Hadits Nabi saw tentang kondisi manusia; "Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya, tentang masa mudanya, digunakan untuk apa, tentang hartanya, dari mana diperoleh dan kemana dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu." (HR. Tirmidzi).

Minggu, 13 Maret 2011

Mencari Kesembuhan di Sumber Mata Air..

KOMPAS.com — Nasu Obet (52) bersama tujuh anggota keluarganya membawa jeriken berjalan menuju sumber mata air Oefatu, Desa Tesbatan Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sumber mata air ini diyakini memiliki kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit. Setiap hari ada puluhan orang datang ke sumber air ini.

Mereka membawa jeriken dan galon, mengambil air sekaligus mandi, atau membasahi bagian tubuh yang terasa sakit. Sebelum mengonsumsi air atau mandi, mereka didoakan oleh juru kunci, Oktovianus Nistano (45), persis di sumber mata air itu.
Juru kunci sumber air Oefatu (Tesbatan), Oktovianus Nistano di Tesbatan, Jumat (12/3/2011), mengatakan, para pencari kesembuhan ini datang dari Kabupaten dan Kota Kupang, Kabupaten Rote Ndao, Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara bahkan dari luar Nusa Tenggara Timur. Mereka datang sambil berharap mendapat kesembuhan dari beban penyakit yang diderita.

Pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur jumlah pengunjung sampai ratusan orang, tetapi hari biasa berkisar 20-50 orang. Mereka ramai-ramai membawa jeriken, botol, dan galon untuk mengisi air yang berkhasiat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. "Kebanyakan mereka sudah berulang kali menjalani pengobatan di rumah sakit, dokter praktik, dan paranormal tetapi tidak tertolong," kata Nistano.

Lonjakan pengunjung terjadi pada musim kemarau (Juni-November). Pada saat itu jumlah pengunjung sampai ribuan orang per hari. Bahkan, banyak di antara mereka sampai menginap di sekitar sumber mata air itu.

Ia mengatakan pernah mencatat sampai 2.753 orang per hari, yakni 16 Agustus 2010. Mereka datang dari pukul 06.00 pukul 23.00 Wita. Nistano bersama tiga adiknya pun menunggu di lokasi itu sampai pagi hari. Tetapi kegiatan mencatat ini butuh tenaga khusus, yang harus dibayar, ia pun berhenti. Air itu diambil cuma-cuma, tanpa pungutan.

Pengunjung secara sukarela memberi uang, Rp 1.000-Rp 5.000 kepada para pemikul air, dari sumber mata air menuju tempat parkir kendaraan, sekitar 50 meter. Kendaraan tidak langsung menuju sumber air karena lokasi air berada di dalam tebing.

Juru kunci dan pemikul tidak diperkenankan memeras atau meminta biaya. Nistano selaku juru kunci pernah mengalami sakit berat setelah meminta bayaran Rp 20.000 per pengunjung. Tetapi setelah tiba di rumah sakit umum Kupang, pihak rumah sakit sama sekali tidak menemukan sakit yang diderita Nistano.

"Saya pulang dari rumah sakit kemudian beramal dengan membagikan uang hasil pungutan sekitar Rp 500.000 kepada orang-orang miskin di pasar. Kemudian saya mandi dan minum dari sumber mata air itu, sembuh sampai hari ini. Ternyata, apa yang diberikan dengan cuma-cuma oleh Tuhan, jangan diperjualbelikan, memeras atau membebani orang lain," katanya.

Awal mula penemuan sumber air berkhasiat ini, ketika Nistano mengalami sakit batu empedu, dan malaria kambuh, 2007, ia divonis dokter di RSUD Kupang, harus menyediakan uang Rp 30 juta untuk operasi batu ginjal di Jakarta. Jika tidak, dalam jangka waktu dua pekan lagi, ia akan meninggal dunia.

Petani desa ini pun resah. Tidak ada uang sejumlah itu untuk pengobatan. Tetapi dalam penglihatan malam hari, seorang pria berpakaian putih berjenggot memerintahkan Nistano dan orang-orang sakit di kampung itu pergi meminum dan mandi di sumber mata air itu. Nistano menuruti perintah itu.

Ia pun merasa badanya jauh lebih sehat dari sebelumnya. Hasil pemeriksaan laboratorium pun mencatat tidak ada penyakit lagi yang diderita Nistano. Demikian pula warga Kampung Oefatu lain yang mengalami sakit berat dan mandi di sumber mata air itu.

Menurut Nistano kunci utama adalah keyakinan, Tuhan bekerja melalui alam ciptaan-Nya. Tidak ada yang mustahil, jika Tuhan menghendaki, termasuk sumber mata air Oefatu, Tesbatan sebagai sarana penyembuhan.

Berita air ajaib, yang terletak sekitar 80 km dari Kota Kupang itu pun segera tersiar ke sejumlah kecamatan di Amarasi, Kabupaten Kupang, dan Kota Kupang. Tahun 2008 seluruh warga Kecamatan Amarasi yang sakit datang ke lokasi itu. Mereka pun mendapat kesembuhan, terutama bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya. Berita keajaiaban sumber air Oefatu itu pun terus menyebar secara lisan.

Nasu Obet mengatakan, ia berkunjung ke sumber air itu September 2010 karena menderita stroke. Leher tegang, tekanan darah sampai 210/100, bagian tubuh sebelah kiri sudah tidak dapat digerakan, langkah kakipun sudah tidak jelas.

Ia membawa lima jeriken air atau 25 liter. Awal Desember 2010 ia merasakan perubahan besar atas penyakit yang diderita. Tekanan dari turun sampai 110/60, leher terasa normal, dan gerakan tubuh pun tidak mengalami kesulitan. Setelah dicek di rumah sakit, Nasu sembuh total. Dokter pun heran, saat mendengar Nasu mengonsumsi air Oefatu.

Saat ditemui di sumber air itu, Nasu membawa tujuh orang yakni anak, tetangga, famili dan kenalan yang sakit. Mereka antara lain Toni Loeh (46) menderita batu ginjal, John (34) TBC, Amos Bessy (39) ginjal, dan Yoseph Amnifu (42) menderita asma. Mereka semua membawa jeriken.

Toni mengaku, dokter rumah sakit umum Kupang menvonis penyakit yang diderita itu sulit disembuhkan di Kupang. Jika ingin sembuh ia harus menyediakan uang Rp 70 juta untuk berobat di Surabaya.

"Saya kemudian minum air dari Oefatu diberi Pak Nasu sebanyak dua liter. Rasanya ada perubahan besar dibanding obat-obat dari rumah sakit atau dokter praktek, kemudian Pak Nasu mengajak aku datang sendiri. Hari ini saya bawa empat jeriken atau 20 liter air karena menurut informasi, air ini harus diminum rutin seperti air biasa sampai penyakit sembuh tuntas," kata Toni.

Bone Bejor (48), warga Kota Kupang yang pernah sembuh dari kencing manis setelah minum air Oefatu, menuturkan, ketika mengeluh kencing sakit, ia ditawari tetangga ke sumber air Oefatu. Awalnya, ia tidak percaya, tetapi akhirnya ia pergi juga bersama istrinya. Ia mengambil air dua jeriken dan sembuh total sampai hari ini.

Hanya saja menuju ke lokasi ini agak sulit pada musim hujan. Sungai Oebatan yang terletak sekitar 5 km sebelum sumber mata air Oefatu belum dibangun jembatan. Jika hujan deras dan air sungai meluap, pencari kesembuhan pun enggan datang.

Entri yang Diunggulkan

MENJUAL AGAMA PADA PENGUASA DISIFATI ANJING DALAM AL QURAN

Pemimpin/Ulama adalah cermin dari umat atau rakyat yang dipimpinnya. Definisi Ulama (wikipedia) adalah pemuka agama atau pemimpin agama ...

Popular Post