Kamis, 30 Desember 2010

PERMINTAAN PANGGILAN ADZAN DI EROPA MENINGKAT

STOCKHOLM (SuaraMedia News) – Menyusul permintaan serupa di Jerman dan Belgia, sebuah Masjid Swedia kini sedang membahas kemungkinan untuk menyiarkan lantunan adzan. Sebelumnya di Eropa telah terdapat sejumlah Masjid yang mengumandangkan adzan, namun kebanyakan hanya pada saat sholat Jumat, meskipun ada beberapa dari mereka yang melantunkan adzan lima kali sehari. Walau kehebohan tiba-tiba tentang Masjid-Masjid yang mengajukan permintaan itu mungkn disebabkan oleh meningkatnya perhatian media, hal ini tampaknya memang telah menjadi sebuah tren, semacam respon dari kaum Muslim terhadap referendum larangan menara Masjid. Masjid Fitja di dekat Stockholm ingin memperkenalkan panggilan adzan ke luar Masjid sebelum sholat Jumat. Ini adalah pertama kalinya sebuah asosiasi Islam meminta ijin semacam itu.

Sekarang panggilan adzan untuk setiap waktu sholat dilakukan di dalam Masjid. Namun, di masa mendatang, asosiasi Islam Botkyrka menginginkan sholat Jumat dimulai dengan kumandang adzan dari menara Masjid.

“Bagi kami kaum Muslim, lantunan adzan itu penting, merupakan bagian besar dari kebudayaan kami,” ujar Ismail Okur, ketua asosiasi Islam Botkyrka.

Di Albysjon, Fitja, terdapat salah satu dari beberapa Masjid di wilayah Stockholm. Di waktu sholat dzuhur, sekitar 30 orang berada di dalam untuk menunaikan sholat. Namun, pada hari Jumat, jumlahnya dapat meningkat hingga 1000 orang.

Nusret Bucic, seorang jamaah di Masjid tersebut, mengatakan bahwa jika mereka tidak memperoleh ijin maka mereka akan menerimanya. “Kami tidak dapat mengeluh tentang orang-orang, namun harus mematuhi peraturan di Swedia. Namun, secara alami, akan lebih baik jika ada lantunan adzan sebelum sholat.”

Dalam survei terbaru yang dilakukan Sifo untuk SVT, sekitar 51% penduduk Stockholm mengatakan bahwa mereka berpendapat menara Masjid harusnya diijnkan keberadaannya, sementara 23% memintanya untuk dilarang, dan 25% tanpa opini.

“Saya rasa mereka harus beradaptasi dengan budaya yang mereka datangi, dan karena itu saya pikir seruan adzan di luar Masjid bukan ide yang baik,” ujar Birgit Lorvik, seorang warga setempat.

Sebagai bagian dari dorongan terhadap referendum, Presiden Hans-Rudolf Merz berjanji bahwa seruan adzan tidak akan berkumandang di Swiss. Sementara berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa beberapa negara Eropa mendukung hak kaum Muslim untuk memiliki menara, sedikit diragukan bahwa hal yang sama berlaku untuk seruan adzan.

“Kaum Muslim harus dapat mempraktikkan ajaran agamanya dan memiliki akses untuk membangun menara Masjid di Swiss. Namun seruan adzan tidak akan terdengar di sini,” ujar Merz dalam sebuah video yang ditayangkan secara nasional.

“Setiap agama memiliki arsitekturnya sendiri-sendiri, baik itu gereja, sinagog, maupun menara Masjid,” tambahnya.

“Dari situ saya dapat melihat ekspresi keragaman dalam masyarakat kita. Swiss menjamin kebebasan beragama. Kita hidup di dalam masyarakat yang multibudaya dan terbuka. Semua penganut agama, termasuk kaum Muslim, harus dapat mempraktikkan keyakinannya.”

Pemerintah berargumen bahwa hukum perencanaan yang ada telah cukup memastikan dipatuhinya peraturan bangunan lokal, sementara legislasi yang melarang suara ribut dapat membuat seruan adzan dihentikan. (rin/ie/sm) www.suaramedia.com

Artikel Terkait: