Minggu, 10 November 2013

Ulama Rabbani Tak Membenarkan Kejahatan Para Thaghut

leh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Ulama ٌabbani adalah ulama agama yang hanya takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasa takutnya ini merupakan buah dari ilmunya terhadap keagungan Allah dan kekuasaan-Nya.

Allah telah menjelaskan bahwa ulama yang sebenarnya adalah mereka yang memiliki rasa takut kepada Allah yang sempurna. Hal ini bukan berarti yang selain mereka tidak punya rasa takut. Kaum mukminin secara umum punya rasa takut terhadap Allah, namun rasa takut kepada Allah yang benar-benar dan sempurna hanya dimiliki ulama; sesudah para nabi dan rasul. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.”
[QS. Faathir: 28]

Demikian itu, setiap kali pengetahuan seseorang tentang Allah yang Maha agung itu sempurna, maka ilmu yang ada padanya juga sempurna. Jika ilmu sempurna maka rasa takut pada dirinya terhadap Allah juga akan lebih besar. Karena hakikat ilmu adalah apa yang tertanam dalam hati, lalu nampak pada lisan, berbuah amal dan melahirkan rasa takut dan takwa.

Ulama yang demikian itu tidak akan berbicara tentang Allah melainkan dengan ilmu. Jika ia khawatir tidak tahu maka ia diam, tidak membuat-buat kedustaan dalam agama Allah. Ia sadar bahwa berdusta terhadap Allah dan syariat-Nya itu dosanya lebih berbahaya daripada syirik kepada-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.”
[QS. Al-A’raf: 33]

Dalam ayat ini, Allah membuat urutan tingkatan dosa dari yang ringan sampai yang terberat. Kemudian Allah menjadikan dosa berkata terhadap Allah tanpa ilmu sebagai dosa terberatnya.

Jika demikian maka ulama Rabbani ini tidak akan membuat pembenaran atas kejahatan para pemimpin thaghut. Tidak akan menggambarkan keberadaan para perusak di muka bumi tersebut sebagai orang-orang yang membuat perbaikan. Ia berkata tegas tentang kebenaran Islam dan lantang menjelaskan kebatilan isme-isme yang berlawanan dengannya, walaupun ia dianut oleh pemerintah thaghut tersebut. Ia tak sungkan menyatakan demokrasi itu syirik, liberalisme dan pluralisme agama itu kufur, menentang hukum Allah itu kekufuran, dan selainnya.

Al-Qur’an telah mengabarkan tabiat dari para thaghut. Mereka memaksa utusan Allah untuk merubah syariat yang Allah turunkan sesuai kepentingan mereka.
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَذَا أَوْ بَدِّلْهُ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia.”
[QS. Yunus: 15]

Ayat tersebut mengabarkan, para penenatang Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menuntut agar beliau merubah hukum-hukum syariat sesuai kepentingan mereka. Karenanya Allah perintahkan kepada Nabinya untuk menjawab:
قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”. [QS. Yunus: 15]

Jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saja mendapat desakan demikian, apalagi para pewarisnya dari kalangan ulama. Hendaknya para ulama bersikap sebagaimana sikapnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan menyampaikan bahwa dirinya tidak berhak merubah hukum-hukum Allah, tapi tugasnya hanya menyampaikan syariat Allah saja.

Di Akhir Zaman Banyak Ulama Penyesat

Namun sayang di akhir zaman, saat kemewahan dunia begitu menggoda, banyak orang yang telah karuniakan ilmu padanya menjualnya dengan sedikit kenimatan dunia. Dia berani selingkuh kepentingan, menyenangkan penguasa agar mendapat limpahan harta atau jabatan. Ia tutupi kebenaran dari umat, lalu menyuguhkan Syariat palsu polesan mereka karena kepentingan penguasa. Mereka diancam dengan laknat dari Allah dan para hamba-Nya.
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” [QS. Al-Baqarah: 159]

Dampak dari penyimpangan mereka sangat dahsyat. Kebenaran bisa dinilai kesesatan, begitu juga sebaliknya. Bukan satu atau dua orang yang akan tersesatkan karenanya, tapi ribuan bahkan jutaan. Karenanya jika mereka bertaubat, taubatnya tidak seperti taubat dari kemaksiatan lainnya. Taubatnya diberi syarat, memberikan penjelasan dan melakukan perbaikan. “Kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Baqarah: 160]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan umatkan akan bahaya mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda -setelah menyebutkan jangkauan kekuasaan umatnya-,
إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ

“Sesungguhnya yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah para pemimpin yang menyesatkan.” [HR. al-Darimi dalam Shahihnya dari haidts Tsauban, Imam Abu Dawud al-Thayalisi dari hadits Abu Darda']

Penggunaan kata “innama” secara umum memiliki makna hashar (pembatasan). Ini menunjukkan besarnya bahaya pemimpin penyesat. Pemimpin penyesat adalah pemimpin sesat yang mencakup penguasa perusak, ulama penyesat, dan ahli ibadah yang sesat (ngawur). Keberadaan mereka menggiring umat kepada kesesatan, menghancurkan agama mereka, dan menimbulkan kerusakan dalam kehidupan mereka. Termasuk di dalamnya adalah para du’at (pendakwah dan penceramah); jika mereka menyeru kepada kesesatan maka bahayanya tidak lagi diragukan. Jika masyarakat sudah percaya kepadanya dan yakin dengan ilmunya, maka ia akan merusak akidah dan keimanan mereka. Ini seperti hadirnya pemimpin kelompok-kelompok sesat yang mengaku sebagai imam mahdi dan sebagainya.

Dari Ziyad bin Hudair Radhiyallahu ‘Anhu , ia berkata: Umar bin Khathab Radhiyallahu ‘Anhu berkata kepadaku: Tahukan engkau apa yang akan merobohkan Islam? Aku menjawab: Tidak (tahu). Beliau berkata: Yang akan merobohkan Islam adalah penyimpangan ulama, debatnya munafik dengan Al-Qur’an, dan hukum para pemimpin penyesat.” [Atsar Shahihi riwayat Ibnul Mubarak dalam al-Zuhud wa al-Raqaiq, al-Faryabi dalam Sifah al-Nifaq wa Dzam al-Munafikin, Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan al-'Ilmi wa Fadhlih, Al-Darimi dan selainnya. Dishahihkan al-Albani dalam al-Misyhkah]

Penutup

Ulama Rabbani adalah ulama sebenarnya. Membimbing umat dengan ilmu dan hikmah. Mengajak umat kepada kemuliaan hidup dunia akhirat. Memperingatkan umat dari sebab kehancuran dan kesengsaraan. Tidak menutupi kebenaran karena bujuk rayu duniawi. Tidak tunduk kepada penguasa zalim yang merayu atau memaksa mereka merubah syariat. Tidak membenarkan kebatilan dan kejahatan para penguasa. Mereka tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Rasa takutnya kepada Allah memengalahkan ancaman, teror, dan intimidasi dari siapa saja. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar