Jumat, 10 Juni 2011

Istiqamahlah

Oleh Dian Saputra

Suatu hari dalam wawancara di perusahaan multinasional, pada saat setelah wisuda bachelor degree. “Kenapa kamu memilih penampilan seperti ini?” tanya sang pewawancara kepada seorang fresh graduate yang mengenakan pakaian gamis panjang, berjenggot panjang dan peci selalu menempel di kepala.

“Karena saya cinta kepada Rasul saya,” jawabnya singkat.

“Saya akan memberi kamu pekerjaan dengan gaji 3.000 Dollar perbulan jika kamu mau mengubah penampilan kamu,” tantang si pewawancara.

Dengan santai sang pelamar menjawab, “Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti test wawancara ini,” dengan tenang langkah santai dia keluar ruangan wawancara.

Beberapa jam sebelum wawancara di sebuah bus stop depan asrama. Sang Abang, yang kebetulan juga senior aku di sekolah asrama di Jawa Tengah dulu, berkata, “Do’ain Abang ya, mau wawancara nih.”

Waktu itu saya benar-benar kaget, karena latar belakang saya adalah hedonisme, saya langsung bilang, “Please lah Bro, gila aja Abang memilih penampilan seperti ini, bisa-bisa bukannya dapat kerjaan, malah dikira teroris kali.”

Dengan senyum di bibirnya dia menjawab, “Insya Allah, Allah memudahkan.”

Beberapa hari setelah hari wawancara, sang abang menemui saya di Mushala, sambil berkata, “Lagi bingung nih”. Saya dengan santai menjawab, “Ada apa? Dituduh teroris saat wawancara?”

Dengan nada lebih santai dia menjawab, “Alhamdulillah, justru aku bingung harus pilih yang mana, ada beberapa perusahaan multinasional menerima aku, dan professor pembimbing skripsiku juga menawarkan tempat untuk melanjutkan belajar langsung ke jenjang S3.”

Waaakkksss...

“Kuya lu, itu mah masalah yang membahagiakan, bukannya aplikasi program master by research juga diterima?” timpalku, “Alhamdulillah…” jawab dia dengan senyum khasnya. “Kapan makan-makan?” permintaanku pada sang abang. “Insya Allah,” jawab dia.

Sebulan kemudian kami baru bertemu lagi, karena aku mudik ke Indonesia selama liburan semester. Kita janjian di sebuah hawker center di seberang komplek universitas.

“Dua nasi ayam,” kataku pada penjual nasi ayam.

“Minum?” kataku.

“Gah ah, abis gelasnya bekas dipake buat minum bir sih,” jawab dia sambil menunjuk gelas bergambar lambang minuman bir.

“Lah kan dah disucikan make air, airkan mensucikan,” debatku sok pintar.

“Ya udah, aku beli teh hijau kaleng ya,” jawab dia menyudahi perdebatan itu.

Dasar senior aneh, dia tetep tidak memakai gelasnya, dia langsung minum dari kalengnya. “Cape deeehhh...”

“Gimana Bro, jadinya pilih yang mana?” tanyaku penasaran.

“Alhamdulillah, aku pilih melanjutkan belajar di bawah bimbingan professorku,” jawab dia.

“Gila bettt, Abang tidak mau memilih kerjaan yang menawarakan 3.000 Dollar perbulan itu?”

Jawab dia, “Imanku belum siap untuk mendapatkan ujian itu.”

“Cape deeehhh…” sahutku.

Dia melanjutkan ceritanya, “Aku ada cerita buat kamu, temen kita sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Yang menarik dari cerita ini, saat wawancara, dia juga menerima tantangan seperti yang aku dapat. Kalo dia mau mencukur jenggotnya, besok datang untuk wawancara terakhir dan lebih dari 3.000 Dollar gaji perbulan bisa dia dapatkan. Mungkin karena dia kurang istiqamah menjalani sunnah yang satu ini, akhirnya dia mencukur jenggot yang telah dia pelihara sejak tingkat satu. Dan apa yang terjadi?”

“Apa?” timpalku sambil tetap menikmati ayam goreng di meja.

“Pada hari berikutnya sang pewawancara berkata, 'Sungguh picik pemikiran kamu. Kalau masalah agama yang paling mendasar di kehidupan kamu saja kamu kalahkan hanya demi 3.000 Dollar perbulan, lalu apa yang akan terjadi dengan perusahaan saya'.”

“Lho... ” jawabku sambil melongo.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Penampilan sang Abang tetep seperti itu, tak berubah sedikitpun. Aku salut atas istiqamah dia menjalankan sunnah Rasul.

Beberapa tahun kemudian di tempat yang sama, warung nasi ayam, “Bang, kumpeniku butuh domain expert di bidang expertise yang Abang dalami, aku bisa gaji abang $100 perjam sebagai domain expert consultant,” tawarku.

“Or gaji $5.000 perbulan sebagai full time consultant kalo mau cukur itu jenggot,” candaku.

Seperti biasa dia bisa menjawab, “Sejak kapan junior berhak memerintah senior, gini aja, aku bisa bantu kalian untuk mendapatkan pahala, angkat aku jadi CEO di kumpeni kamu, ntar semua profit dari tiap-tiap project akan aku sumbangkan buat masjid-masjid yang masih punya banyak utang kepada bank pemerintah. Gimana?”

“Cape deeehhh…”

“Bang, kapan nikah, sudah dapat kerja yang Alhamdulillah enak, sudah dapat gelar master. Banyak tuh junior-junior kita yang pasti akan menerima Abang kalo Abang mau.”

Dengan ringan sambil bercanda dia menjawab, “Wah, aku ga mau nikah dengan cewek yang kenal dengan kamu.”

“Cape deeehhh…” sahutku.

Alhamdulillah, Allah telah mengantarkan jodoh sesuai dengan yang dia inginkan. Alhamdulillah lagi terakhir dia contact aku, dia berkata, “Do’ain aku nyusul kamu jadi bapak, Isteri dah isi 3 bulan”.

“Gila, akurat juga dikau, bukannya nikahnya juga baru 3 bulan yang lalu?” candaku.

“Cape banget deeehhh…” jawabnya santai.

Ya Allah, aku bersyukur Engkau telah pertemukan hambaMu dengan makhluk yang satu ini, kuatkanlah iman dia untuk istiqamah menjalaninya. (Abu Shafiyya)

Artikel Terkait: