Sabtu, 30 April 2011

Sejarawan UI: Mbah Priok Bukan Seorang Dai

Sejarawan Universitas Indonesia (UI), JJ Rizal menyangsikan bila Hasan bin Muhammad Al-Hadad atau populer disebut Mbah Priok adalah seorang juru dakwah, seperti yang dianggap sebagian kalangan masyarakat.

“Mbah Priok sebagai pedagang. Mbah Priok bekerja di sebuah kapal yang melayari antara Palembang dan Bangka Belitung,” jelas Rizal seusai mengisi "Seminar Tradisi Ziarah dalam Masyarakat Indonesia" di Auditorium Syahida Inn Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Kamis (28/4) siang.

Rizal mengungkapkan pada tahun1927 Mbah Priok berlayar ke Jakarta. Kedatangannya ke Jakarta adalah untuk berziarah ke makam kramat Luar Batang. Tetapi, kata Rizal, sebelum kapal yang ditumpanginya melepas jangkar di Tanjung Priok, Mbah Priok meninggal dunia.

“Kapal yang ia tumpangi mendarat di pelabuhan Tanjung Priok, bukan di pasar ikan. Kalau pun dibilang Mbah Priok merupakan asal usul dari penamaan Tanjung Priok , fakta sejarah membuktikan itu suatu hal yang mustahil. Pada 1880-an itu pembangunan Tanjung Priok sebagai pelabuhan sudah dilakukan. Dan namanya sudah Tanjung Priok,” ungkapnya.

Mbah Priok kemudian dimakamkan di TPU Pondok Dayung. Setelah itu dipindahkan ke TPU Dobo. Dan pada 21 Agustus 1997 dipindahkan ke TPU Semper. Kemudian, oleh ahli waris nisan Mbah Priok yang berada di TPU dipindahkan kembali ke lahan eks TPU Dobo. Eks TPU Dobo itu direncanakan untuk terminal peti kemas.

Lalu bagaimana dengan ggapan masyarakat bahwa makam Mbah Priok merupakan makam yang kramat? Rizal menjelaskan peristiwa bentrokan 14 April 2010 memilik andil besar mengangkat pamor Mbah Priok.” Setelah peristiwa itu Mbah Priok yang awalnya sebagai tokoh biasa menjelma sebagai tokoh kramat. Jadi orang biasa menjadi orang kramat,” katanya.

Padahal, lanjut Rizal, nama Mbah Priok sama tidak ada dalam peta sejarah ulama-ulama yang berperan besar dalam pengembangan dakwah Islam di tanah Betawi.

Menurut Rizal mitos makam kramat Mbah Priok ini memang sengaja diciptakan. “Nah, ini penyimpangan-penyimpangan historis yang sengaja dibuat, direkayasa sedemikian rupa. Ini kebohongan publik yang banyak menipu dan menyesatkan pandangan masyarakat tentang ketokohan orang yang disebut Mbah Priok itu,” kata Rizal.

Lebih lanjut Rizal memberikan bukti otentik yang terdapat dalam peta tempat-tempat suci di Batavia terbitan tahun 1823. Dalam peta itu tidak disebut makam Mbag Priok. Kemudian empat tahun kemudian, pada terbitan kedua juga tidak disebut makam Mbah Priok.

“Jadi, makam Mbah Priok itu bukan makam suci yang memang historis dan terkenal di Batavia. Bukan makam yan dianggap masyarakat memiliki karomah,” tandasnya.

Sementara, terkait ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta bekerjasama dengan Madani Institute telah menerbitkan sebuah buku yang berjudul, “Kasus “Mbah Priok”: Studi Bayani wa Tahqiq Terhadap Masalah Makam Eks TPU Dobo”. Dalam buku setebal 174 halaman itu terungkap fakta-fakta baru tentang Mbah Priok. Salah satunya seperti yang disebutkan olah JJ Rizal, yakni MUI lebih melihat almarhum Mbah Priok sebagai pelaut Palembang yang shaleh daripada sebagai dai yang menyebarkan Islam di tanah Betawi.


Artikel Terkait: