Senin, 22 November 2010

TAUBAT DAN KEMBALI PADA-NYA

Siapakah sebenarnya orang yang bertaubat?
Orang yang bertaubat (tâ`ib) ialah orang yang kembali (râji’), yakni orang yang kembali kepada Allah dengan segenap kekuatan dan segala kemampuan. Ya Allah, orang yang kembali kepada-Mu adalah orang yang râji’ kepada-Mu. Ya Tuhanku, setelah sekian lama pergi meninggalkan-Mu, kembali setelah sekian lama bergelimang dalam kubangan dosa yang mengganas.

Mungkin pada mulanya ada orang yang berkata, ”Apa sih sebenarnya yang kini kita lakukan? Kita sekarang telah hidup dengan cara yang wajar. Kehidupan (yang kita alami) juga nyaman-nyaman saja.” Akan tetapi aku berkata, “Kita telah terjerumus dalam beragam kemaksiatan, tapi kita tidak pernah merasakan (menyadari) bahaya itu semua.” Bahkan, aku dapat mengatakan bahwa ada banyak orang di sekeliling kita -bahkan bersama-sama dengan kita- yang terjerumus dalam jurang dosa-dosa besar (kabâir). Aku juga mengerti bahwa ketidaktahuan semacam ini amat berbahaya, tapi itulah yang sebenarnya. Para pemuda terjerumus dalam dosa durhaka kepada orangtua (uqûq al-wâlidain). Bukankah durhaka kepada kedua orangtua termasuk dosa besar? Janganlah sekali-kali kalian lupa bahwa durhaka kepada kedua orangtua itu adalah dosa besar keempat yang ada dalam ajaran Islam. Bukankah air mata ibu yang sedang murka dapat mengundang kemurkaan Allah, kemurkaan yang luar biasa dahsyatnya? Seorang ayah yang gagal mendidik anak-anaknya, terutama anak laki-lakinya yang tidak pernah lulus kuliah atau justru menjadi pecandu obat-obat terlarang, atau seorang ibu yang selalu meneteskan air matanya karena putri tersayangnya selalu bergaul (berpacaran) dengan pemuda tanpa sepengetahuan keluarga, –bukankah ini semua menuntut kita untuk segera bertaubat? Bukankah semua ini termasuk dosa besar? Tidakkah kamu tahu bahwa kemurkaan ibu dan ayah dapat menjadi dosa terbesar yang akan memenuhi timbangan keburukan, bahkan menjadi satu dari beribu-ribu dosa yang kamu lakukan dalam satu, dua, atau tiga tahun? Jadi, kita semua ini memiliki dosa besar yang menuntut kita untuk segera bertaubat. Mungkin kamu tidak termasuk dari sekian banyak orang yang meminum minuman keras, atau tidak menjadi salah satu orang yang berzina. Tapi, kamu harus ingat bahwa durhaka kepada kedua orangtua adalah dosa besar.

Jadi, Anda Perlu Segera Bertaubat!
Betapa sering kita melihat orang yang rajin melaksanakan shalat di bulan Ramadhan, kemudian tidak lagi mengerjakannya di bulan-bulan berikutnya. Betapa sering kita menemukan orang yang shalatnya masih bolong-bolong sebelum Ramadhan tiba. Berapa banyak dari mereka yang tidak pernah melaksanakan shalat Subuh sejak dua puluh tahun silam. Bukankah shalat Subuh itu termasuk kewajiban (farâ`idh)? Apakah kamu mengetahui bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang membuat Allah murka? Tidakkah kamu tahu bahwa shalat adalah tiang agama (‘imâd ad-dîn) dan barang siapa yang merobohkannya (dengan jalan meninggalkannya) berarti telah merobohkan agama? Sebagai ancaman bagi orang yang menganggap sepele meninggalkan shalat, di neraka jahanam ada sebuah pintu yang bernama saqar. Tentang pintu ini, Allah Swt. berfirman, "’Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’" (QS. Al-Mudatsir [74]: 42-47)


Allah menyebutkan bahwa pintu ini tidak akan pernah luput dari siapa pun. Semua orang yang masuk ke dalam pintu ini sel-selnya akan meleleh. Orang ini akan hancur luluh kemudian menyatu kembali dan akhirnya hancur lagi, begitu seterusnya. “Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.” (QS. Adz-Dzâriyât [51]: 42) Sungguh, sebuah peristiwa yang sangat mengerikan. Para malaikat yang berdiri di depan pintu ini selalu bertanya kepada orang yang akan masuk, “Apa yang membuat kalian masuk ke sini?” Para malaikat ini seakan-akan begitu iba kepada mereka yang masuk. Mereka pun mengatakan bahwa mereka tidak pernah melaksanakan shalat.


Manakala Allah memberikan kemuliaan dengan menuntunmu untuk meninggalkan dosa-dosa besar (kabâir), maka lihatlah apa yang berhasil kamu ungkapkan tentang dosa-dosa kecil. Beribu-ribu dosa kecil kita lakukan tiap hari. Bayangkan, berapa kali kita memandang hal haram di minggu yang lalu? Wahai kaum ibu dan kaum remaja putri, berapa banyak kata gunjingan (ghîbah) yang keluar dari bibir kalian di telepon, misalnya. Tentu saja, dengan mengatakan hal itu, aku tidak bermaksud untuk memojokkan atau tidak ingin mengatakan bahwa diri kita ini benar-benar tidak berguna.


Akan tetapi, untuk merasakan manisnya taubat, kita pun harus merasakan pahitnya dosa. Untuk menjadi orang yang bertaubat, tentunya harus ada yang kita taubati.
Renungkanlah, kalau setiap malam menghadirkan dua lembar kertas yang memuat pengakuan tentang hari yang pernah dilewati, satu lembar memuat amal kebaikan dan satu lagi berisi amal buruk. Renungkanlah, berapa kata yang akan kalian tulis dalam lembaran kebaikan dan berapa kata lagi yang akan ditulis di lembar keburukan? Perhatikanlah, apa hasil yang kalian peroleh hari ini? Kalian termasuk orang yang taat kepada Allah ataukah orang yang bermaksiat kepadanya?


Tanpa ragu lagi, kita pasti menemukan beribu-ribu dosa. Jadi, kita sangat memerlukan dan harus segera bertaubat. Salah seorang tabiîn, Sufyan ats-Tsauri, pernah melontarkan perkataan yang sangat indah. Perhatikanlah betapa besar perhatian sosok tabiîn ini terhadap masa depannya. Masa depan itu bukan anak, bukan istri, dan juga bukan harta, tapi yang ada di hari depan hanyalah surga dan neraka. Tuturnya, “Pada suatu hari aku duduk untuk mengingat kembali dosa-dosaku. Aku pun lalu menghitungnya. Ternyata, dosa-dosaku (yang berhasil diingat) ada 21.000 dosa.” Perhatikan angka ini! Ia adalah seorang tabiîn yang mulia (jalîl). Sufyan ats-Tsauri berkata kepada dirinya sendiri, “Hai Sufyan, Apakah dengan 21.000 dosa kamu menemui Tuhanmu, padahal ia akan menanyakan kepadamu setiap dosa (yang telah kamu lakukan ini)?” Dia adalah tabiîn yang mulia dan termasuk salah seorang yang hidup semasa dengan para sahabat. Maka, sekarang renungkanlah diri kalian sendiri.


Dosa-dosa kita sangat banyak dan terkadang dalam lembaran dosa kita memasukkan daftar dosa yang sangat besar, tanpa pernah kita sadari dan dengan enaknya kita kerjakan. Kalian pernah berkata dengan suara yang lebih keras dari suara ibu kalian. Kalian juga tentunya pernah menggerutu atau berkata “Cih” kepada ayah kalian. Kalian telah mempersiapkan bencana untuk diri kalian sendiri. Kalian telah mengundang musibah ke diri kalian sendiri. Kesimpulannya, kita harus segera bertaubat dari perbuatan yang sangat banyak jumlahnya. Kita harus segera bertaubat dari sikap melupakan nikmat-nikmat Allah Swt. yang telah membanjiri dan turun kepada kita dari Tuhan tanpa pernah kita syukuri. Sebab, di lain pihak ada sekian banyak orang yang tidak berkesempatan mendapatkan nikmat-nikmat itu. Bukankah tidak mensyukuri nikmat itu juga perlu ditaubati?
Kita harus segera bertaubat dari kelalaian –manusia yang angkuh kepada Allah sejak dua atau tiga puluh tahun- karena orang yang pernah berbuat dosa pasti dapat meninggalkannya, dan orang yang pernah melakukan dosa besar (kabâ`ir) pasti dapat terbebas dari belenggunya. Namun, orang yang melalaikan (ghafil) ajaran Allah serta hanyut dalam dunia gelap hingga lupa (lâhi) akan Allah dan melupakan firman-Nya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzâriyât [51]: 56) Harus segera menyadari bahwa kelalaian (ghaflah) itu jauh lebih parah daripada maksiat, dan benar-benar harus segera ditaubati. Masing-masing kita pernah terjerumus dalam dosa yang merintangi langkah kaki kita kepada Allah Swt. Aku tidak pernah merasa bahwa diriku suci. Kita semua mempunyai dosa.


Pembaca yang budiman, marilah kita simak apa yang difirmankan Allah tentang kita dan bagaimana Ia menyeru kita.
Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az-Zumar [39]: 53-54). Setelah mencoba mengorek sisi buruk yang pernah dilalui, dan kembali mengingat dosa dan kesalahan, Allah Swt. akan memberikan jalan keluar kepada kita.
Kalian boleh percaya ataupun tidak, dosa-dosa yang kita lakukan dalam kurun waktu dua puluh tahun atau bahkan lebih dapat diampuni dalam waktu sekejap.
“Kembalilah kalian semua kepada Tuhan kalian.” Berserah-dirilah kalian kepada Allah! Pasrahkan jiwa raga kalian kepada-Nya! Pahami dan kenali diri kalian sendiri, kemudian ulangi pertanyaan ini, “Apa sebenarnya yang diharapkan Allah Swt. dari kita?”
“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS. An-Nisâ` [4]: 27) Perhatikan juga firman Allah selanjutnya, “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisâ` [4]: 28) Sebab, jika kalian tidak segera bertaubat maka pada hari Kiamat nanti, belenggu dosa yang membebani kalian sangat berat. Sekali lagi, Allah ingin meringankan kita, orang-orang yang lemah. Marilah kita renungkan firman Allah Swt., “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh. Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqân [25]: 68-70). Kalian dapat melihat gaya penuturan (lahjah) al-Qur’an tampak begitu bengis, mengerikan, dan kejam tatkala membicarakan tentang zina, –na’ûdzubillâhi min dzâlik- kemudian secara frontal mulai berubah lembut tatkala menuturkan tentang taubat. Dalam ayat tersebut kita melihat bahwa Allah tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita dan menghapus segala kesalahan –dan inilah yang belum dapat kita pahami dan sempat terlupakan- namun Allah juga merubah dan mengganti (tabdîl) keburukan (sayyi`ât) dengan kebaikan (hasanât). Artinya, kalau aku bertaubat dengan mulai menjalankan kembali amal saleh (a’mâl shâlihât), maka keburukan-keburukan (yang dulu pernah aku lakukan) berubah menjadi kebaikan. Dengan kata lain, kalau ada salah seorang dari kita yang sama sekali tidak pernah melaksanakan shalat selama lima tahun, lalu pada saat ini, detik ini, ia bertaubat dengan hanya melaksanakan shalat dengan teratur dan melaksanakan beberapa amal sunnah saja, maka (dosa karena meninggalkan shalat selama) lima tahun itu diampuni. Bahkan, keburukan-keburukan yang pernah ia lakukan selama lima tahun silam berubah menjadi kebaikan! (Perlu ditegaskan bahwa Allah memiliki hak untuk mengganti apa yang telah lewat, karena dosa meninggalkan shalat telah dihancurkan)


Apa arti semua kemuliaan ini? Ya Allah, Maha Suci Engkau.
Selain itu, Nabi juga pernah membicarakan tentang taubat.
Beliau juga menceritakan sebuah kisah lucu, yang menceritakan tentang orang yang akan datang pada hari Kiamat. Allah Swt. lalu memerintahkan para malaikat untuk menunjukkan kembali dosa-dosa besarnya. “Wahai hamba-Ku, bacalah buku catatan amalmu!” kata Allah Swt. kemudian. Orang itu lalu membaca buku catatan amalnya dan ternyata penuh dengan dosa yang tidak terhitung. Ia mengira bahwa dirinya akan celaka dan wajahnya berubah menjadi hitam legam.
“Hamba-Ku, bacalah buku amalmu sekali lagi! Bukankah kamu telah bertaubat?”
Orang itu pun kemudian teringat, “Benar, Tuhanku. Aku telah bertaubat. Tuhanku, aku telah bertaubat.” Orang ini kembali membaca buku amalnya dan ternyata keburukan-keburukannya telah berubah menjadi kebaikan. Hamba ini lantas berbicara lagi kepada Tuhan, “Tuhan, aku masih punya dosa-dosa lain, tapi para malaikat lupa menuliskannya. Namun, aku masih dapat mengingatnya dengan baik!”
Ketika menceritakan kisah ini, sampai-sampai Nabi Saw. tertawa hingga gigi gerahamnya kelihatan.
Bukankah kalian telah melihat taubat dengan segala macam keindahannya? Betapa taubat itu sangat mengagumkan!


Cobalah kalian renungkan sabda Nabi Saw., “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan minta ampunlah kepada-Nya, sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dan beristighfar meminta ampun kepadanya 100 kali dalam setiap hari.” (HR. Ahmad dalam Kitab Musnadnya dan makna hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Shahihnya)


Dalam satu hari Rasulullah Saw. bertaubat sebanyak seratus kali, sementara itu kalian selama sepuluh tahun, satu kali pun tidak pernah bertaubat. Mengapa bisa seperti ini? Padahal, Rasulullah Saw. itu terjaga, tidak pernah melakukan kesalahan (ma’shûm), sedangkan kalian hanyalah seorang hamba yang selalu melakukan kesalahan (khaththâ’).


Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa dalam satu majlis kami menirukan Rasulullah Saw. seratus kali membaca, “Ya Tuhan, ampunilah aku; karena sesungguhnya Engkaulah Yang Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud)
Suatu ketika Nabi Saw. sedang berbincang-bincang bersama para sabahat. Beliau lalu diam sejenak. Para sahabat mendengar beliau membaca, “Astaghfirulâh wa atûbu ilaih, astaghfirulâh wa atûbu ilaih (Aku memohon ampun dan bertaubat kepada Allah).” Beliau kemudian sedikit berkata lagi dan diam untuk memohon ampun dan bertaubat kepada Allah untuk kali berikutnya.
Dengarkanlah sabda Nabi yang diriwayatkan dari Abu Musa, “Sesungguhnya Allah Swt. membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat salah di siang hari. Dia bentangkan juga tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat salah di malam hari hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim)
Siapakah yang selalu mengulurkan tangannya? Tentunya, orang yang membutuhkan. Lalu, siapakah orang yang membutuhkan? Yang membutuhkan adalah hamba. Namun karena kemuliaan-Nya, Allah Swt. berkenan mengulurkan tangan-Nya kepada hamba. Cobalah kalian simak sabda Nabi Saw., “Allah Swt. turun ke langit dunia pada sepertiga terakhir setiap malam lalu berseru dan memanggil, ‘Adakah orang yang bertaubat lalu Aku terima taubatnya? Adakah orang yang meminta ampun, lalu Aku ampuni dia?’” Dialah, Allah yang Maha Mulia, Maha Agung, yang setiap tiga jam setengah sebelum fajar mengetuk rumah kita.
Renungkanlah. Rasulullah Saw. telah memberitahu kita bahwa Allah Swt. sangat bahagia dengan taubat hamba-Nya. Renungkanlah, kalian adalah orang yang selalu bermaksiat kepada Allah sejak bertahun-tahun yang lalu dan selalu melakukan dosa besar. Namun, pada suatu hari kalian berkata, “Tuhan, kini aku telah bertaubat kepada-Mu. Hamba tidak akan mengulangi perbuatan dosa.”
Allah sangat bahagia dengan tekad kalian dalam bertaubat.

(Disarikan dari buku Kalam minal Qalbi [dari hati ke hati], karya Amru Khalid)

Artikel Terkait: