Selasa, 30 November 2010

MENJADI KAYA, BIKIN MISKIN EMPATI?


Harta melimpah dan menyandang status sosial tertinggi tidak menjamin seseorang memiliki rasa empati dan peduli terhadap sesama. Sebaliknya, seseorang yang hidup serba susah justru memiliki rasa empati kelas wahid dan peduli terhadap sekitar mereka. Demikian kesimpulan hasil riset yang dipublikasikan Jurnal Psikologi baru-baru ini.

Disebutkan dalam hasil riset tersebut, masyarakat kelas bawah memiliki kemampuan yang peneliti sebagai ukuran akurasi empati. "Hasil yang kami lihat merupakan orientasi dasar yang menggambarkan individu kelas bawah cenderung lebih berempati ketimbang kalangan atas," papar Michael Kraus, peneliti Universitas California, San Francisco, seperti dikutip dari time.com. Kraus menjelaskan faktor yang membentuk rasa empati masyarakat kelas bawah disebabkan kondisi lingkaran kehidupan mereka. Masyakarat kelas bawah, kata Kraus, setiap harinya menghadapi kerentanan dan ancaman sosial yang berat. Kondisi itu yang kemudian memunculkan kepekaan emosi. Kolega Kraus, Dacher Keltner, profesor psikologi, University of California, Berkeley, sepakat bahwa individu dalam kelas-kelas sosial ekonomi rendah hidup didefinisikan oleh ancaman. Hidup mereka terancam oleh lingkungan, institusi dan individu lain. "Salah satu bentuk adaptasi dari kondisi lingkungan seperti itu melahirkan perasaan peka, waspada dan hati-hati dalam melihat kehadiran orang lain serta mencoba untuk membangun kerja sama yang erat guna membentuk keterikatan yang kuat," papar dia.

Sebelumnya Kraus dan kolega melakukan tiga percobaan yang berbeda. Percobaan pertama melibatkan 200 karyawan universitas, sebagian dari mereka merupakan sarjana dan sisanya tidak memiliki gelar. Pemilihan kalangan kampus dimaksudkan untuk menjadi wakil dari status pekerjaan dan kelas sosial. Oleh peneliti, karyawan universitas diminta untuk melihat sejumlah foto dan mengidentifikasi emosi.

Hasilnya, mereka yang hanya tingkat sekolah menengah tidak lebih baik daripada rekan mereka berpendidikan tinggi. "Percobaan pertama bertujuan mengukur rasa empati seseorang. Hal itu sangat penting untuk mengenali orang lain. Tanpa empati, seseorang sulit untuk merespon dengan kebaikan," paparnya.

Pada percobaan kedua, peneliti melibatkan mahasiswa. Oleh peneliti, mereka diminta untuk menilai status sosial mereka pada peringkat yang mewakili berbagai kelas. Percobaan ini dimaksudkan untuk memprediksi akurasi masalah psikologis individu berekonomi rendah. Selama percobaan berlangsung, dua partisipan selama bergantian mengawasi dan mengambil bagian dalam wawancara kerja hipotesi dengan suatu eksperimen. Lagi-lagi hasil riset menunjukan individu dengan status ekonomi rendah mengungguli kalangan atas dalam hal membaca emosi orang lain.

Pada percobaan ketiga, mahasiswa diminta untuk membandingkan status kelas mereka sendiri dengan individu kalangan atas dan kalangan bawah. Hasilnya, ketika individu membandingkan dirinya dengan kalangan bawah individu tersebut menganggap diri mereka memiliki status yang lebih tinggi namun kurang akurat dalam membaca ekspresi emosional. Sebaliknya, individu yang merasa bahwa mereka berada dalam kelas sosial yang lebih rendah membuat individu tersebut lebih baik dalam membaca emosi.

"Saya pikir hasil riset menunjukan hasil yang baik dan sangat menarik," komentar Jamil Zaki, seorang mahasiswa post doktoral, Universitas Harvard. Peneliti juga mencatat sejumlah fakta penting terkait rasa empati individu. Disebutkan selain kondisi hidup yang rentan, efek kekuasaan juga membantu kalangan kelas bawah dalam membaca emosional. Sebagai contoh, Zaki melanjutkan, ketika pekerjaan tergantung pada pengetahuan kapa pimpinan perusahan terlihat emosioanl, maka individu tersebut tahu betul tentang kondisi emosional sekitar mereka.

Keltner menyebut pengaruh kekuasaan juga bisa menjadi alasan bahwa beberapa studi menemukan perbedaan gender dalam akurasi empati condong menguntungkan wanita. "Ada kemungkinan banyak faktor penentu dari perbedaan gender, kata Keltner. Salah satunya, kata dia, adalah perempuan dengan status ekonomi rendah secara sistematis mampu menunjukan rasa kasih sayang. "Jika perempuan memang memiliki tingkat yang lebih tinggi dari kadar oksitosin, ikatan kimia yang mempromosikan rasa empati dalam otak, bisa jadi itu salah satu alasannya," papar dia.

Sementara itu, Keltner menjelaskan kondisi perekonomian terkini yang menempatkan individu dalam resiko yang lebih tinggi dari kejatuhan status sosial sangat berpengaruh terhadap minimnya rasa empati kalangan atas. "Kita hidup dalam periode sejarah yang tinggi dalam hal ketimpangan masalah Kesehatan dan psikologis. Masalah psikologis dan kesehatan berkorelasi dengan ketidaksetaraan, dan kita telah meningkatkan ketidaksetaraan itu," kata Keltner. "Individu-individu yang menempati posisi kekuasaan tidak akan melihat ketidaksamaan mereka dan cenderung buta. Itulah mengapa mereka tidak dapat melihat apa yang patut untuk orang lain dan mengapa mereka bahkan mungkin tidak memahami penderitaan rakyat mereka," pungkasnya.

Artikel Terkait: