Rabu, 06 November 2013

Syi’ah menuduh Al-Qur’an telah diubah

Sebagai tokoh, ketika berbicara mestinya pakai dalil dan bukti. Apa yang sering mereka katakan, bahwa kita sesam Muslim, perlu bersatu, musuh kita sudah jelas yakni orang kafir, itu sebenarnya adalah menutupi kesesatan syi’ah yang sangat nyata. Karena yang mereka katakan itu bertentangan dengan fakta dari kitab Syi’ah sendiri, bahwa menurut kitab Syi’ah: Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab, hal. 180).

Apakah itu bukan masalah pokok lagi prinsip? Betapa beraninya orang-orang yang mendukung syi’ah dalam berdusta untuk mendukung dusta pula!
- See more at: http://www.nahimunkar.com/kejahatan-syiah-dari-mazdak-hingga-tajul-muluk-sampang/#sthash.1Scr3bZ2.dpuf

Sadarilah wahai orang-orang yang terpeleset!

Perlu diingatkan, bagaimana pertanggungan jawab di akherat kelak, ketika kini mereka begitu entengnya membela syiah yang merusak Islam. Padahal di antara ajarannya itu sangat menjijikkan, contohnya ini:

Menghalalkan nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).

Bahkan Syiah itu merusak Islam dari pangkalnya. Di antaranya ini:

Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).

Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifat bada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232). (Risalah Mujahidin, edisi 9, th 1 Jumadil Ula 1428 / Juni 2007. Fadly /arrahmah.com Sabtu, 31 Desember 2011 19:04:46).

Mari kita ulangi lagi, Peringatan keras secara resmi sudah ada dari Depag (kini Kemenag) dan dari MUI.

Surat edaran yang pernah diterbitkan Departemen Agama (surat edaran No: D/BA.01/4865/1983, Tanggal 5 Desember 1983, Tentang Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah), yang pada butir ke-5 tentang Syi’ah Imamiyah disebutkan sejumlah perbedaannya dengan Islam: “Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. “
Rekomendasi MUI dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M di antaranya: Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Agar utuh, mari kita simak selengkapnya sebagai berikut:

Dalam buku yang berjudul “Mengawal Aqidah Umat, Fatwa MUI Tentang Aliran-Aliran Sesat di Indonesia”, pada halaman 44, MUI telah memasukkan Faham Syiah ke dalam “Daftar Inventaris Tentang Aliran Sesat Fatwa MUI Sejak 1971-2007”. Bahkan judul itu diberi tanda bintang (*) dengan keterangan: Komisi Pengkajian & Pengembangan MUI Pusat. Data ini terus diperbaharui berdasarkan masukan dari MUI Provinsi&Daerah Kabupaten/Kota.

Sementara isi fatwa MUI tentang Paham Syiah dimuat dalam halaman 52- 53 sebagai berikut:

FAHAM SYIAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut:

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu di antaranya :

Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
Syi’ah memandang “Imam” itu ma‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.
Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

(shodiq ramadhan) Shodiq Ramadhan | Selasa, 03 Januari 2012 | 19:53:13 WIB (suara-islam.com) http://nahimunkar.com/10509/syiah-menurut-majelis-ulama-indonesia-mui/

Ketika di dunia ini saja orang-orang yang dipertanyakan aqidahnya karena membela syiah yang sesat itu kini sudah tampak nyata bahwa mereka terpeleset. Ini hanya untuk menghaluskan kata, mungkin hakekatnya lebih buruk dari itu. Maka seharusnya mereka itu kembali ke jalan yang benar. Sedang peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah jelas:
1721 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ *

1721 . Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jarak dalamnya antara timur dan barat (Hadits Muttafaq ‘alaih).

(haji/tede-nahimunkar.com)
- See more at: http://www.nahimunkar.com/kejahatan-syiah-dari-mazdak-hingga-tajul-muluk-sampang/#sthash.1Scr3bZ2.dpuf

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar