Senin, 02 Mei 2011

Takut dan Malu, Ciri Utama Hidup Muslim

DALAM postingan status facebooknya, sahabat saya menulis wall begini; "Kalau dinasehati untuk jangan melakukan kejahatan atau dosa, atau semua perbuatan pasti dicatat Malaikat, tetap saja kejahatan demi kejahatan dilakukan. Akan tetapi kalau ada tanda peringatan bahwa kamera CCTV memantau Anda, barulah pada takut untuk berbuat salah. Nampaknya, fenomena ini menunjukan bahwa tingkat keimanan orang seperti itu masih pada tingkatan hal-hal yang nyata saja dan belum sampai pada tingkatan hal-hal yang ghaib”.

Status di atas mencerminkan sebuah keprihatinan terhadap berita-berita kriminal dan kerusakan moral yang sering terjadi di tengah masyarakat kita. Mulai dari penipuan, penculikan, pembunuhan, perzinaan dan perilaku-perilaku yang mengarah kepada kezoliman lainnya.

Semua kenyataan ini kembali kepada kata kunci atau muaranya, yaitu kualitas iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Ditinjau di sisi agama, masih maraknya kejahatan dan kemaksiatan adalah disebabkan oleh tingkat iman yang masih rendah dan belum mencapai kepada tahap keyakinan total kepada perkara-perkara yang ghaib.

Efeknya, mereka lebih takut dan malu kepada CCTV yang memantaunya secara temporer dan kondisional daripada takut kepada Malaikat pencatat amal yang memantaunya setiap saat, tanpa batas waktu dan tempat.

Aksi kejahatan atau perbuatan dosa yang apabila diketahui oleh publik sudah barang tentu menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi pelakunya, seperti menanggung rasa malu, reputasi jatuh, merasa asing, dan bahkan kehilangan pekerjaan dan jabatan. Kalau tertangkap aparat kepolisian, mau tidak mau dia harus menerima sangsi hukum, seperti penjara, denda dan sebagainya. Itu baru hukuman di dunia. Padahal di akhirat, hukumannya jauh lebih berat dan hina.
Motif-motif duniawi itulah yang masih mendominiasi diri kita, sehingga rasa takut dan malu tidak terkawal dengan semestinya.

Ciri Orang Mukmin

Dalam adab Islam, melakukan kejahatan dan dosa secara terang-terangan, tanpa rasa malu adalah jauh lebih buruk daripada mengerjakan dosa secara sembunyi-sembunyi karena malu apabila perbuatannya diketahui orang lain. Dalam kitab sahih juga disebutkan, "Setiap umatku memperoleh pengampunan, kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan."

Berkaitan dengan persoalan ini, Ibn Qayyim berkata, "Inilah perkara yang sebaiknya dicermati. Yaitu bahwa "yang besar" terkadang disertai dengan malu, takut, dan menganggapnya besar, maka itu menjadi dosa kecil. Tetapi terkadang "dosa kecil" yang dilakukan tanpa malu, tanpa peduli dan tanpa rasa takut serta menganggapnya remeh, maka bisa saja ia menjadi besar, bahkan menjadi dosa besar dalam urutan teratas." (Kitab Fii Fiqhil Aulawiyyaati, Yusuf Qardhawi)

Hakikatnya, iman yang kuat akan mendorong seseorang untuk lebih bertaqwa atau takut kepada Allah. Sehingga segala godaan untuk melakukan laranganNya dan godaan untuk meninggalkan perintahNya dapat dikalahkan.

Sebaliknya, iman yang lemah akan menjadikan seseorang lebih liar, dan bahkan rasa takutnya kepada Allah dapat dilumpuhkan oleh selainNya, sehingga segala rayuan Syaitan yang datang kepadanya tidak dapat dihindarkan. Perintah agama diabaikan sedangkan laranganya dikerjakan.

Orang-orang yang takut kepada Allah ialah golongan yang selamat dari keinginan untuk melakukan aksi jahat dan berbuat maksiat. Al-Qur'an sudah menegaskan, bahwa orang yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya tidak lain adalah orang-orang yang berilmu. (Q.S. Fathir:28)

Diriwayatkan dari Abu Hayyan At-Taimy, bahwa dia berkata, "Orang-orang yang berilmu terdiri dari tiga golongan: Pertama, orang yang mengetahui Allah namun tidak mengetahui perintah Allah. Kedua, orang yang mengetahui perintah Allah namun tidak mengenal Allah. Ketiga, orang yang mengetahui Allah dan juga mengetahui perintah Allah." (Kitabul Iman, Imam Ibn Taimiyah).

Alhasil, takut dan malu berbuat dosa adalah salah satu ciri utama gaya hidup seorang muslim yang harus senantiasa ditanamkan dan hadir dalam diri kita, sehingga dengannya kita mampu menghindari dosa dan maksiat, besar atau pun kecil.

Ucapan yang juga menarik keluar dari Maimun bin Mahran, ungkapnya:"Berzikir kepada Allah dengan lidah itu baik, tetapi lebih utama dari itu adalah apabila seorang hamba ingat kepada Allah pada saat dihadapkan dengan perbuatan maksiat, lalu meninggalkannya. Wallahu al-Musta'an.*

Imron Baehaqi, penulis adalah Ketua Bidang Dakwah & Tarjih PCIM Kuala Lumpur

Artikel Terkait: