Kamis, 20 Januari 2011

DI DAERAH NABI SHALEH, ZIONIS KEMBALI BERULAH


(Sahabatalaqsha.com): Warga Palestina yang terjajah bergerak semakin cepat menuju kemerdekaan mereka, sebagaimana terlihat dari semakin kerapnya unjuk rasa menentang berbagai kezaliman Zionis atas mereka.

Desa Nabi Saleh di Tepi Barat adalah satu dari sekian banyak kawasan Palestina terjajah yang kini rutin menggelar demonstrasi, yang secara rutin pula ditindas dengan kekerasan oleh para serdadu Zionis.

Di desa Nabi Saleh, yang kaum wanita dan anak-anaknya pun ikut dalam berbagai demonstrasi menentang penjajah Zionis, perlakuan para serdadu Zionis terhadap pengunjuk rasa pun semakin keras bahkan brutal.Jumat kemarin, 28 Oktober, belasan pemuda, dua wartawan dan seorang gadis kecil cedera dalam demonstrasi di Nabi Saleh. Serdadu Zionis menembaki mereka dengan semprotan merica, gas airmata dan peluru karet, demikian dilaporkan ISM Palestina.

Para pengunjuk rasa sengaja turun ke jalan dari arah dua bukit yang berbeda, yang dipisahkan oleh sebuah lembah. Di salah satu sisi para pengunjuk rasa terutama adalah para remaja dan pemuda, sedang di sisi lain adalah kaum wanita dan anak-anak serta para aktivis internasional.

Para polisi dan serdadu Zionis membentaki dan menembaki wajah sejumlah warga Palestina dengan semprotan merica. Para polisi juga menyatakan bahwa daerah itu adalah “kawasan militer tertutup” dan mengancam akan menangkapi semua pengunjuk rasa kalau tidak segera bubar. Ketika para penduduk Nabi Saleh itu terus bertahan di jalan, maka para polisi pun menembakkan granat suara bertubi-tubi.

Dua wartawan Palestina cedera di tangan dan di kaki, demikian pula seorang gadis kecil warga desa itu.

Demonstrasi Jumatan ini dimulai sejak Januari 2010 karena “ingin mencari sebuah strategi perlawanan terhadap penjajahan yang bisa dilakukan semua orang Palestina,” demikian ujar seorang warga desa.

Desa Nabi Saleh terkenal dengan perlawanan dan perjuangannya. Pada Intifadah pertama tahun 1986, hampir separuh warga desa dijebloskan ke penjara karena perjuangan mereka. Kaum wanitanya pun selalu ikut serta dalam berbagai unjuk rasa.

Masih hari Jumat yang sama, para pengunjuk rasa di Ni’lin berhasil menggunting sebagian pagar kawat berlistrik yang dipasang pemukim Yahudi ilegal di Modi’in Iliy dalam rangka merampas properti warga Palestina.

Sekitar seratus warga Ni’lin dan aktivis-aktivis internasional berkumpul di bawah pohon-pohon zaitun di luar desa. Segera sesudah shalat Jumat, mereka langsung melakukan unjuk rasa berjalan kaki menuju tembok pembatas yang disebut para aktivis sebagai Tembok Apartheid.

Sebagai bentuk protes mereka terhadap berbagai pemukiman Yahudi ilegal yang telah menggarong sebagian besar tanah mereka dan mencegah mereka bertanam dengan normal, sejumlah pemuda lalu melemparkan batu ke arah tembok itu.

Beberapa menit sesudahnya, sepasukan serdadu menembaki mereka dengan gas airmata. Karena angin berembus keras, maka sejumlah serdadu merasakan sendiri serbuan gas airmata yang mereka tembakkan.

Para serdadu tidak maju mendekati para pengunjuk rasa tapi terus menembakkan gas airmata dari balik tembok itu. Pada saat itulah warga Palestina berhasil memotong sebagian kawat listrik Zionis.

Unjuk rasa berakhir pukul 3 sore tanpa ada korban cedera atau ditangkap.

Di Bil’in, seorang warga Palestina mengalami luka parah dan puluhan lainnya tercekik akibat gas air mata tentara Zionis di hari yang sama.

Al-Aqsa Voice melaporkan, diantara peserta unjuk rasa yang digerakkan Komite Masyarakat Menentang Tembok dan Pemukiman di Bil’in itu ada sejumlah anggota parlemen Norwegia dan para aktivis kemanusiaan internasional lain.

Selain membawa bendera Palestina, spanduk-spanduk yang dibawa para pengunjuk rasa memprotes pengusiran atas warga Palestina, pembangunan pemukiman Yahudi, perlakuan kasar terhadap para tawanan Palestina, serta berbagai serangan terhadap tempat-tempat suci agama.

Mereka juga menuntut dibebaskannya seluruh tawanan, khususnya para pejuang perlawanan rakyat, dan dihentikannya blokade atas Jalur Gaza.

Ketika para pengunjuk rasa hendak menyeberangi sebidang tanah di belakang tembok pemisah Zionis yang dimiliki warga Palestina penduduk desa itu, tiba-tiba sepasukan tentara Zionis yang sebelumnya bersembunyi di balik tembok, menyerbu para pengunjuk rasa.

Serbuan dilakukan dengan bom suara, peluru logam berlapis karet, dan gas air mata. Serangan itu menyebabkan seorang pengunjuk rasa, Samir Bernat (34 tahun), luka-luka parah di bahunya, sedangkan puluhan pengunjuk rasa lainnya mengalami sesak nafas.* (RAL/OH/Sahabat Al-Aqsha)

Merica: Serdadu Zionis menembakkan dan menyemprotkan merica ke wajah para pengunjuk rasa di Nabi Saleh. Foto: ISM Palestina

'Karet': Bocah Palestina berusia 10 tahun ini luka di tangannya karena tembakan peluru karet serdadu Zionis. Foto: ISM Palestina

Artikel Terkait: