Selasa, 16 November 2010

Menjaring Lailatul Qadar

LAILATUL QADAR

Margasatwa tak berbunyi
gunung menahan nafasnya
angin pun berhenti
pohon-pohon tunduk
dalam gelap malam
pada Bulan Suci
Qur’an turun ke bumi
Qur’an turun ke bumi .....

Inilah malam seribu bulan
ketika cahaya sorga menerangi bumi
ketika cahaya sorga menyinari bumi
Inilah malam seribu bulan
ketika Tuhan menyeka airmata kita
ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita

*****

Bait-bait puisi Taufiq Ismail yang dimusikalisasi apik oleh Grup Kasidah Bimbo di atas, setidaknya dapat memberikan sedikit gambaran kepada kita tentang keagungan dan makna (malam) “Lailatul Qadar”, malam yang nilainya lebih baik daripada 1.000 bulan (=83 tahun 4 bulan), sebagaimana tertuang dalam Surat Al-Qadar Ayat 1-5.


Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly dan Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid mengatakan : Lailatul Qadar memiliki keutamaan sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al-Qur'anul Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasul-nya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, pen.), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.

Memang, kapan tepatnya Lailatul Qadar terjadi? Wallahu a’lam bis-shawaab. Namun banyak riwayat yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada (malam ganjil) sepuluh hari terakhir. Pendapat ini didasarkan pada hadits ‘Aisyah rah. yang mengatakan :

Rasulullah saw. beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) "Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. (HR Bukhari dan Muslim).

Juga dari ‘Aisyah rah., (dia berkata), "Adalah Rasulullah saw. bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (hari terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya”. (HR Muslim).

Dengan kata lain, bahwa malam tersebut saat ini sedang berada di tengah-tengah kita, atau di sekeliling orang-orang beriman yang sekarang ini sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan pada hitungan ke-21 ini. Sungguh beruntung orang yang memperoleh kesempatan untuk beribadah di malam tersebut, seolah-olah ia telah beribadah selama 83 tahun 4 bulan. Ini merupakan Karunia yang sangat besar dari Allah swt. Bagi orang yang mau menghargainya, ini adalah Nikmat yang sangat tinggi. Dan alangkah sangat meruginya bagi mereka yang melewati moment berharga ini begitu saja, sebab belum tentu di tahun berikutnya masih ada kesempatan untuk menjumpainya kembali.


Lantas, bagaimana mestinya kita bersikap?.
Hadits-hadits berikut ini kiranya dapat menjadi acuan :

Dari Aisyah rah, "Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Telah diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah rah., (dia) berkata, "Aku bertanya, Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?" Beliau menjawab, "Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Yaa Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku”. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dari Aisyah, sanadnya shahih).

Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), "Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Bukhari dan Muslim)

Adapun qiyamul-lail di dalamnya yaitu menghidupkan malam tersebut dengan shalat, membaca Al-Qur'anul Karim, berdzikir, berdo'a, beristighfar dan taubat kepada Allah swt. Sebagian ulama menganjurkan mengisi malam lailatul qadar dengan melaksanakan shalat Tasbih dan shalat Lailatul Qadr.


Shalat Tasbih

SHALAT TASBIH adalah shalat sunnah 4 rakaat yang di dalamnya dibacakan “kalimat tasbih” sebanyak 75 kali pada tiap rakaatnya. Shalat ini boleh dikerjakan di siang hari ataupun malam hari --pada waktu yang dianjurkan dan bukan pada waktu terlarang shalat--. Bila dikerjakan malam hari, shalat tasbih dilakukan dalam dua salam, sedangkan di siang hari cukup dilakukan dalam satu salam dengan satu tahiyat, namun tidak ada larangan dikerjakan dalam dua salam.

Shalat Tasbih lebih utama dikerjakan secara perorangan (tidak berjama'ah), boleh secara bersamaan dalam waktu dan tempat yang sama, asalkan tidak ada imam dan tidak ada makmum. Namun ada sebagian ulama membolehkan shalat tasbih dilaksanakan secara berjama’ah, khususnya di bulan Ramadhan mengingat keagungan pahalanya.

Kalimat tasbih yang dibaca pada shalat tasbih adalah sebagai berikut :

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْذُ لِلَّهِ وَلاَ الَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah tidak ada Tuhan selain Dia dan Dia Maha Besar”

ada juga yang melengkapi dengan menambahkan kalimat “tahawwul” di belakangnya, sehingga bacaannya menjadi :

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْذُ لِلَّهِ وَلاَ الَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ،لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِااللهِ الْعَلِّيِ الْعَظِيْمِ

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah tidak ada Tuhan selain Dia dan Dia Maha Besar; Tidak ada daya (untuk menghindar dari maksiat) dan tidak ada kekuatan untuk taat, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha agung"

Shalat tasbih ini sangat dianjurkan oleh Baginda Rasulullah saw. Sebagaimana hadits yang dirawatkan Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah saw. bersabda kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Muththolib (paman nabi) : “Wahai ‘Abbas, maukah saya berikan padamu?, maukah saya anugerahkan padamu?, maukah saya berikan padamu?, saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu dari awalnya hingga akhirnya, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang nampak. Semuanya 10 macam; Kamu shalat 4 raka’at setiap raka’at kamu membaca Al-Fatihah dan satu surah. Jika telah selesai maka bacalah "سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْذُ لِلَّهِ وَلاَ الَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ" sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian kamu ruku’ lalu bacalah kalimat itu di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap raka’at. Lakukan yang demikian itu dalam empat raka’at, lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan, kalau tidak mampu setiap bulan, kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu". (Abu Dawud, shohih Huzaimah, Ibnu Majah, At-Thabrany, dan lain-lain.)


Tata cara Shalat Tasbih

Berdasarkan materi hadits di atas, shalat tasbih dilakukan dengan urutan-urutan yang didahului dengan niat. Adapun niat yang dilafalkan adalah :

اُصَلِّيْ سُنَّةَ ا لتَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

"Aku niat Shalat Tasbih dua raka’at karena Allah Ta’ala"

Kemudian takbiratul ihram, membaca Surat Alfatihah dan surat-surat pilihan (Rakaat awal Surat At-Takatsur, rakaat kedua Surat Al-‘Asyr, rakaat ketiga Surat Al-Kafiruun, dan rakaat akhir Surat Al-Ihlash. Namun ini bukan ketentuan baku, artinya surat yang dibaca boleh apa saja). Selanjutnya sebelum melakukan ruku’ membaca tasbih sebanyak 15 kali. Tasbih berikutnya dibaca 10 kali-10 kali pada setiap rukun-rukun shalat :

Ketika ruku' sesudah membaca do'a ruku’;
Ketika i’tidal sesudah membaca do'a i’tidal;
Di waktu sujud pertama sesudah membaca do'a sujud;
Ketika duduk antara dua sujud (duduk iftirosy) sesudah membaca do'a duduk iftirosy; kemudian
Di waktu sujud kedua sesudah membaca do'a sujud; dan
Pada saat duduk istirahah sebelum berdiri ke raka’at kedua.

Pada rakaat terakhir, bacaan tasbih 10 kali dibaca ketika duduk tahiyat akhir sebelum membaca do'a/dzikir tahiyat dan tasyahud.

Bila dikalkulasi, bacaan tasbih yang dilafalkan berjumlah 75 kali dalam satu rakaat. Dengan demikian bila dikerjakan dalam 4 rakaat, seluruh bacaan tasbih yang dilafalkan berjumlah 300 kali.

Kemudian setelah semua rukun shalat selesai dikerjakan (dalam 4 rakaat), ditutup dengan membaca do'a berikut ini :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِينْ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَدٍ وَاَلِهِ وَصْحَبِهِ أَجْمَعِينْ اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْأَلُكَ تََوْفِيقََ أَهْلِ الهُدى وَأَ عْمَال َ أَهْلِ الْيَقِيْنِ، وَمُنَاصَحَةَ أَهْلِ التَّوْ بَةِ، وَعَزْ مَ أَهلِ الصَّبْرِ، وَجِدَّ أَهلِ الخَشْيَةِ، وَطَلْبَ اَهْلِ ا لرَّغبَةِ، وَتَعَبُّدَ اَهْلِ الوَرَع، وَعِرْفَانَ أَهلِ العِلْمِ حَتَّى أَخَافَكَ. اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ مَخَافَةَ تُحْجِزُني عَنْ مَعَاصِيكَ حَتَّى اَعْمَلَ بِطَاعَتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُّ بِهِ رِضَاكَ، وَحَتَّى اُنَاصِحَكَ بِالتَّوْ بَةِ خَوْفًا مِنْكَ وَحَتَّى أُخلصَ لَكَ النَّصِيْحَةَ حَيَاءً مِنْكَ وَحَتَّى اَتَوَ كَّلَ عَلَيْكَ فِيْ الاُمُوْرِ حُسْنَ ظَنِّ بِكَ سُبْحَانَ خَالِقِ ا لنُّوْرِ وَصَلَّى للهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَا يِصِفُوْنَ وَسَلاَ مْ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ


Shalat Lailatul Qadr

SHALAT LAILATUL QADR adalah shalat sunnah 2 rakaat yang dikerjakan pada malam hari (Lailatul Qadr) di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, dengan Niat sebagai berikut :

اُصَلِّيْ سُنَّةَ فى ليلة القدر رَكعَتين لِلَّهِ تَعَالَى

"Aku niat Shalat (malam) Lailatul Qadar dua raka’at karena Allah Ta’ala"

Setelah takbiratul ihram membaca Surat Alfatihah kemudian diteruskan Surat Al-Ikhlas sebanyak 7 kali, demikian juga di rakaat yang kedua.

Disebutkan dalam hadits (yang artinya) : Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw bersabda : “Barangsiapa mengerjakan shalat dua rakaat pada malam qadar, sedang pada tiap-tiap rakaat dia membaca Al-Fatihah sekali dan Surat Al-Ihlas tujuh kali, dan setelah salam dia membaca “أستغفر الله واتو اليه” sebanyak 70 kali, maka dia tidak bisa berdiri di tempatnya sehingga Allah swt. mengampuni dia dan kedua orang tuanya, dan Allah akan mengirim para malaikat ke sorga guna menanam baginya beberapa pohon untuk membangun gedung istana dan mengalirkan air sungai. Dan dia tidak keluar dari dunia (mati) sehingga dia melihat semua itu” (Tafsir Hanafi)


Do'a-do'a yang dianjurkan pada (malam) Lailatul Qadar

"Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan penjaga urusanku, dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya adalah kehidupanku, dan perbaikilah untukku akhiratku yang kepadanya aku kembali, dan jadikanlah kehidupan (ini) menambah untukku dalam setiap kebaikan, dan kematian menghentikanku dari setiap kejahatan. Ya Allah bebaskanlah aku dari (siksa) api Neraka, dan lapangkanlah untukku rizki yang halal, dan palingkanlah daripadaku kefasikan jin dan manusia, Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)"

"Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa Neraka. Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan"

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hal-hal yang menyebabkan (turunnya) rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, keteguhan dalam kebenaran dan mendapatkan segala kebaiikan, selamat dari segala dosa, kemenangan dengan (mendapat) Surga serta selamat dari Neraka. Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), Wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan "

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu pintu-pintu kebajikan, kesudahan (hidup) dengannya serta segala yang menghimpunnya, secara lahir-batin, di awAl-maupun di akhirnya, secara terang- terangan maupun rahasia. Yaa Allah, kasihilah keterasinganku di dunia dan kasihilah kengerianku di dalam kubur serta kasihilah berdiriku di hadapanmu kelak di akhirat. Wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan"

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, 'afaaf (pemeliharaan dari segala yang tidak baik) serta kecukupan"

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, mencintai pengampunan maka ampunilah aku"

"Ya Allah, aku mengharap Rahmat-Mu maka janganlah Engkau pikulkan (bebanku) kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata, dan perbaikilah keadaanku seluruhnya, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau"

"Ya Allah, jadikanlah kebaikan sebagai akhir dari semua urusan kami, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat"

"Ya Tuhan kami, terimalah (permohonan) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang memiliki keagungan dan kemuliaan”.

"Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, segenap keluarga dan para sahabatnya"

*****

Dengan mengetahui keutamaan-keutamaan malam yang agung ini --yang ia terbatas hanya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan-- maka seyogyanya kita bersemangat dan bersungguh-sungguh menyongsongnya, dengan shalat, dzikir, do'a, taubat dan istighfar. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dapat menjaring keagungannya, Allahumma amien ...... (ASF/dari banyak sumber)

Artikel Terkait: