Rabu, 20 April 2011

Agar Kita Lebih Ridho Menerima Ujian

BANYAK di antara kita yang merasakan sebuah kehidupan yang tak nyaman. Ada yang merasa mirip hidup di sebuah rimba. Sebab, banyak kalangan yang lebih fasih jika berbicara dengan bahasa kekerasan. Banyak pihak yang lebih terampil berbahasa ‘kompetisi tanpa nurani’ di bidang ekonomi. Banyak pula yang lebih lihai ‘menghalalkan segala cara’ ketika berpolitik. Sementara, di level dunia, banyak negara yang lebih suka menggunakan moncong senjata sebagai ‘alat komunikasi’. Pendek kata, kita kerap merasa terasing justru di tengah keramaian, sehingga banyak yang lalu stres.


slam memberi solusi. Sejarah hidup Ibrahim AS dan Muhammad SAW membuktikan, bahwa syariat Allah sempurna mengatasi masalah. Ibrahim tegar meniti hidup. Dia ‘berseberangan’ agama dengan sang ayah. Dia berlawanan dengan Namrudz, sang raja yang zalim. Sementara, di keluarganya sendiri, tak kalah rumit problemanya. Ismail –sang putra yang lama ditunggu kehadirannya-, harus dia kurbankan. Kita lihat, Ibrahim tidak stres.

Perhatikanlah, sejarah hidup Muhammad SAW. Dia mampu membawa kaum yang musyrik, yang berekonomi ribawi, dan bergelimang kekerasan itu, keluar dari zaman gelap menuju peradaban yang mulia.

Adakah petunjuk, agar kita dapat meng-Ibrahim? Adakah pedoman, supaya kita bisa me-Muhammad? Maka, marilah kita buka Al-Qur’an. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS Al-Baqarah [2]: 2).

Sunnatullah, dan Terukur!


Siapa pun, akan diuji oleh Allah. Tujuannya, agar tersaring secara ‘alami’, siapa yang beriman sejati dan siapa yang ‘seolah-olah beriman’. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS Al-Ankabut [29]: 2-3).

Dalam konteks ujian, maka janganlah sekali-kali berburuk sangka kepada Allah. Pasti, Allah tak akan pernah menzalimi hamba-Nya. Dan, sekaitan dengan itu, pahamilah kemungkinan perbedaan perspektif kita dengan Allah dalam memandang satu persoalan. Boleh jadi, kita menganggap sesuatu itu baik untuk kita, padahal sebenarnya tak baik di depan Allah. Atau, sebaliknya. “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al-Baqarah [2]: 216).
Sekali lagi, selalulah berbaik-sangka terhadap Allah. Terlebih lagi, ketika Allah menguji kita, bobot ujian itu telah dikalkulasi Allah secara cermat, bahwa dosis ujian itu tak akan melampaui kemampuan yang dimiliki tiap-tiap orang. Bobot ujian itu sudah terukur, disesuaikan kemampuan seseorang. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al-Baqarah [2]: 286).

Oleh karena itu, jika kita ridha dengan (semua bentuk) ujian Allah, maka dalam posisi apapun kita akan tetap ‘hidup secara proporsional’. Dalam ber-Islam, kita menjadi pribadi yang berimbang. Jika sedang mendapat ujian berupa kenikmatan, kita bersyukur. Dan, jika sedang diuji dengan musibah (sesuatu yang tidak kita inginkan), kita bersabar. Janganlah kita tergolong sebagai orang yang disindir Allah, berikut ini: “Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus-asa” (QS Al-Israa’ [17]: 83).

Jika hidup kita sudah proporsional, berimbang antara bersyukur dan bersabar, maka tak patut kita berpenampilan sebagaimana orang yang tak punya pengharapan. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS Ali-‘Imran [3]: 139).

Jika atas izin Allah, kita bisa hidup berimbang dalam hal ‘memainkan’ bandul syukur-sabar itu, maka tetap pertahankanlah sikap terpuji itu. Pertama, jangan sampai kita menjadi manusia yang tak pandai berterima-kasih ketika mendapat nikmat. Kedua, janganlah menjadi manusia yang mudah putus asa jika sedang mendapat musibah.

Kembali Kepada Allah

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kita dalam menghadapi serbaneka persoalan hidup sehari-hari. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, serta tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung “(QS Ali-‘Imran [3]: 200).

Dengan menjadikan sabar dan shalat sebagai katalisator pemecah problema hidup, maka –pada saat yang sama- itu sesungguhnya sebuah dekalarasi terbuka kepada semua penduduk bumi, bahwa kita bersaksi: “Hasbunallah wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung) (QS Ali ‘Imran [3]: 173). "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung" (QS At-Taubah [9]: 129). Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong (QS Al-Anfaal [8]: 40).

Intinya, jika kita sedang menghadapi ujian (sebenarnya, ujian itu berlangsung sepanjang usia masing-masing orang), kembalikanlah semua urusan kepada Allah. “Dan, sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali)” (QS Al-Baqarah [2]: 155-156). [an Djaelani/hidayatullah.com]
Rep: Administrator

Artikel Terkait: