Rabu, 20 April 2011

Sai Baba dan Teologi Kabbalah

Terlepas akan hal itu, Sai Baba kini telah datang dengan ajaran yang sangat kental akan warna teologi Yahudi. Ia menjadi perpanjangan tangan dari Zionisme Internasional dalam menancapkan pemahaman kabbalah kepada seluruh manusia demi membentuk New World Order.

Biara tempat ia dipuja dipenuhi dengan lambang bintang david dan simbol zionisme lainnya. Baba pun menyampurkan agama-agama yang ada seperti semangat perenialisme Rene Geuneon dan Fritjof Schuon, dua teosof yang katanya masuk Islam namun tidak lain anggota Secret Societies Perancis.

Warna Kabalah juga kuat dalam ajaran Sai Baba. Ia tidak mengakui adanya Tuhan yang satu. Ketika ia menyadari -termasuk para pengikutnya seperti Anand Khrisna- bahwa ajarannya berkiblat ke theosofi, ia memiliki cara untuk menutupi hal itu.

Awalnya Sai Baba berkelit bahwa ajaran yang disebarkannya tidak lain adalah konsep pelatihan yoga. Ia juga banyak terlibat kepada kegiatan sosial- kemasyarakatan untuk membuktikan ajarannya “ramah” terhadap akidah. Mereka mendirikan sekolah gratis, rumah sakit, dan santunan kemiskinan bagi rakyat India dan Negara lainnya.

Sebagai contoh, pada tahun 1977 di India dibuka “The Sri Sathya Sai General Hospital” di Whitefield, Bangalore, yang menyediakan operasi yang kompleks, makanan dan obat-obatan bebas biaya. Rumah sakit itu telah merawat lebih dari 2 juta pasien.

Sri Sathya Sai Central Trust juga mendirikan beberapa rumah sakit umum, dua rumah sakit khusus, rumah sakit mata, apotek dan menyelenggarakan kamp medis di pedesaan dan daerah kumuh di India.

Maka tak heran banyak orang tertipu dengan jargon amaliyah Sai Baba. Tercatat, pada tahun 1999, Sai Baba diperkirakan memiliki pengikut tak kurang dari enam juta orang.

Namun jika kita teliti mendalam, hakikat sesunguhnya dari ajaran Sai Baba adalah paham teologi Yahudi yaitu teosofi. Konsep ketuhanan Sai Baba adalah non tuhan dan ini merupakan konsep abadi ketuhanan Yahudi dimana mereka sendiri yang mendaulat diri menjadi Tuhan layaknya humanisme modern saat ini. Itulah mengapa pada akhir ritual para pengikut Sai Baba sering menyebut kata-kata "Panggillah aku dengan nama Tuhanmu".

Konsekuensi logis akan hal ini adalah bahwa agama tidak lagi menjadi penting. Permurtadan tidak lagi divonis dosa, sekalipun baginya tidak perlu lagi berpindah agama karena bagi Sai Baba; "There is only one religion, the religion of love, there is only one language, the language of the heart, there is only one caste, the caste of humanity, there is only one God, He is omnipresent".

Momentum ajaran Sai Baba semakin menjalar ke seluruh India karena tidak lain semangat akan mistisme Hindu yang serupa dengan Yahudi. Ideologi penyatuan diri antara zat tuhan dengan makhluknya (emanasi), semua agama sama benarnya (perenialisme teosofis), paham reinkarnasi, dan konsep penyatuan diri dengan alam (platonik) adalah ciri khusus dari pria yang konon lahir dengan tidak menangis ini.

Selain itu, ajaran Sai Baba juga menggiring manusia untuk menerima doktrin-doktrin Yahudi yang tertuang dalam protokolnya. Paham iluminasi dan ideologi masoniknya yang meyakini manusia adalah tuhan sebenarnya akan sangat mudah diterima jika seseorang telah tersesat akidahnya dan membenarkan ajaran Sai Baba. Dan ujung dari semua itu adalah dukungan penuh serta penerimaan total terhadap Zionisme.

Artikel Terkait: