Jumat, 05 November 2010

MENYAMBUNG SILAHTURAHMI


“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad [47]: 22-23)

Keluarga adalah adalah salah satu karunia terbesar Allah SWT bagi manusia. Maka salah satu bentuk kesyukuran kita kepada Allah SWT adalah dengan senantiasa menjalin hubungan baik dengan mereka. Karenanya, Islam menggolongkan perbuatan memutuskan jalinan hubungan kekeluargaan (silaturrahim) sebagai salah satu bentuk dosa besar—yang diancam dengan laknat—dan jika tidak bertaubat maka pelakunya diancam dengan neraka Jahannam.

Allah SWT berfirman, ”Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).” (QS. Ar-Ra’du [13]: 25)

Dalam hadits shahih, Rasulullah saw bersabda, ”Ketika rahim diciptakan, ia bergantung di atas arasy lalu berkata, ”Ini adalah tempat bagi orang-orang yang berlindung diri kepada-Mu dari memutuskan silaturrahim’. Allah bertanya, ”Apakah kamu ridho jika Aku sambung orang yang menyambungmu dan aku putuskan orang yang memutuskanmu?” Ia menjawab, Tentu aku ridho.” Lantas Allah SWT berfirman, ”Itulah bagianmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebaliknya, orang yang selalu menjaga hubungan keluarganya dengan baik, Allah golongkan mereka sebagai pribadi-pribadi terbaik dan berbakti, yang akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Orang yang demikian itu akan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT dalam bentuk umur yang panjang dan rezeki yang melimpah. Dengan silaturrahim seseorang akan telindungi dari keburukan, kesengsaraan dunia dan akhirat dan dari buruknya tempat kembali.

Seorang bijak bestari—ketika ia menyebutkan suasana kekerabatannya dengan kerabatnya—menuturkan,

- Sesungguhnya antara aku, anak-anak ayahku, dan antara anak-anak pamanku, terdapat perbedaan yang sangat jelas.

- Apabila mereka mengganggu kehormatanku, aku lindungi kehormatan mereka, dan jika mereka menghancurkan kemuliaanku, aku bangun kemuliaan mereka.

- Aku tidak ingin menyimpan dendam lama terhadap mereka, karena pemuka suatu kaum bukanlah orang yang pendendam.”

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw bersabda, "Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menghubungkan tali kekerabatan." (HR. Bukhari)

Menurut para ulama, sebagaimana yang disebutkan Syeikh Al-Arnauth dalam ta’liqnya dalam kitab Mukhtashar Syu’abul Iman, bahwa penambahan dalam hadits ini memiliki dua makna;

Pertama, bahwa penambahan tersebut berarti keberkahan dalam umur dengan ditunjukinya seseorang untuk melakukan berbagai bentuk ketaatan, diberinya waktu lowong yang bermanfaat untuk kehidupan akhiratnya dan tidak menyia-nyiakannya selain untuk kepentingan akhirat. Sehingga silaturrahim menghantarkan seseorang untuk melakukan ketaatna dan menjaga dari kemasiatan, sehingga ia akan selalu dikenang sepeninggalnya dengan ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, keturunan yang saleh, sehingga membuatnya bagiakan orang yang tetap hidup.

Kedua, penambahan tersebut memiliki makna yang sebenarnya; umurnya benar-benar bertambah panjang dan rezekinya juga semakin banyak.

Silaturrahim dengan orangtua yang telah meninggal

Ketika orangtua atau kerabat dekat telah meninggal, kita pun masih dapat melakukan silaturrahim dengan mereka, dalam rangka berbakti kepada mereka. Caranya? Yaitu dengan tetap menjalin hubungan baik dengan sahabat-sahabat mereka yang masih hidup.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya salah satu bentuk berbakti yang paling baik ialah menjalin silaturrahim dengan sahabat dekat orangtua setelah dia meninggal.” (HR. Muslim)

™ Beberapa Hadits Terkait Silaturrahim

Dari Jubair bin Muth'im ra., Rasulullah Saw bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan, yaitu pemutus tali kekerabatan." (Muttafaq Alaihi)

Dari Al-Mughirah bin Syu'bah ra., Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menahan dan menuntut; dan Dia tidak suka kalian banyak bicara, banyak bertanya, dan menghambur-hamburkan harta." (Muttafaq Alaihi)

Dari Abdullah bin Umar ra., Nabi Saw bersabda, "Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orangtua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orangtua." (HR. Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim)

Dari Anas bin Malik ra., Nabi Saw bersabda, "Demi Tuha yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba dianggap beriman hingga ia mencintai tetangganya –atau saudaranya—sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (Muttafaq Alaihi)

Dari Ibnu Mas'ud ra., ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab, “Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dia-lah yang menciptakanmu." Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, "Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu." Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau bersabda, "Engkau berzina dengan istri tetanggamu." (Muttafaq Alaihi)

Dari Abdullah bin Amru bin al-'Ash ra., Rasulullah Saw bersabda, “Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya." Ada seseorang bertanya, “Adakah seseorang yang memaki orang tuanya?!” Beliau bersabda, "Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain itu memaki ayahnya dan ia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya.” (Muttafaq Alaihi)

Dari Abu Ayyub ra., Rasulullah Saw bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim membenci saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seorang berpaling dan lainnya juga berpaing. Yang paling baik di antara keduanya ialah yang mula-mula memulai mengucapkan salam.” (Muttafaq Alaihi)

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba yang gemar menjalin dan menghubungkan hubungan kekerabatan satu sama lain, sehingga kita terhindar dari ancaman laknat dan api neraka. Amin…. (By: M. Yusuf Shandy, Lc.)

Artikel Terkait: