalan ke depan, bahwa semakin banyak waktu yang disia-siakan maka semakin sedikitlah kesempatan mereka memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan dan semakin sedikit kesempatan mereka untuk melakukan kebaikan. Berapa jumlah kebaikan yang sudah mereka lakukan di dunia ini, itulah yang akan membawa mereka ke surga. Semua orang sadar pada hal itu, tetapi mereka masih saja menganggap bahwa waktu yang paling tepat untuk melakukan kebaikan adalah di saat menjelang senja. Padahal itu adalah paradigma yang salah, karena ketika seseorang menjelang usia tua, maka semakin sedikit tenaga yang mereka miliki dan semakin terbatas kemampuan berpikir karena sudah melemahnya berbagai fungsi organ tubuh. Dan satu lagi paradigm yang salah, adalah bahwa tidak semua orang akan dikaruniai dengan usia yang sama panjang dengan orang lain, jika mereka harus menghentikan nafasnya diusia dimana mereka masih muda dan belum melakukan banyak hal baik, maka bersiap-siaplah dengan segala konsekuensinya. Siapa yang tahu kapan mereka akan dipanggil sang Maha Kuasa, tidak ada yang tahu. Ya itulah kembali lagi kita akan diminta pertanggung jawaban terkait penggunaan waktu kita.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari bangsa jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi ) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf:179)

Rugi, kemingkinan disebut seperti itu karena mereka tidak pandai memanfaatkan waktu, atau mungkin mereka hanya mau menyibukkan diri mereka hanya dalam rangka menyenangkan diri sendiri. Kerugian yang mereka derita bukan hanya di dunia ini tetapi juga harus ditanggung di hari akhir nanti. Rugi juga tidak hanya berkait dengan materi tetapi juga moril dan kerugian-kerugian lain yang akan menyertai. Berikut golongan orang-orang yang pada akhirnya akan menderita kerugian secara besar-besaran, yang mereka terimapun pada akhirnya hanya menerima akibat buruk. Yang yang termasuk karegori rugi ini adalah ornag yang;

1. Sibuk menghitung milik orang lain, orang ini selalu sibuk mencari tahu perkembangan kemajuan orang lain. Selalu ada cara baginya mencari tahu informasi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ia ingin menandingi kehebatan seseorang dalam hal kepemilikan barang mewah, buatnya tidak boleh sama sekali orang itu memiliki lebih dari yang dia miliki. Orang ini selalu membuang-buang waktunya memikirkan kepemilikan orang lain. Semakin jauh ia tidak mampu menyamakan atau bahkan melebihi yang orang lain miliki maka ia akan semakin sakit hati dan tersiksa. Siksaan yang paling nyata allah berikan kepada orang seperti ini adalah orang itu akan semakin dibutakan dengan ambisinya dan menjadi orang yang makin tidak bisa mengendalikan dirinya karena pada akhirnya orang ini akan dikendalikan oleh setan dan iblis melaui hawa nafsunya. Habislah waktunya dijalan yang sia-sia.
2. Sibuk dengan kekurangan fisik, selalu sibuk menutupi kekurangan fisiknya dengan berbagai cara melakukan operasi besar dan kecil, agar orang-orang tidak menjauhi dan makin mengagumi keindahan fisiknya. Misalnya seseorang yang berambisi ingin menjadi putri atau Barbie, buat mereka mabisinya itu yang bisa membuat orang menghargai dirinya.
3. Sibuk menghias diri, selalau ingin tampil beda dan terdepan dalam hal penampilan. Jenis manusia yang satu ini selalu ingin dibilang ‘borju’ dan trendi walau sebenarnya secara keseluruhan dia biasa-biasa saja. tidak ada satupun perhiasan yang tidak pernah dikenakan olehnya, mereka sangat senang dengan keindahan dan menggilai puji-pujian. Habislah waktunya …
4. Sibuk mengejar dunia, selalu sibuk mengejar karier dan kenikmatan dunia. Bagi mereka satu-satunya hal didunia yang ini bisa membahagiakan adalah punya kedudukan dan uang. Jadi selama mereka belum memiliki kedua hal ini, apapun yang mereka lakukan dan pikirkan semua itu hanya akan berkutat tentang uang dan jabatan. Habislah waktunya di kantor.
5. Sibuk menghitung-hitung harta, selalu sibuk menghitung untung dan rugi, terus-terusan menghambakan diri pada harta dan uang, mereka jadi selalu menganggap apapun di dunia ini ada nilai uangnya. Tidak ada yang gratis, semua harus dibayar dengan uang.
6. Tidak sibuk tetapi rutinitasnya mematikan mata hati, orang jenis ini banyak disibukkan dengan kesulitan dan kekurangan. Akibat minimnya penghasilan membuat mereka harus terus memutar otak untuk mencari pendapatan tambahan , dengan melakukan berbagai jenis usaha kecil-kecilan yang sesunguhnya ia telah menghambur-hamburkan waktu hanya demi uang. Habislah waktunya untuk mencari-cari uang
7. Sibuk memenuhi kriteria diri sendiri, ia selalu merasa ada yang kurang dengan dirinya, dari segi penampilan maupun kepemilikan harta. Tidak pernah ada rasa syukur dari setiap nikmat yang diterima, dia merasa bahwa semua yang sudah ada masih belum cukup sampai tidak ada satupun yang bisa memenuhi kriterianya, selalu ada kekurangan. Orang ini layaknya sedang minum air laut, semakin banyak diminum ia justru semakin haus. Orang seperti ini mudah dituntun setan untuk terus menuruti hawa nafsunya hingga
8. Sibuk menghambakan diri, demi status social dan kebanggan diri kesibukan mereka setiap hari hanya dihabiskan dengan bergunjing, membicarakan keburukan orang,

Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang yang senantiasa sibuk dengan urusannya sendiri, maka ia akan dibuat semakin sibuk dan lupa, serakah, semakin haus dan tamak dengan hawa nafsunya. Semakin banyak uang yang mereka inginkan dan dapatkan maka akan semakin banyak pula uang yang harus mereka keluarkan terkait dengan semakin resahnya hati mereka menemukan ketidak sempuraan pada tujuan yang mereka inginkan. Karena semakin besar ambisinya menginginkan sesuatu maka mereka akan banyak menemukan kekurangan dan kekecewaan. Kekecewaannya itu bisa dalam banyak bentuk menderita kerugian dalam usaha, ditipu orang, modalnya dibawa kabur, terjadi kecelakaan yang mengharuskannya mengeluarkan banyak uang, menjadi korban penipuan dan lain sebagainya. Ini semua terjadi karena Allah mengijinkan kemalangan minimpa dirinya akibat mereka sudah terlalu banyak menyia-nyiakan waktu dan tenaga untuk hal-hal yang tidak berguna. Hal-hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan urusan Allah. Mereka membiarkan dirinya terus-terusan hanyut dalam kesenangan dunia tanpa menghiraukan yang lain hingga hasil akhir yang mereka temuakan hanyalah kecewa. Umumnya oang seperti ini dikaruniai dengan kecerdasan intelektual yang tinggi sehingga mereka kerap disibukkan dengan kecerdasannya dalam mengelola dan mengembangkan usaha, setiap saat yang ada di otaknya adalah meraup untung dan untung. Bahkan ada kalanya mereka hanya memikirkan cara untuk mengembangkan lagi keuntungan yang didapatkan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan besar lainnya, tanpa mempedulikan dengan cara kotor yang mereka dapatkan terus membuat mereka semakin lupa dan terlena. Tapi lihatlah di televise berapa banyak orang dengan kepandaian dan kecerdasan intelektual itu hanya bisa mengakhiri hidupnya di balik jeruji besi. Akibat kepandaian mereka jugalah akhirnya mereka mendekam dalam penjaran akibat kelihaiannya mengelola uang.

Sebaliknya orang yang tidak pernah menjadikan uang sebagai tujuan maka hidupnya akan tenang dan damai, walau uang yang mereka miliki hanya dalam jumlah kecil, tetapi allah selalu menyelipkan rasa tenang dan lapang. Allah sama sekali tidak akan pernah membuat hambanya yang satu ini menderita dan menangis. Selalu ada jalan keluar atas persoalan yang mereka hadapi dari jalan yang tidak pernah di duga-duga. Besarnya keyakinan seseorang pada kekuatan maha dahyat Allah yang membuat orang itu bisa mengatasi rasa takutnya dan menghadapi masalah. Lihatlah dari raut wajahnya yang tenang, walau mungkin masalah yang mereka hadapi sudah sangat berat tapi mereka masih bisa terlihat tegar dan kuat, karena keyakinan bahwa Allah lahyang Maha bisa membantu. Orang tipe ini tidak akan menjual sedikit pun keyakinannya pada yang selain Allah, sehingga allah pun menjaga akidahnya dalam sebaik-baiknya iman.

Janganlah kita menjadi seburuk-buruknya mahluk yang hanya dating kepada sang khalik ketika sedang dalam kesusahan saja, sering-seringlah dating mengunjungi sang khalik pada setiap saja kita memiliki waktu luang. Karena allah pun memahami bagaimana sulitnya kita menjaga konsistensi hati berhadapan dengan kesibukan sehari-hari yang banyak menyita waktu dan pikiran. Manusia memang bukanlah mahluk ghaib layaknya malaikat, karena dalam menunjang kehidupannya sehari-hari manusia membutuhkan makan dan aktivitas lain, mereka tidak bisa meninggalkan rutinitas itu untuk 100 persen selalu ada dipelukan sang khalik, manusia dalam hakikatnya harus berjuang dan berjibaku dengan berbagai macam persoalan hidup, bukan sekedar mereka pergi ke luar rumah untuk mencari sesuap nasi tetapi ada sebagian manusia yang ditugaskan untuk bisa memberikan bantuan dan kebaikan kepada manusia lain yang sedang dalam kesulitan. Hubungan keterkaitan saling membutuhkan ini harus tetap berjalan juga dalam rangka menegakkan hokum-hukum allah di muka bumi. Kita bekerja, mengeluarkan pendapat, berargumen dan membela kepentingan orang banyak juga adalah dalam rangka mempertahankan eksistensi kehidupan yang baik dan terarah. Itulah hakikat sebaik-baiknya mahluk.
Jika manusia itu hanya selalu disibukkan dengan kepentingannya sendiri, mulai dari pagi hingga malam hari yang dipikirkan hanya dirinya saja, maka untuk apa ia ada di muka bumi ini, hingga pada akhirnyanya ia tidak memiliki arti dan peran dalam kehidupan ini. Nilai hidupnya adalah nihil.
Dedicated by http://nuurislami.blogspot.com

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar