Senin, 18 April 2011

Aleppo dan Kisah Pemimpin yang Menyebalkan


Oleh: Alwi Alatas

DALAM sebuah hadith, Rasulullah saw menyebutkan, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian, dan kalian juga mendoakan mereka. Seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian” (HR. Muslim).

Setiap Muslim tentu mendambakan pemimpin yang baik. Tapi harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Itu juga yang rupanya yang tengah dirasakan oleh masyarakat di negeri-negeri Muslim sekarang ini, khususnya di negara-negara Arab dan Afrika Utara.

Pemimpin mereka tidak menyintai mereka dan tidak juga berbuat baik pada mereka. Maka mereka pun membenci para pemimpin tersebut. Kebencian itu kemudian meledak menjadi ‘revolusi’ yang menumbangkan rezim-rezim yang telah berpuluh tahun mengendalikan negeri mereka. Revolusi itu bermula di Tunisia, lalu berlanjut ke Mesir, dan merembet ke beberapa negara lainnya.

Negeri-negeri yang mengalami revolusi itu dikendalikan oleh pemimpin-pemimpin yang menyebalkan. Bukan hanya menyebalkan, para pemimpin ini juga telah banyak melakukan kezaliman terhadap rakyatnya, sehingga masyarakat menjadi muak dan marah. Maka ketika masyarakat mendapat kesempatan, terjadilah revolusi yang menumbangkan beberapa rezim yang berkuasa lebih dari dua dekade tersebut, seperti Zainul Abidin (Barat menyebutnya Zine El Abidine) Ben Ali di Tunisia dan Husni Mubarak di Mesir.

Sungguh dapat dimaklumi mengapa masyarakat merasa sebal dan marah terhadap para pemimpin tersebut. Para pemimpin ini banyak melakukan penyalahgunaan kekuasaan, cenderung memperkaya diri, dan terus berusaha melanggengkan kekuasaannya dengan berbagai cara. Istri Ben Ali bahkan dikabarkan membawa lari 1,5 ton emas dari Bank Sentral Tunisia saat melarikan diri ke Jeddah bersama suaminya.

Sementara Husni Mubarak disebut-sebut mengumpulkan kekayaan yang sangat besar selama menjadi pemimpin Mesir, sehingga ia layak dimasukkan dalam daftar orang-orang terkaya di dunia.

Saat masyarakat Mesir berdemonstrasi di Tahrir Square, Kairo, dan tempat-tempat lainnya, Mubarak tetap berusaha bertahan. Dalam salah satu pidato yang disiarkan oleh al-Jazeera dan media-media lainnya, ia menggambarkan betapa dirinya sebetulnya sudah merasa lelah memimpin negeri itu, tetapi ia khawatir kemundurannya akan menyebabkan kekacauan. Bagaimanapun, masyarakat Mesir merasa jauh lebih lelah dengan kepemimpinannya yang hampir mencapai 30 tahun. Mereka terus berdemonstrasi hingga Mubarak akhirnya bersedia untuk mundur. Kini, nasib yang sama juga sedang mengintai beberapa rezim lainnya, seperti Muammar Qadhafi di Libya dan Ali Abdullah Saleh di Yaman.

Pemimpin yang menyebalkan, dan zalim, tentunya bukan baru ada pada masa belakangan ini saja. Sejak masa-masa sebelumnya kaum Muslimin juga sudah pernah berinteraksi dengan pemimpin semacam ini.

Artikel ini ingin memberikan contoh yang pernah terjadi di penghujung abad ke-11 dan awal abad ke-12, yaitu pada masa terjadinya Perang Salib pertama. Ketika itu, tentara Salib yang dipimpin oleh Raymond of Saint-Gilles, Godfrey, dan Bohemond berhasil menaklukkan sebagian wilayah Suriah dan Palestina bukan karena mereka lebih kuat dari kaum Muslimin. Mereka berhasil karena kaum Muslimin ketika itu dalam keadaan bercerai berai dan pemimpin mereka memiliki sifat yang buruk.

Kasus Aleppo

Menjelang terjadinya Perang Salib I (1096-1099), wilayah Suriah dan Palestina terpecah-pecah menjadi wilayah-wilayah kecil yang diperintah secara terpisah dan berdiri sendiri. Masing-masing pemimpin wilayah tersebut lebih memikirkan cara untuk mempertahankan kekuasaannya sendiri daripada menjalin persatuan dalam menghadapi ancaman musuh dari luar. Aleppo dan Damaskus merupakan dua kota Muslim paling kuat dan paling menonjol di Suriah pada masa itu.

Selepas tahun 1095, kota Aleppo dipimpin oleh Ridwan bin Tutush (w. 1113), sementara Damaskus dipimpin oleh Duqaq bin Tutush (w. 1104). Keduanya berasal dari Bani Saljuk dan merupakan saudara kandung. Walaupun bersaudara, keduanya saling bermusuhan dan sama sekali tidak mau bekerja sama. Gubernur-gubernur pada kota-kota lainnya di Suriah masing-masing berafiliasi dengan Ridwan atau dengan Duqaq, atau memerintah secara independen.

Perseteruan di antara kedua kakak beradik ini digambarkan oleh Amin Malouf dalam bukunya The Crusades through Arab Eyes (Malouf, 1984: 22-23) ‘begitu keras sehingga tidak ada sesuatu pun, tak juga ancaman bersama terhadap keduanya, yang dapat membujuk mereka untuk mempertimbangkan rekonsiliasi.’

Permusuhan tersebut bukan tanpa sebab. Saat mengambil alih kekuasaan di Aleppo selepas kematian ayahnya pada tahun 1095, Ridwan membuat dua adiknya mati digantung. Hal ini ia lakukan karena khawatir mereka kelak akan menjadi pesaingnya sebagai penguasa. Adiknya yang lain, Duqaq, melarikan diri pada malam ia akan dibunuh. Duqaq melarikan diri ke Damaskus dan oleh para pengawal kota itu, ia diangkat sebagai penguasa di sana. Sejak saat itu, kedua penguasa itu memerintah kedua wilayah tersebut secara terpisah (Ibn al-Athir, 2002: 280-281).

Pada tahun-tahun awal kedatangan pasukan Salib, Ridwan ikut memerangi tentara Salib ini, terutama setelah jatuhnya kota Antioch ke tangan mereka. Kota Antioch terletak tak terlalu jauh dari Aleppo. Aleppo berperang melawan pasukan Salib secara terpisah dari Damaskus. Jika dalam koalisi pasukan Muslim ada pasukan Damaskus, maka pasukan Aleppo tidak akan menyertainya, demikian juga sebaliknya.

Pasukan Aleppo, sebagaimana pasukan-pasukan Muslim lainnya, hampir selalu kalah dalam menghadapi pasukan Salib, walaupun jumlah mereka biasanya lebih banyak. Hal ini disebabkan tidak adanya kepercayaan di antara mereka dan sikap saling mengkhianati satu sama lain.

Penduduk Aleppo pada masa itu sebagian besar menganut faham Syiah Ismailiyah. Selama masa kepemimpinan Ridwan, salah satu sekte pecahan Syiah Ismailiyah yang biasa disebut aliran Batiniyah atau Assassin berkembang sangat pesat di kota ini.

Pada awalnya, kelompok Batiniyah muncul di Irak menjelang terjadinya Perang Salib I, dan setelah itu menyebar ke wilayah Suriah. Mereka disebut Batiniyah karena menyembunyikan keyakinan dan sikap yang berbeda dengan apa yang mereka tampakkan secara zahir. Kelompok Batiniyah memiliki misi meruntuhkan Kekhalifahan Abbasiyyah dan Kesultanan Bani Saljuk yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan cara melakukan pembunuhan politik. Mereka melatih kader-kader yang dapat menyusup dan mendekati para pemimpin Muslim-Sunni di tempat-tempat umum untuk membunuh mereka dan menciptakan rasa takut di tengah-tengah mereka.

Pada masa pemerintahan Ridwan, kelompok Batiniyah menjadikan kota Aleppo sebagai basis kekuatan mereka. Hal ini disebabkan adanya dukungan Ridwan terhadap mereka. Ibn al-Qalanisi menyebutkan bahwa Ridwan sendiri merupakan penganut Batiniyah dan ia merupakan penguasa Muslim pertama di Aleppo dan Suriah yang menganut faham tersebut.

Pada tahun 1103, penguasa Homs, Jannah al-Dawla dibunuh oleh orang-orang Batiniyah. Ketika itu ia dan para pengawalnya sedang berada di dalam masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Tak jauh dari tempatnya duduk ada tiga orang Persia dan seorang shaikhnya yang berpakaian seperti para sufi. Lalu tiba-tiba sheikh tersebut memberi isyarat dan ketiga orang tadi segera menyerang Jannah al-Dawla dan beberapa pengawalnya hingga mati terbunuh. Para pengawal yang lain segera membunuh orang-orang Batiniyah ini.

Selain itu mereka juga membunuh sepuluh orang berpakaian sufi lainnya yang ada di dalam masjid karena dicurigai terlibat dalam kejahatan tersebut, walaupun sebetulnya mereka tidak memiliki kaitan dengan pembunuhan itu. Penduduk kota Homs segera meminta perlindungan Damaskus selepas kejadian tersebut. Ridwan disebut-sebut sebagai orang yang berada di belakang pembunuhan ini dengan memanfaatkan orang-orang Batiniyah (Ibn al-Qalanisi, 1980: 57-58).

Walaupun tidak segan bermusuhan dan menghabisi saingan politiknya dari kalangan Muslim, Ridwan cenderung bersikap lunak terhadap pasukan Salib yang menguasai beberapa wilayah Suriah. Merasa terganggu dengan keberadaan pasukan Salib di Antioch yang sering menyerang wilayahnya, Ridwan berusaha membangun hubungan damai dengan mereka. Merasa berada di atas angin, pemimpin Salib di Antioch memberi syarat bagi permohonan damai tersebut. Mereka menuntut Ridwan meletakkan sebuah Salib besar di pucuk menara masjid besar kota Aleppo.

Ridwan menyetujui permintaan ini dan meletakkan Salib tersebut di puncak menara masjid (Maalouf, 1984: 68). Tentu saja hal ini menimbulkan kemarahan penduduk Aleppo. Mereka memprotes hal itu sehingga Ridwan terpaksa memindahkan Salib besar itu dari menara masjid ke sebuah gereja.

Pada tahun 1111, Ridwan kembali menjalin perdamaian dengan orang-orang Kristen (kekuatan Salib). Sebagai syarat perdamaian, ia setuju untuk membayar upeti tahunan sebesar 32.000 dinar serta beberapa upeti lainnya kepada para pemimpin Salib. Ridwan bukan satu-satunya pemimpin Muslim yang melakukan hal ini.

Pemimpin Tyre, Shayzar, dan Hamah juga melakukan hal yang sama, walaupun mereka membayar upeti yang jauh lebih kecil. Ibn al-Athir menjelaskan bahwa ‘rasa takut kaum Muslimin terhadap mereka (kaum Salib, pen.) sangat besar dan hati mereka naik ke kerongkongan, (mereka merasa) yakin bahwa orang-orang Frank (kekuatan Salib Eropa, pen.) akan mampu menguasai seluruh wilayah Suriah karena tidak ada seorang pun yang melindungi dan mempertahankannya’ (Ibn al-Athir, 2006: 154). Para pemimpin Muslim di Suriah dan wilayah-wilayah lainnya ketika itu hanya memikirkan kekuasaan mereka saja dan tidak berusaha sungguh-sungguh untuk memberi keamanan bagi masyarakat Muslim serta wilayah yang mereka pimpin.

Karena merasa kehilangan harapan terhadap para pemimpin di Suriah, sekelompok ulama dan tokoh Aleppo berangkat ke Baghdad. Mereka meminta bantuan Khalifah dan Sultan Bani Saljuk untuk mengusir pasukan Salib dari Suriah dan Palestina. Sultan Bani Saljuk kemudian menjawab secara positif permintaan ini. Ia memerintahkan bawahannya di Mosul, Irak, untuk menyiapkan pasukan dan berangkat ke Suriah. Namun, ketika pasukan sultan tiba di Aleppo, Ridwan memerintahkan penutupan gerbang kota itu dan tidak mau menerima pasukan tersebut, walaupun pasukan itu sebetulnya hendak membantu Aleppo dan wilayah

Muslim lainnya dalam menghadapi pasukan Salib (Ibn al-Athir, 2006: 154-156).
Beberapa tahun kemudian pasukan sultan yang baru di bawah pimpinan Mawdud menjadikan Damaskus sebagai basis pasukan Muslim. Damaskus ketika itu dipimpin oleh Tughtagin, menggantikan Duqaq yang telah meninggal dunia pada tahun 1104.

Tapi pada tahun 1113, Mawdud dibunuh oleh seorang penganut Batiniyah di depan masjid besar Damaskus setelah melaksanakan shalat Jum’at (Ibn al-Qalanisi, 1980: 139-141). Tughtagin melemparkan tuduhan kepada Ridwan sebagai orang yang berada di belakang pembunuhan tersebut. Namun, beberapa sejarawan menduga Tughtagin sendirilah yang telah menyewa kaum Batiniyah untuk melakukan pembunuhan tersebut (Ibn al-Athir, 2006: 162-163).

Sebenarnya, para pemimpin di Suriah merasa khawatir jika pasukan sultan berhasil mengalahkan pasukan Salib, maka Sultan Bani Saljuk akan memiliki pengaruh lebih besar di Suriah dan pada akhirnya mengganggu kedudukan mereka. Mereka lebih suka membiarkan kekuatan Salib tetap bercokol di Suriah dan Palestina asalkan mereka sendiri tetap dapat mempertahankan kekuasaannya. Mereka kadang membangun kerjasama dengan sebagian kekuatan Salib dalam menghadapi saudara Muslim mereka sendiri. Hal ini juga dilakukan oleh Ridwan. Ridwan pernah menyurati Tancred, penguasa Salib di Antioch, mengajaknya bekerja sama dalam menghadapi penguasa kota Mosul, Jawali Saqao, yang dianggapnya sebagai musuh dan ancaman bagi kekuasaannya, walaupun Jawali merupakan seorang Muslim.

Mengutip Ibn al-‘Adim. Carole Hillenbrand dalam bukunya Perang Salib menyebutkan bahwa ‘elite politik Aleppo mendukung keberadaan kaum Frank di Suriah secara terus menerus, karena itu membantu mereka untuk mempertahankan status kemerdekaan kota mereka’ (Hillenbrand, 2006: 108-109).

Ridwan tentu saja bukan satu-satunya pemimpin yang buruk di dunia Islam pada masa itu. Banyak pemimpin ketika itu memiliki perilaku yang hampir sama. Mereka mendahulukan kepentingan pribadinya di atas kepentingan masyarakat yang mereka pimpin. Perilaku mereka ini memberi keuntungan bagi musuh dan memungkinkan mereka menguasai sebagian wilayah Muslim. Hal itu bagi mereka tidak menjadi masalah asalkan mereka tetap dapat berkuasa. Sebagian dari pemimpin ini memang dapat mempertahankan kekuasaan hingga akhir hayat mereka.

Namun, keadaan mereka seperti yang digambarkan dalam hadith pada awal artikel ini, yaitu ”pemimpin ... yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian.” Sementara sebagian pemimpin lainnya jatuh di tengah masa kepemimpinannya dalam keadaan terhina dan wilayah mereka jatuh ke tangan musuh.

Bagaimanapun, keadaan seperti itu tidak berlangsung terus menerus. Kaum Muslimin dan para ulama dapat merespons keadaan ini dengan baik. Sebagai buahnya, beberapa dekade kemudian muncul kepemimpinan yang baik di tengah-tengah mereka, yaitu Nur al-Din Zanki (w. 1174) dan Shalah al-Din al-Ayyubi (w. 1193). Kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan secara bertahap mereka dapat mengusir kekuatan Salib dari negeri mereka.

Sejarah memang sering berulang. Lalu apakah kaum Muslimin dan para ulama akan dapat merespons keadaan yang mereka hadapi hari ini dengan baik? Semoga saja.*/Kuala Lumpur, 3 Jumadil Awwal 1432/6 April 2011

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

Ilustasi: Tentara Salib dipimpin oleh Raymond of Saint-Gilles, Godfrey, dan Bohemond menaklukkan sebagian wilayah Suriah dan Palestina



Daftar Pustaka

Hillenbrand, Carole. Perang Salib: Sudut Pandang Islam (terjemahan dari The Crusade; Islamic Perspective oleh Heryadi). Jakarta: Serambi. 2006.
Ibn al-Athir. The Chronicle of Ibn al-Athīr for the Crusading Period from al-Kāmil fi’l-ta’rīkh,
part 1, The Years 491-541/ 1097-1146, The Coming of the Franks and the Muslim
Response (terjemahan oleh D.S. Richards). Aldershot: Ashgate. 2006.
Ibn al-Athir. The Annals of the Saljuq Turks: Selection from al-Kāmil fi’l-Ta’rīkh of ‘Izz al-Din Ibn al-Athir (terjemahan oleh D.S. Richards). London: Routledge Curzon. 2002.
Ibn al-Qalanisi. The Damascus Chronicle of the Crusades (translated by H.A.R. Gibb). London: Luzac & Co. 1980.
Maalouf, Amin. The Crusades through Arab Eyes. London: al-Saqi Books. 1984.

Artikel Terkait: