Rabu, 01 Juni 2011

Teknisi Pesawat Tempur AS Bocorkan Teknologi Siluman Ke China

Noshir Gowadia, mantan teknisi pesawat pengebom siluman B-2 yang di duga membocorkan rahasia militer untuk China. Pria berusia 66 tahun ini dinyatakan bersalah atas atas lima pelanggaran dalam sebuah persidangan yang digelar di pengadilan federal Hawaii.

Gowadia dituding telah membocorkan informasi desain pembuatan peluru kendali yang tak terlacak sensor infra merah untuk pesawat siluman.

Gowadia dinyatakan bersalah karena membocorkan informasi rahasia dan juga menyimpan informasi pertahanan. Keputusan itu diambil setelah menjalani sidang selama 40 hari.

Rahasia tersebut dijual dan ia setidaknya mengantongi $110.000, uang tersebut dipergunakannya untuk membayar hipotek bulanan sebesar $15.000 dari rumah pinggir pantai yang dibelinya di pantai utara Maui.

"Gowadia memberikan sejumlah desain senjata (negara) kita yang paling sensitif kepada pemerintah China demi imbalan uang," kata David Kris, asisten jaksa agung untuk masalah keamanan nasional, dalam pernyataan yang dirilis Departemen Kehakiman AS.

"Hari ini dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hukuman ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang coba-coba menjual rahasia militer negara demi uang," tambahnya.

Gowadia ditangkap pada Oktober 2005 dengan tudingan membocorkan informasi pertahanan nasional kepada pihak luar yang tidak punya hak menerimanya. Tuduhan lainnya ditambahkan dalam dakwaan lanjutan yang diberikan hingga tahun 2007.

Ia bekerja sebagai teknisi untuk Northtrop Grumman Corporation selama nyaris dua puluh tahun, antara 1968 hingga 1986. Di perusahaan tersebut, ia bertugas mengembangkan sistem pendorong dang kemampuan siluman untuk pesawat pengebom.

Gowadia mengerjakan proyek rahasia tersebut sebagai kontraktor pemerintah AS hingga 1997, saat izin keamanannya dicabut.

Dalam persidangan, jaksa menuding Gowadia beberpa kali terbang ke China, tepatnya antara 2003 dan 2005 dan memberikan layanan di bidang peahanan, dalam bentuk desain, dukungan uji coba dan uji analisis data teknologi yang terkait dengan program peluru kendali China.

Para jaksa mengatakan bahwa Gowadia setidaknya dua kali membocorkan informasi rahasia kepada pemerintah asing, yakni saat mempresentasikan teknologi peluru kendali dengan menggunakan PowerPoint, kemudian saat memamerkan efektivitas teknologi tersebut dengan cara membandingkannya dengan peluru kendali Amerika Serikat.

"Kasus ini unik karena kami mengajukan tuntutan terkait konsep dasar mengajarkan ilmu yang ia dapatkan, sebagian atau seluruhnya, dari aktivitasnya selama bekerja dalam program rahasia Amerika Serikat," kata Jaksa Ken Sorenson.

"Jika dia bisa seenaknya mengambil rahasia kemudian menjualnya di pasaran secara diam-diam kepada pemerintah lain dan tidak dijatuhi hukuman, maka kita (AS) yang bermasalah," tambahnya.

Tim kuasa hukum Gowadia memberikan bantahan dalam persidangan yang berlangsung nyaris empat bulan tersebut, meski mereka membenarkan bahwa Gowadia memang memberikan desain sebagian peluru kendali kepada China. Gowadia berencana mengajukan banding.

"Klien kami jelas merasa kecewa dengan putusan itu karena ia memang merasa tak pernah melakukan kejahatan," kat Birney Bervar, pengacara Gowadia.

Gowadia, yang ditahan sejak Oktober 2005, dinyatakan bersalah di 14 dari 17 pengadilan. Tuduhan yang diarahkan di antaranya konspirasi, melanggar UU pengendalian ekspor, menghindari pajak dan mencuci uang. Hukumannya sendiri dijadwalkan diumumkan pada bulan November mendatang.

Pria kelahiran India tersebut pindah ke AS untuk menjalani program pascasarjana di tahun 1960-an. Ia menjadi warga negara AS sekitar sepuluh tahun kemudian. Ia pensiun dari Northtrop pada 1986 dengan alasan kesehatan, dua tahun sebelumnya, B-2 diperkenalkan kepada publik. Ia pindah ke Maui pada 1999. (SMcom)

Artikel Terkait: