Minggu, 29 Mei 2011

Liga Arab Dukung Pengakuan Negara Palestina Melalui PBB

Liga Arab menyatakan lembaga ini mendukung upaya mencari pengakuan dari PBB untuk negara Palestina, ketika Qatar mengusulkan pada pertemuan tersebut proses perdamaian Timur Tengah ditunda sampai Israel "siap" untuk melakukan pembicaraan.

Pada pertemuan Komite Pemantauan Arab yang diketuai oleh Qatar, Liga Arab mengatakan, lembaga ini “mendukung upaya melalui PBB meminta pengakuan negara Palestina sepenuhnya dengan perbatasan tahun 1967.”

Pernyataan Liga Arab Sabtu itu disampaikan segera setelah Mahmoud Abbas, Presiden Palestina, menegaskan kembali tekadnya untuk mencari pengakuan pada badan diplomatik dunia itu, kecuali jika Israel mulai perundingan untuk hal-hal yang bersifat "substansial".

Proses ‘Terhenti’

Qatar mengusulkan pada pertemuan itu bahwa proses perdamaian Timur Tengah tidak dapat dilanjutkan sampai Israel "siap", demikian laporan Al Jazeera, Sabtu (28/5) malam.

"Kami akan menghentikan sejenak proses perdamaian sampai ada keinginan dari mitra negosiasi, yakni pihak Israel,” kata Perdana Menteri Qatar Sheikh Hamad bin Jassem al-Thani ketika membuka pertemuan monitoring komite Arab.

Pertemuan itu mendiskusikan perkembangan terakhir mengenai masalah Palestina, menyusul usulan dari Barack Obama, Presiden AS, untuk menyelesaikan persengketaan yang lama itu.

Dalam pidato 19 Mei, Obama menyampaikan pernyataan yang jelas kepada Israel dan Palestina untuk menggunakan perbatasan sebelum Perang Enam Hari 1967 sebagai dasar mendapatkan solusi dalam pembicaraan negosiasai mengakhiri konflik itu.

Bentuk negara itu termasuk Jalur Gaza, Tepi Barat, dan sejumlah wilayah Arab di Al Quds Timur yang dikuasai Zionis, dengan beberapa penyesuaian dan tukar-menukar lahan sehingga Zionis Israel dapat mempertahankan blok permukimannya.

Obama juga berharap bahwa kemajuan dalam keamanan perbatasan, akan memungkinkan bergerak ke arah solusi pada "masa depan Al Quds dan nasib pengungsi Palestina".

Namun Perdana Menteri Qatar juga mengkritik "keengganan AS untuk menciptakan upaya-upaya yang membuat Israel menanggapi positif inisiatif" perdamaian.

Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, telah menolak usulan Obama tersebut, dengan mengatakan negara Yahudi itu "tidak dapat dipertahankan" jika kembali ke perbatasan pada tahun 1967, yang hal itu tidak mencakup lusinan permukiman.

Dia juga menolak membagi kota suci Al Quds. Sementara Palestina menginginkan Al Quds timur sebagai ibukota negara masa depan mereka.

Sheikh Hamad mengatakan, pidato Netanyahu "membuktikan bahwa Israel tidak menginginkan perdamaian".

Pada hari Sabtu, Abbas kembali menyatakan tekadnya untuk memimpin pada bulan September di PBB guna mencari pengakuan atas negara Palestina.

"Opsi kita masih negosiasi, tetapi tampaknya karena kondisi yang diberlakukan oleh Netanyahu ... kita tidak punya pilihan selain menggunakan PBB untuk mendapatkan pengakuan negara kita," katanya, mengulangi peringatan yang ia sampaikan setelah pidato Netanyahu di AS .

"Kami serius dalam keputusan kami untuk menggunakan PBB. Ini bukan manuver ... kita akan melakukannya, kecuali Netanyahu menerima untuk memulai negosiasi secara substansial."

Abbas sebelumnya mengatakan, pidato Netanyahu di AS itu telah men”torpedo” segala upaya negosiasi.*

Keterangan foto: Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Artikel Terkait: