Rabu, 20 April 2011

Raihlah Kebahagiaan Hakiki, bukan Kebahagiaan Semu

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." (al-Baqarah: 1/201).

Di manakah kebahagiaan itu…?, barangkali pertanyaan ini akan direspon berbeda banyak orang. Cendekiawan dan sastrawan mungkin menjawabnya berbeda dengan agamawan atau hartawan.

Para pelukis merasakan rasa kebahagiaan tatkala bisa menyalurkan perasaannya secara bebas di atas kanvas. Seorang penyair akan mengaku ada rasa bahagia jika bisa melahirkan bait-bait puisi yang menyentuh kalbu. Hatta orang awam sekalipun, mereka akan memiliki definisi masing-masing dan ukuran yang berbeda pula.

Will Durant, penulis The Story of Civilization, mencoba menjawab pertanyaan di atas dengan mengunjungi perpustakaan–perpustakaan dunia. Dengan tekun ia menelaah tulisan para filosuf dan orang-orang bijak. Bertahun-tahun ia tidak menemukan di mana kebahagiaan itu, sampai ia menyaksikan peristiwa yang sangat menggetarkan hatinya.

Kala itu ia baru saja kembali dari perjalanan jauh. Di seberang jalan ia melihat seorang perempuan sedang melambaikan tangan sambil medekap bayinya. Seorang laki-laki berteriak, menyeruak di tengah orang banyak, dan melesat menyeberangi jalan. Ia sama sekali tidak menghiraukan lalu lintas yang padat. Ia tidak mendengar bunyi klakson mobil yang memperingatkannya. Ia lari menuju perempuan itu. Mula-mula ia mengecup isterinya, kemudian memeluk dan mencium bayi merah itu. Pada wajah sepasang suami-isteri itu, Will Durant melihat ekspresi indah yang tidak terlukiskan. “Skarang aku menemukan di mana letak kebahagiaan itu!”, ujar Durant. (Rakhmat:117).

Dalam film The Pursuit of Heppyness, seorang Christopher P. Gardner melukiskan kebahagiannya dengan meneteskan air mata saat ia diterima bekerja sebagai Brokerage Firm. Bagaimana ia berusaha terlepas dari himpitan kemiskinannya, tak mampu bayar kontrak rumahnya, pernah tidur bersama anaknya di WC umum, bahkan ia harus rela ditinggalkan sang isteri tercinta. Mendapatkan pekerjaan tetap adalah sebuah impiannya bahkan pada akhirnya ia menjadi millioner. Seorang pelajar akan merasa bahagia saat ia lulus ujian.

Bagi para petualang yang tersesat di hutan belantara, mereka akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat menemukan jalan keluar untuk pulang.

Dalam contoh di atas, Will Durant menemukan kebahagiaan itu terletak pada cinta atau kasih sayang yang dipertemukan. Pertemuan dua hati yang saling mencintai. Christopher P. Gardner menemukan kebahagiaannya karena tercapainya impian untuk bekerja dan menjadi orang kaya. Orang yang tersesat akan merasa bahagia saat menemukan petunjuk. Orang yang berpuasa akan merasa bahagia saat berbuka puasa, karena naluriyah orang yang sedang lapar adalah makan. Dan lain sebagainya.

Secara umum, kebahagiaan itu terletak pada kepuasan, kedamaian, ketenteraman, dan ketenangan hati. Hal ini disebabkan karena tercapainya apa yang kita harapkan, atau kita dipertemukan dengan apa yang kita impikan.

Yang Semu dan Hakiki

Ketika Will Durant menemukan kebahagiaan pada pertemuan sosok suami-isteri, maka sesungguhnya, ia hanya kebahagiaan yang bersifat sementara.

Benarkah setelah pertemuan itu mereka akan selalu bahagia?. Benarkah Kebahagiaan seorang Christopher P. Gardner saat menerima pekerjaan akan tetap berlanjut saat ia sudah bekerja?. Bagaimana jika setelah itu dia mendapat cobaan lain? Maka tentu semua jawabannya adalah “tidak”. Kebahagiaan semu seringkali hadir hanya saat kita mendapatkan yang kita inginkan, selebihnya malah seringkali membawa penderitaan. Maka sungguh meruginya orang yang tujuan hidupnya hanya untuk kebahagiaan dunia, yang sifatnya sementara.

Sebaliknya, lawan dari kebahagiaan semu adalah kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan yang tidak hanya bersifat duniawi, namun lebih kepada yang bersifat ukhrowi. Sebagaimana doa yang sering kita baca, yang dikenal dengan sebuatan doa sapujagad, “Rabbana Aatina Fiddun-ya Hasanah Wa fil-Akhirati Hasanah Wa Qina Adzaban-Nar”.

Untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki, al-Qur’an memberikan syarat-syaratnya yaitu;

Pertama, iman. Buah dari iman seseorang, adalah syurga yang di dalamnya ada sungai-sungai kekal yang mengalir, sebagai hadiah dari Allah.

Sebagaimana firman Allah :

“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak akan berdukacita. yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi merekalah kegembiraan dalam kehidupan dunia dan akhirat; tidak ada perubahan bagi janji Allah itulah kebahagiaan yang besar.” (Yunus: 62-64)

“Allah telah berjanji kepada orang mukmin laki-laki dan perempuan akan menganugerahi mereka syurga yang mengalir padanya sungai-sungai, kekal di dalamnya dan tempat-tempat yang baik dalam syurga yang kekal, sedang keridhaan dari Allah adalah lebih besar. Yang demikian itu suatu kebahagiaan yang besar.” (At-Taubah: 72)

Kedua, amal sholeh. Buah dari amal sholeh yang kita perbuat, kelak akan diberikan imbalan Allah sebuah kehidupan yang baik (bahagia) melebihi apa yang kita kerjakan.

Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an :

“Barang siapa beramal sholeh sama ada lelaki dan wanita sedang dia mukmin, maka Kami akan hidupkan dia dengan kehidupan yang baik (bahagia) dan Kami akan tunaikan kepada mereka dengan ganjaran mereka yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

“Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, adalah kebahagiaan bagi mereka dan tempat kembali yang baik.” (Ar-Ra’d: 29)

Ketiga, saling berpesan menjalankan kebenaran. Akibat kebiasaan mengajak/berpesan dalam kebaikan, akan diganjar Allah SWT kebaikan (kebahagiaan) hakiki.

Allah berfirman dalam kitabnya :

“Hendaklah ada dari antara kamu satu golongan yang mengajak manusia kepada kebaikan, menyuruh mereka membuat kebaikan dan melarang mereka dari kejahatan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kejayaan (berbahagia).” (Ali-Imran: 104)

Keempat, saling berpesan menjalankan kesabaran.

Disebutkan dalam al-Qur’an :

“Semoga keselamatan atas kamu lantaran kesabaran kamu. Betapa baiknya balasan akhirat.” (Ar-Ra’d: 24)

Insya’alah dengan menjadi manusia yang memenuhi empat syarat di atas, kita akan menemukan kebahagiaan hakiki, kebahagiaan yang sebenarnya, tidak fana, tidak semu, dan menjadi hamba yang dicintai Allah.

Agar tidak menjadi orang yang merugi, Allah berpesan dalam al-Qur’an Surat Al Ashr:

“Demi masa! Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Saling berpesan-pesan pada (menjalankan) kebenaran, dan saling berpesan-pesan menjalani kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3). Wallahu a’lam…

Penulis adalah Mahasiswa International Islamic University Malaysia Program Ushul Fiqh. Email: wafimuhaimin@yahoo.com

Artikel Terkait: