Minggu, 05 Juni 2011

Akibat Resesi Ekonomi, Imperium AS Mulai Hancur?

WASHINGTON – AS terlalu memperlama beberapa perang dan perekonomiannya terus menurun, apakah Imperium Amerika mulai jatuh?

Banyak yang mengklaim bahwa defisit anggaran adalah ancaman terbesar bagi AS. Beberapa mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengatasi defisit adalah dengan mengurangi belanja pertahanan dan militer. AS berencana untuk menghemat uang selama lima tahun ke depan dengan menyesuaikan kembali pengeluaran mereka.

"Imperium Amerika mengalami penurunan, tapi belanja militernya tidak mengikuti," ujar Andrew Gavin Marshall, seorang peneliti di Pusat Penelitian Globalisasi di Kanada.

Marshall berpendapat bahwa kesulitan ekonomi AS telah mengakibatkan keprihatinan mata uangnya dan seruan PBB untuk menggantikan dolar sebagai mata uang cadangan internasional.

"Apa yang membuat situasi ini, penurunan imperium ini, berbeda dari yang lainnya dalam sejarah adalah bangkitnya dunia timur. Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia kebangkitan kekuatan baru, dalam hal ini China, sedang terjadi, tidak menentang kekuatan hegemonik tapi di dalam sistem struktur kekuasaan yang sudah ada," ujar Marshall.

Dia berargumen bahwa China sedang berusaha untuk berintegrasi secara ekonomi dan menuju mata uang baru dan struktur pemerintahan global.

"China tidak mau didikte, ia menginginkan negosiasi, begitu juga dengan negara-negara BRIC – Rusia, India, Brazil. Mereka tidak mau diberitahu bagaimana caranya masuk ke dalam sistem, mereka ingin menjadi bagian dari sistem," ujar Marshall.

Marshal mengatakan bahwa karena hal itu AS berusaha untuk mendominasi sumber daya global dengan terus memperluas militer dan imperiumnya saat imperium itu sedang menurun.

"Kita baru menyaksikan awal dari krisis ekonomi global," ujarnya.

Dia menambahkan, "Semua negara G20 telah sepakat untuk melakukan penghematan fiskal yang berarti penghancuran masyarakat, penghapusan kelas menengah, dan penurunan demokrasi."

Sementara itu, komite penasihat ekonomi Asosiasi Bankir Amerika justru mengatakan bahwa perekonomian AS perlahan-lahan sembuh dan tidak akan jatuh ke dalam resesi lagi.

Komite itu mengatakan bahwa hutang luar negeri Eropa hanya akan memberikan dampak minimal pada perekonomian AS, selain penurunan ekspor.

Rata-rata, ekonom menetapkan pertumbuhan ekonomi riil pada kisaran 3.2% di tahun 2010 dan 3.0% di tahun 2011. Itu serupa dengan temuan dalam jajak pendapat berita Reuters.

Meskipun tingkat pertumbuhan tidak cukup kuat untuk memperbaiki pasar tenaga kerja, komite sependapat bahwa resesi ganda kemungkinannya kecil.

"Perekonomian sedang bergerak maju dalam sebuah proses rehabilitasi jangka panjang dan pada akhirnya akan kembali sehat dan kuat," ujar Stuart Hoffman, kepala ekonom di PNC Financial Services Group dan ketua komite Asosiasi Bankir Amerika.

Ekonom memperkirakan 2.2 juta lapangan kerja akan tercipta di tahun 2010, dan 2.5 juta tahun 2011. Tapi, itu hanya akan menggantikan separuh dari total lapangan kerja yang hilang selama resesi.

Mereka memprediksikan bahwa angka pengangguran akan turun secara bertahap, turun menjadi 8.5% pada akhir tahun ini. Saat ini angka pengangguran mencapai 9.7%. (rin/rt/reu) www.suaramedia.com

Artikel Terkait: