Selasa, 01 Maret 2011

Rencana Besar AS yang Luput dari Perhatian Publik Dunia

Perhatian masyarakat dunia saat ini bisa dipastikan sedang terfokus pada kekacauan negeri-negeri Muslim yang sedang dilanda "revolusi". Pemberitaan media massa, terutama media massa Barat yang selama ini kerap bias memberitakan dunia Islam, mendorong terbentuknya opini publik bahwa kekisruhan yang terjadi di negeri-negeri Muslim adalah ansih persoalan dalam negeri, bahwa rakyat menuntut pembaharuan dan menginginkan perubahan kekuasaan pemimpin-pemimpin muslim yang otoriter dan cenderung memperkaya diri sendiri. Tidak lebih.

Namun laporan yang dirilis Lembaga Intelijen Luar Negeri (SVR) Rusia mengingatkan kemungkinan adanya rencana besar dibalik memanasnya situasi di negeri-negeri Muslim, sebuah rencana untuk mengobarkan perang secara global yang tujuannya, apalagi kalau untuk mengembalikan hegemoni Barat, khususnya AS di dunia.

SVR dalam laporannya membeberkan peristiwa penting yang seolah luput atau "sengaja dialihkan" dari perhatian masyarakat dunia, yaitu tertangkapnya seorang warga negara AS bernama Raymond Allen Davis, 36, di Pakistan. Tertangkapnya Davis memicu ketegangan Pakistan-AS, dua sekutu yang bersahabat erat, terutama dalam perang AS melawan "teror" Al-Qaida dan Taliban.

AS mengecam Pakistan atas penangkapan Davis, yang diklaim sebagai salah seorang diplomatnya yang sedang bertugas di Pakistan. Tapi Lembaga Intelijen Pakistan (ISI) menyatakan Raymond adalah seorang mata-mata CIA.

Polis Pakistan menangkap Davis pada tanggal 27 Januari lalu, setelah Davis menembak dua orang di Lahore pada tanggal 27 Januari lalu. Pemerintah AS mengklaim Davis menembak karena membela diri dari orang-orang yang berusaha merampoknya. Tapi pihak Pakistan menyatakan, dua orang yang ditembak mati Davis adalah dua agen ISI yang sedang mengintai gerak gerik Davis setelah ISI berhasil melacak kontak telepon antara Davis dengan kelompok Al-Qaida di Waziristan.

Waziristan adalah kawasan pedalaman di perbatasan Afghanistan-Pakistan, yang menjadi basis Taliban dan kelompok-kelompok militan lainnya, dan diduga menjadi tempat persembunyian pemimpin Al-Qaida Usamah bin Ladin beserta para simpatisannya.

Raymod Davis
Banyak pihak meragukan klaim pemerintah AS, bahwa Davis cuma sekedar diplomat. Dari keterampilan menembak Davis dan dokumen-dokumen yang disita saat penangkapannya, menurut laporan SVR, Davis adalah anggota dari pasukan American Task Force 373 (TF373), sebuah unit pasukan yang menggelar operasi-operasi rahasia di Afghanistan dan kawasan pedalaman Pakistan. Tim pasukan itu terdiri dari tentara-tentara AS yang diambil dari pasukan elit, mata-mata CIA dan para tentara bayaran yang disewa AS.

Terkait kemampuan menembak Davis, Time News Service menyebut peristiwa penembakan yang terjadi tanggal 27 Januari lalu di Lahore ibarat sebuah adegan film laga ala Hollywood. "Selama dua jam, di akhir bulan (Januari) lalu di Lahore, seorang diplomat AS Raymond Davis diikuti oleh dua orang bersenjata yang mengendarai sepeda motor. Dia (Davis) memperhatikan bahwa kedua orang itu mengikutinya mulai dari restoran sampai ke ATM, dan sampai ke jalan-jalan yang ramai di kota terbesar kedua di Pakistan. Ketika keduanya dalam jarak dekat, di sebuat persimpangan jalan yang ramai, Davis menggunakan senjatanya dan melepaskan tujuh tembakan," tulis Time News Service.

Times India juga mengungkap jati diri dan latar belakang Davis berdasarkan catatan Pentagon. Arsip Pentagon menyebutkan bahwa Davis adalah mantan tentara pasukan khusus AS yang meninggalkan dinas kemiliteran pada tahun 2003, setelah 10 tahun mengabdi. Lelaki asal Virginia itu juga pernah menjadi anggota pasukan penjaga perdamaian PBB di Mecedonia. Davis tercatat sebagai tentara yang berperilaku baik dan pernah mendapatkan sejumlah penghargaan dan medali.

Informasi lainnya tentang Davis, ia bersama istrinya mengelola sebuah perusahaan yang terdaftar di Las Vegas dengan nama Hyperion Protective Services. Tapi belum jelas, apakah perusahaan jasa keamanan itu menandatangani kontrak kerjasama dengan pemerintah AS.

Jual Bahan Nuklir

Pemerintah AS mencoba menekan Pakistan untuk membebaskan dan memulangkan Davis ke AS. Duta Besar AS bahkan mengancam Presiden Pakistan Asif Ali Zardari bahwa AS akan memutus semua hubungan dengan Pakistan, jika Pakistan tidak membebaskan Davis.

Menurut laporan SVR, situasinya makin memburuk ketika Pakistan menolak tunduk pada tekanan AS dan memperpanjang masa tahanan Davis. Penasehat Keamanan Dalam Negeri AS Tom Donilon mengancam Duta Besar Pakistan bahwa Obama akan mengusirnya dari AS, menutup konsulat AS di Pakistan dan membatalkan rencana kunjungan Presiden Zardari ke Washington jika Davis tak juga dibebaskan.

Pakistan bergeming. Negara itu bahkan memamerkan kekuatannya pada AS dengan melakukan uji coba penembakan misil jelajahnya Hatf-VII yang diklaim sebagai misil paling canggih dan akurat yang dimiliki Pakistan.

Uji coba misil itu direspon United States Institute for Science and International Security (ISIS) dengan laporan yang menuding bahwa Pakistan sedang membangu reaktor nuklir militernya yang keempat dan akan memproduksi plutonium lebih banyak lagi untuk membuat senjata nuklir.

Saling ancam antara Pakistan-AS terkait kasus Davis, akhirnya mengungkap sebuah informasi rahasia terkait aktivitas Davis. Dalam laporannya, SVR mengutip laporan lembaga intelijen Pakistan (ISI) tentang dokumen CIA yang dikatagorikan sebagai "top secret" (sangat rahasia) yang berhasil disita bersama dokumen-dokumen Davis lainnya.

Dokumen sangat rahasia itu mengindikasikan bahwa Davis dan/atau pasukan TF373-nya adalah pemasok "bahan nuklir fisil" dan "bahan biologis" berbahaya bagi kelompok Al-Qaida yang akan digunakan untuk melawan AS. Perlawanan terhadap AS itu sengaja diciptakan untuk memicu perang global yang pada akhirnya untuk memulihkan kembali hegemoni Barat dalam perekonomian global.

Apa yang tidak diketahui masyarakat AS selama ini adalah, pemerintah mereka sudah menghabiskan uang hampir 20 triliun dollar untuk membiayai perang paling panjang dalam sejarah AS, yang membuat negara AS bangkrut. Tanda-tanda kebangkrutan itu bisa terlihat dari seruan Iembaga Dana Moneter Internasional (IMF) belum lama ini yang menginginkan agar mata uang dollar AS dijadikan sebagai cadangan devisa dunia.

Yang paling ironis, masyarakat AS juga mengabaikan fakta bahwa pemerintah AS telah melawan rakyatnya sendiri, sejak militer AS melancarkan "Operasi Northwoods" hingga kampanye "perang melawan teror" di abad 21 ini. Kampanye-kampanye itu dilakukan dengan cara "menciptakan teror" bahkan di dalam negeri AS sendiri, agar masyarakat AS percaya dan menerima "perang" sebagai cara hidup mereka. (ln/EUTimes/eramuslim)


Artikel Terkait: