Jumat, 18 Maret 2011

Konflik Timur Tengah: Kesalahan Rezim Arab Saudi

Menurut berbagi sumber diplomatik dan terpercaya di negara Teluk Persia kini muncul kekuatan segitiga baru. Kekuatan tersebut adalah pendukung al-Qaeda, terorisme pemerintahan dan kapitalisme. Kekuatan segitiga baru ini memporak-porandakan kebangkitan rakyat Bahrain. Di sisi lain, pemerintahan kerajaan Arab Saudi telah melakukan kesalahan terbesarnya sepanjang sejarah.

Sementara itu, Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA) pekan lalu dilaporkan berhasil menekan Arab Saudi untuk campur tangan dalam menangani krisis di Bahrain. CIA mengancam Riyadh dengan sejumlah dukumen yang menunjukkan keterlibatan Arab Saudi dengan al-Qaeda. Sumber-sumber diplomat Timur Tengah menyatakan, agresi militer Arab Saudi ke Bahrain adalah langkah berbahaya karena dapat merusak stabilitas di kawasan dan mengobarkan api di dalam negeri Saudi sendiri.

Sumber ini menambahkan, para petinggi Arab Saudi telah salah langkah dan keliru dalam menentukan strategi. Sikap mereka ini bahkan mendorong bangsa di negara kaya minyak bangkit dan menyerukan kebebasan serta demokrasi. Bagi Amerika sendiri hal ini banyak menguntungkan pihaknya karena Washington berhasil mengubah slogan "Mampus Amerika" menjadi "Mampus Keluarga Kerajaan Arab Saudi". Hal ini juga dinilai sebagai kekalahan telak kerajaan Arab Saudi.

Al-Qaeda sebuah organisasi teroris bikinan Arab Saudi. Oleh karena itu, tak heran jika kelompok teroris ini mendapat dukungan finansial dan strategi dari Riyadh. Amerika Serikat bukannya tidak mengetahui hal ini. Washington memiliki bukti dan dokumen kuat atas langkah Riyadh serta menggunakannya dalam waktu yang tepat untuk menekan Arab Saudi agar senantiasa tunduk terhadap Gedung Putih.

Seorang diplomat Arab kepada Kantor Berita IRNA menandaskan, petinggi Arab Saudi telah menyadari kekeliruan strategi mereka. Oleh karena itu, mereka langsung memberikan reaksi bahwa pengiriman pasukan negara ini atas permintaan Bahrain dan mengemban misi menjaga infrastruktur serta berusaha menciptakan peluang solusi di krisis Manama.

Thomas Lippman, pengamat masalah Arab Saudi di Dewan Hubungan Luar Negeri AS menulis,"Saya tidak percaya bila pengiriman militer Arab Saudi ke Bahrain dilakukan setelah tercapai kesepakatan para menteri luar negara Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC)." Menurutnya lawatan terbaru Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton dan Menteri Pertahanan Robert Gates ke Timur Tengah pekan lalu telah mendorong Arab Saudi terlibat dalam krisis Bahrain.

Sementara itu, Simon Henderson, pengamat di The Washington Institute menilai keterlibatan Riyadh dalam krisis Manama hanya didorong ketakutannya soal merembetnya aksi demo rakyat Bahrain ke wilayah Syiah di timur Saudi. Namun kini ternyata masalah Bahrain telah menjadi isu internasional dan kondisinya telah berubah. (irib)

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar