Sabtu, 30 April 2011

Wikileaks: Al-Qaida akan Ciptakan "Neraka Nuklir" Jika Bin Ladin Tertangkap

Wikileaks baru-baru ini kembali merilis dokumen rahasia milik militer AS yang berisi informasi sensitif tentang ratusan "teroris", termasuk sejumlah komandan Al-Qaeda yang menurut dokumen tersebut berhasil ditangkap dan ditahan di kamp penjara di kamp Guantanamo, Kuba.

Beberapa isi dokumen yang langsung menjadi santapan media internasional sebenarnya bukan berita baru. Tapi ada beberapa isi dokumen yang menarik, yang tentu saja harus dianalisa secara kritis, mengingat dokumen-dokumen yang dipublikasikan Wikileaks soal "teroris" Al-Qaida dan para tahanan di kamp Guantanamo adalah dokumen militer AS, yang tentu saja dibuat berdasarkan klaim dari pihak militer AS. Termasuk peristiwa serangan 11 September 2001, yang masih menjadi teka-teki dan banyak analis yang meragukan bahwa pelaku teror itu adalah Al-Qaida.

Salah satu isi dokumen yang menarik untuk dicermati adalah dokumen yang mengungkap situasi di seputar peristiwa serangan 11 September 2011. Menurut dokumen rahasia militer AS yang dipublikasikan Wikileaks, para komandan senior Al-Qaida berkumpul di sebuah lokasi persembunyian di Karachi, Pakistan untuk menyaksikan serangan 11 September lewat televisi. Begitu pula beberapa tokoh yang kemudian dituduh sebagai dalang serangan teror itu dan dalang sejumlah aksi serangan bom lainnya.

Khalid Syeikh Mohammed misalnya, yang akhirnya tertangkap dan mengaku sebagai otak dibalik serangan 11 September, pada saat peristiwa itu terjadi, ikut menyaksikan siaran tentang aksi teror tersebut di televisi bersama beberapa tokoh kunci serangan itu, dari sebuah tempat di New York dan Washington.

Riduan Isamuddin, yang diduga salah satu otak teror bom Bali tahun 2002, menurut dokumen yang dipublikasikan Wikileaks, pada saat itu sedang belanja peralatan laboratorium untuk keperluan membuat senjata biologi.

Tokoh lainnya, Abdul Rahim Nashiri, lelaki yang dituduh terlibat dalam serangan bom ke kapal induk AS USS Cole, disebutkan baru pulih dari operasi amandel.

Dalam dokumen militer AS yang dipublikasikan Wikileaks disebutkan, dalam satu hari itu, sejumlah tokoh penting Al-Qaida yang baru saja menyaksikan serangan teror 9/11 dari berbagai tempat, kembali pulang ke Afghanistan dan merencanakan sebuah perang panjang.

Wikileaks juga memublikasikan dokumen yang berisi pengakuan Syaikh Mohammed pada para interogator AS. Menurut isi dokumen tersebut, Mohammed mengatakan bahwa kelompok ekstrimis akan menciptakan "neraka" dengan melakukan serangan senjata nuklir, jika pemimpin Al-Qaida, Usamah bin Ladin tertangkah atau terbunuh. Senjata nuklir itu saat ini disembunyikan di sebuah tempat di Eropa. Pengakuan Syaikh Mohammed ini memicu kekhawatiran AS bahwa kelompok ekstrimis sudah memiliki bahan uranium, untuk membuat bom nuklir.

Pada tim interogator AS, Syaikh Mohammed juga mengaku bahwa Al-Qaida berusaha merekrut pekerja bagian lapangan di bandara Heathrow untuk membantu rencana Al-Qaida melakukan serangan ke bandara tersibuk di dunia itu. Rencana teror lainnya yang akan dilakukan Al-Qaida menurut dokumen yang dibocorkan Wikileaks, adalah menyebarkan racun sianida lewat perangkat pendingin udara di gedung-gedung publik di seluruh AS.

Selain Inggris dan Amerika, Al-Qaida juga akan melakukan serangan teror ke kawasan Asia dan Afrika serta kepentingan-kepentingan AS di seluruh dunia. Tujuan serangan teror itu, menurut dokumen militer AS, untuk membuat warga AS menderita, khususnya di sektor perekonomian, serta menekan pemerintah AS agar mengubah kebijakan-kebijakannya.

Dari dokumen-dokumen militer AS yang dipublikasikan Wikileaks, juga diketahui bahwa dari 220 tahanan kamp Guantanamo yang oleh AS dinilai sebagai "teroris internasional" yang berbahaya, 150 diantaranya tidak bersalah alias tidak punya kaitan apapun dengan kegiatan dan kelompok teroris seperti yang dituduhkan AS.

Dokumen-dokumen itu menunjukkan bahwa diantara para tahanan kamp Guantanamo yang dituduh teroris, ternyata hanya seorang petani, pekerja sosial atau sopir. Mereka ditangkap dengan semata-mata karena mengenakan jam tangan Casio model tahun 1980-an, yang oleh AS disebut-sebut kerap digunakan sebagai pengatur waktu dalam berbagai serangan teror bom. (ln/DM)

Artikel Terkait: