Jumat, 18 Maret 2011

Kebutuhan Menerapkan Syariat

Hari ini ummat Islam tidak diragukan lagi hidup dalam situasi yang sangat langka dan tidak biasa. Sepanjang sejarah Islam, para pendahulu kita (salafus sholeh) selalu hidup dengan Islam baik secara pribadi maupun dalam level politik, di bawah satu kepemimpinan (yaitu Imam atau Khalifah). Sayangnya, setelah berabad-abad perang salib yang berdarah-darah, perisai dari umat ini akhirnya dihancurkan pada 3 Maret 1924 melalui pemerintah Inggris dan kroni mereka, Mustafa Kemal Atatürk.

Nabi Muhammad SAW., menggambarkan Imam kaum muslimin sebagai perisai (junnah), dengan mengatakan:

"Sesungguhnya pemimpin (Imam) kaum muslimin adalah perisai dimana kaum Muslimin berperang dan dilindungi di belakangnya ..." (Shahih Muslim, hadits 1841)


Tidak ada penguasa tunggal saat ini yang cocok untuk memimpin kawanan domba, apalagi umat Islam. Apa yang mereka miliki telah dijual semua (yaitu agama mereka) untuk harga yang murah dan konsekuensinya mereka lebih memilih kufur daripada Iman.

Jika Nabi Muhammad SAW., berkata :

"Jika ada dua imam, maka bunuhlah yang terakhir," (Shahih Muslim, hadits 1853)

maka apa yang akan ia katakan jika ia masih hidup hari ini, di mana ummat saat ini sedang diatur oleh lebih dari 55 penguasa yang berbeda, masing-masing dengan negara independen mereka sendiri dan konstitusi sendiri, dan masing-masing tunduk kepada sekutu dari setan dan toghut ?

Penghinaan, serangan, kebrutalan dan bencana yang kita hadapi saat ini - di Afghanistan, Chechnya, Irak, Pakistan, Palestina, Somalia dan di seluruh dunia - adalah akibat langsung dari ketidakmampuan kita dan kegagalan untuk menunjuk seorang Imam yang dibai'at untuk memerintah kita dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya SAW.

Bagaimana bisa kita mengklaim sebagai pengikut Sunnah dan pembela Dien ketika kita memilih untuk hidup di antara orang-orang kafir (di bawah undang-undang mereka), meniru mereka dan gagal untuk membedakan diri dari kamp mereka? Bagaimana kita bisa mengklaim mencintai Allah dan Rasul-Nya SAW., ketika kita terlalu malu untuk mendakwahkan mereka syariah dan terlalu lalai untuk mendirikan Hukum Allah di Bumi, yang merupakan kewajiban atas setiap muslim?

Bekerja untuk mendirikan Khilafah adalah salah satu tugas terbesar hari ini, setelah Tauhid kepada Allah ('Azza wa-Jalla). Dan tugas ini tidak dapat diselesaikan kecuali kita bekerja secara kolektif (berjama'ah) di bawah seorang Amir. Hal ini karena "yang mengarah pada pemenuhan kewajiban itu sendiri adalah sebuah kewajiban." Dengan kata lain, karena Khilafah tidak dapat dibangun dengan upaya individu yang tersebar secara sendiri-sendiri, maka bekerja mendirikan Khilafah secara kolektif (berjama'ah) menjadi wajib.

Selain itu, merupakan pengetahuan umum bahwa melarang yang munkar, yang Nampak di sekitar kita, juga merupakan kewajiban. Kenyataannya kejahatan hukum buatan manusia (syirik) masih hadir hari ini, dengan demikian, kini menjadi fardhu mukhattam (kewajiban yang mendesak) untuk semua umat Islam bekerja secara kolektif (berjamaah) dan menyelamatkan dunia ini dari kemungkaran yang besar.

Rasulullah SAW., berkata :

"Barangsiapa yang meninggal tanpa ada bai'at (janji setia) (kepada Khalifah) akan mati dalam kematian jahiliyyah (yakni dalam keadaan sebelum Islam diturunkan)," (Shahih Muslim, hadits 1851 )

Hari ini tidak ada Khalifah (Imam) dimana kewajiban bai'at itu kita diberikan. Oleh karena itu, dalam rangka untuk menyelamatkan diri kita dari kematian tersebut, kita harus terlibat dalam kerja kolektif (berjamaah) untuk mendirikan kepemimpinan ini (khilafah) dengan metodologi Ahlus-Sunnah wal-Jamaa'ah, yaitu Nabi SAW., dan para sahabat R.A.

Wallahu'alam bis showab!

Source : almuhajirun.net

Artikel Terkait: