Minggu, 24 April 2011

Catur dan Stargate Project (2)

Secara resmi Ingo Swann pun menjadi obyek penelitian bagi Profesor Targ dan Puthoff. Dalam berbagai uji coba yang dilakukan, dengan berbagai metode dan alat yang tidak biasa di sejumlah laboratorium yang dirahasiakan, didapati hasil jika kemampuan Ingo Swann ternyata memang ternyata luar biasa. Dengan kekuatan pikirannya, orang ini mampu melakukan remote viewing (melihat dari jarak jauh) yang tidak dimiliki oleh orang-orang istimewa lainnya. Hanya dengan tiduran di kamar laboratorium, Ingo Swann mampu ‘melihat’ di balik dinding planet Jupiter dan mendeskripsikan dengan akurasi yang tinggi sifat kimia dan fisik planet tersebut.

Selama bertahun-tahun belum ada orang yang kemampuannya menandingi Ingo Swann sehingga dirinya didapuk menjadi “Bapak Remote Viewing”.

Stargate Project sesungguhnya merupakan sebuah nama, the umbrella code name, bagi sejumlah penelitian militer yang dilakukan pemerintahan AS terkait dengan kemampuan supranatural namun tidak tertutup kemungkinan juga nantinya digunakan dalam bidang-bidang di luar militer. Proyek Stargate melingkupi penelitian tentang Remote Viewing (kemampuan melihat dari jarak jauh, atau mendapatkan sesuatu informasi tertentu dari jarak jauh tanpa harus berada di lokasi), Precognition (meramalkan suatu peristiwa yang akan terjadi di masa datang), dan juga Telekinesis (kemampuan untuk memindahkan sebuah obyek tanpa harus menyentuhnya).

Secara resmi, Washington mengatakan jika proyek ini dimulai pada tahun 1970 dan diakhiri pada tahun 1995-an. Tentu saja, keterangan Washington sulit dipercaya karena dari fakta yang ada, proyek sejenis sudah ditemukan di era sebelum Perang Dunia II meletus.

Misalnya saja, pada tahun 1939-1940, University of Chicago menjadi tuan rumah serangkaian seminar rahasia dalam hal pengendalian pikiran dan komunikasi. Seminar ini didanai Rockefeller Foundation dan melibatkan sejumlah peneliti paling menonjol di bidang komunikasi dan studi sosiologis. Salah satu sarjananya adalah Harold Lasswell, seorang ilmuwan politik terkemuka Amerika dan teori komunikasi, yang mengkhususkan diri dalam analisis propaganda. Ia juga berpendapat bahwa demokrasi, pemerintahan yang diperintah oleh rakyat, tidak bisa mempertahankan dirinya sendiri tanpa adanya suatu hegemoni elit khusus yang membentuk opini publik melalui propaganda.

Dalam buku Encyclopaedia of the Social Sciences, Lasswell menjelaskan jika elit ingin mengontrol dan memaksakan ketaatan dari masyarakat, maka mereka harus menggunakan “teknik kontrol baru, terutama melalui propaganda.”

Bagi orang kebanyakan, proyek ini jelas terkesan mengada-ada. Apalagi lewat jaringan media massa yang dimilikinya, Washington menyatakan hal ini hanya rekaan orang-orang yang paranoid dan gandrung pada teori konspirasi. Di sisi lain, mereka juga membuat artikel-artikel yang dengan gaya hiperbolik dan menyatakan jika Proyek Stargate memang benar adanya dan didukung oleh jutaan paranormal dan dana yang tidak terbatas. Mereka yang kritis tentu tidak mempercayai informasi yang sedemikian berlebihan ini. Dan ujung-ujungnya sama, masyarakat menjadi tidak percaya dengan hal ini.

Sepanjang sejarahnya, elit Yahudi memang senantiasa bermain di kedua belah sisi, di satu sisi mereka terlihat anti namun di sisi lain mereka sangat pro, bahkan sengaja dibuat konyol dan terlalu berlebihan. Semua ini dilakukan mereka dalam rangka mengamankan fakta-fakta yang sebenarnya.

Kisah-kisah tentang Stargate Project, seperti halnya MK Ultra dan HAARP, sampai saat ini masih banyak diliputi misteri. Seperti proyek rahasia lainnya, walau banyak serpihan yang bisa dirangkai menjadi satu gambaran yang mendekati utuh, namun untuk mendapati satu gambaran yang sungguh-sunguh sempurna, memang teramat sulit.

Stargate Project oleh para peneliti dimasukkan ke dalam bidang mind controlling project, proyek pengendalian pikiran, yang mencakup banyak hal. Kita bisa mencari banyak artikel mengenai hal ini di internet dimana akan kita temukan hubungan antara pengendalian pikiran dengan film (film kartun hingga film dewasa), musik (antara lain lewat menyisipkan pesan tersembunyi di dalam lagu atau pidato lewat teknik backmasking), televisi, buku dan majalah, iklan produk dalam rentang yang luas, dan sebagainya. Teknik ini dipakai sejak lama dan terus dikembangkan hingga sekarang, dalam lapangan sipil maupum militer. [tamat/rizki]

Artikel Terkait: