Senin, 18 April 2011

Panjang Angan-angan

Adam a.s. berwasiat kepada anaknya Syits dan diperintahkannya agar wasiat itu disampaikan kepada anak-anaknya sesudah itu. Wasiat itu ada lima hal. Pertama Adam berkata:

Katakan kepada putera-puteramu, janganlah kalian terpaut kepada dunia. Sesungguhnya aku di Syurga terpaut dengan yang tidak seberapa, kemudian Allah mengeluarkanku darinya. Kedua, katakan kepada mereka, janganlah kalian turuti kehendak isterimu, sesungguhnya aku telah menuruti kehendak isteriku dan aku makan syajarah, namun akhirnya aku menemukan penyesalan. Ketiga, katakan kepada mereka, jika hendak berbuat fikirkanlah apa akibatnya. Kalaulah aku fikirkan akibatnya tentulah aku tidak menerima nasib ini. Keempat, jika hatimu terpaut oleh sesuatu tinggalkan saja ia. Sesungguhnya ketika aku makan syajarah, hatiku amat terpaut padanya, namun aku tidak kembali sehingga akan ditimpa penyesalan. Dan kelima, bermesyuaratlah dalam segala urusan. Jika aku bermesyuarat dengan para Malaikat, tentulah nasib seperti ini tidak akan menimpaku."

Al-Mujahid berkata, "Abdullah bin Umar berkata kepadaku: Di waktu pagi janganlah kau bicara pada dirimu tentang waktu petang hari dan jika waktu petang hari jangan pula bicara pada dirimu tentang waktu pagi. Gunakan hidupmu sebelum matimu! Serta sihatmu sebelum sakitmu. Engkau tidak tahu apa yang menimpa esok!"

Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya, "Adakah setiap kamu ingin masuk Syurga?" Mereka menjawab, "Ya." Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Pendekkan angan-anganmu dan malulah kepada Allah SWT dengan sesungguhnya." Mereka berkata, kami telah malu kepada Allah." Rasulullah SAW bersabda:

"Demikian itu bukanlah malu. Akan tetapi malu kepada Allah adalah hendaknya engkau mengingati kubur dan seksanya, menjaga perut dan isinya serta kepala dan isinya pula. Siapa ingin kemuliaan Akhirat, ia tinggalkan perhiasan dunia. Di sanalah malu seorang hamba kepada Allah yang sesungguhnya dan dengan itu ia akan mendapat wilayah (kekuasaan) Allah."

Juga baginda bersabda:
"Permulaan kebaikan umat ini adalah dengan zuhud dan yakin dan akhir kehancurannya adalah sebab bakhil dan berangan-angan panjang."

Dirawikan dari Ummi Munzir dia berkata, "Pada suatu petang Rasulullah SAW keluar menghampiri orang ramai sambil berkata, "Wahai manusia, tidakkah kamu malu kepada Allah?" Mereka bertanya, "Apa pula itu ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab,

"Engkau mengumpulkan apa yang tidak engkau makan, engkau berangan-angan apa yang tidak engkau temukan dan engkau membangun apa yang tidak engkau tempati."

Dari Abi Sa'id Al Khudri dia berkata, "Usamah bin Zaid telah memberi seorang hamba dari Zaid bin Tsabit seharga seratus dinar dengan tempoh satu bulan. Lalu kudengar Rasulullah bersabda:

"Tidakkah engkau hairan kepada Usamah yang membeli dengan tempoh satu bulan? Sungguh Usamah panjang angan-angan. Demi Zat yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, tidaklah aku buka kedua mataku, melainkan aku mengira kedua bulu mataku tidak akan ketemu sehingga Allah mencabut nyawaku. Dan tidak aku angkat pandangan mataku, melainkan aku mengira bahawa aku yang meletakkannya sehingga nyawaku tercabut dan tidak aku memakan sesuap makanan, melainkan aku mengira bahawa aku telah menyempurnakannya sehingga dengan itu akan dijemput oleh maut." Kemudian baginda bersabda, "Wahai Bani Adam, jika engkau berfikir, anggaplah engkau adalah mayat-mayat. Demi Zat yang aku dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya apa yang telah dijanjikan kepadamu itu mesti datang dan engkau tidak akan boleh mengelak."

Dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar mencurahkan air lalu mencucikan dengan debu. Maka aku berkata kepada baginda, "Ya Rasulullah, sesungguhnya air itu dekat dari engkau." Baginda menjawab, "Apa yang aku dapatkan barangkali aku tidak akan sampai kepadanya."

Dikatakan: Pada suatu hari Isa a.s. duduk dan ada seorang tua bekerja mencangkul tanah. Kemudian Isa a.s. berkata, "Ya Allah, hilangkanlah angan-angan darinya." Lalu orang tua itu meletakkan cangkulnya malah berbaring saja sesaat. Kemudian Isa berkata, "Ya Allah, panjangkan angan-angan kepadanya." Lalu orang itu bangkit kembali dan bekerja. Lalu Isa a.s. bertanya mengapa dia demikian. Lalu orang tua itu berkata, "Saat aku bekerja, tiba-tiba hatiku berkata, "Sampai bila aku bekerja? Sedangkan aku sudah tua." Maka kubuang saja cangkul ini dan aku berbaring. Kemudian hatiku berkata lagi, "Demi Allah, engkau harus bekerja dari sisa hidupmu ini." Maka cangkul kuangkat lagi."

Artikel Terkait: