Senin, 11 Oktober 2010

Kunang-kunang dan Penyembah Luciferian

Pernahkah kalian mendengar mitos mengenai kunang-kunang yang merupakan penjelmaan dari Lucifer? Mitos ini menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan jelmaan dari orang yang sudah meninggal atau jelmaan dari iblis (lucifer). Sebenarnya, manusia masa lalu sudah berpikir bagaimana hewan kecil ini dapat menghasilkan sinar namun keterbatasan informasi dan sarana pengetahuan menyebabkan timbulnya mitos konyol tersebut. Jangan anggap ini adalah sesuatu yang murni konyol karena ratusan tahun kemudian para peneliti menemukan lucifer di dalam tubuh kunang-kunang. Dan kalian tidak perlu takut, lucifer ini bukanlah makhluk jahat seperti dalam pikiran anda melainkan sebuah enzim yang disebut luciferase (berasal dari bahasa latin lux ferre, yang berarti pembawa cahaya) dan berfungsi mengatur reaksi kimia dalam tubuh kunang-kunang sehingga dapat menghasilkan sinar.

Kunang-kunang adalah nama umum untuk serangga yang bercahaya dan termasuk ke dalam famili Lampyridae yang bersifat nocturnal. Kunang-kunang memiliki organ dan sel khusus (photocytes) yang mampu menghasilkan cahaya, terdapat pada segmen pertama atau kedua terakhir dari ekor (abdomen). Lebih dari 2000 spesies kunang-kunang tersebar di daerah tropis dan temperate. Kunang-kunang dapat dijadikan indikator alami terhadap kondisi alam dimana alam yang telah rusak tidak memiliki populasi kunang-kunang.


Bagaimana kunang-kunang membuat sinar?


Langkah Pertama: Sel-sel di bagian ekor kunang-kunang menghasilkan enzim luciferase

Pada setiap nukleus dari setiap sel, sebuah enzim yang disebut DNA Polymerase mengkode gen Luc dengan sel-sel genom. Gen Luc merupakan sekuen dari asam amino yang menghasilkan enzim luciferase. Kemudian, RNA Polymerase mengkopi gen luc dalam bentuk mRNA yang sangat mirip dengan DNA. Proses ini disebut transkripsi. Setelah proses transkripsi selesai, mRNA menuju sitoplasma. Di dalam sitoplasma, mRNA luc diatur oleh sel penghasil protein yang disebut ribosom. Ribosom menterjemahkan informasi dalam mRNA luc untuk memproduksi sebuah rantai asam-asam amino yang membangun enzim luciferase. Proses ini disebut translasi. Agar enzim luciferase dapat berfungsi, rantai asam-asam amino tersebut harus menekuk dan terlipat dalam tiga bentuk dimensional yang spesifik.

Langkah Kedua: Enzim Luciferase mengatur reaksi-reaksi kimia untuk menghasilkan sinar

Untuk menghasilkan sebuah sinar tampak, sel-sel di dalam ekor kunang-kunang harus memproduksi ribuan enzim luciferase. Di dalam setiap sel, enzim-enzime tersebut mencari pasangannya dan berikatan membentuk senyawa kimia yang disebut luciferin. Enzim luciferase mempercepat reaksi kimia dengan menggabungkan molekul oksigen dengan luciferin sehingga membentuk oxyluciferin. Di dalam reaksi, luceferin teroksidasi, yaitu ia kehilangan sebuah elektron dan molekul-molekulnya berpindah ke tempat energi yang lebih tinggi. Ketika molekul-molekul yang penuh energi ini kembali ketingkat energi yang lebih rendah, yaitu dalam keadaan yang lebih stabil molekul-molekul melepas energi dan menghasilkan sinar yang kemudian digunakan bagi kunang-kunang untuk memberikan signal kepada pasangannya dan merupakan peringatan bagi predator.


Mengapa Kunang-kunang Menghasilkan Sinar?

Satu diantara alasannya adalah untuk menarik pasangan. Jantan dan betina dari jenis yang sama akan memancarkan signal kelap-kelip sebagai cara berkomunikasi. Masing-Masing jenis kunang-kunang mempunyai pola khusus dalam bersinar. Sebagai contoh, kunang-kunang jantan dari satu jenis akan terbang bebas di langit malam dan dengan tiba-tiba mulai berkerlip serta memutar keatas untuk membuat pola sinar (J-shapped) yang berbeda. Kunang-Kunang betina menggantung pada suatu cabang pohon atau di rumput ketika si jantan sedang beraksi menunjukkan sinar terbaik mereka. Ketika si betina mengenali dan menyukai sinar dari si jantan maka si betina akan menjawab dengan sinar terbaik pula.

Alasan lain adalah untuk menghindar dari predator. Tubuh kunang-kunang dipenuhi dengan bahan kimia yang terasa tidak enak bila dicicipi disebut lucibufagens dan setelah predator mencicipinya, dengan cepat mereka belajar untuk mengasosiasikan bahwa kunang-kunang adalah mangsa dengan cita rasa yang buruk. Jadi sinar kunang-kunang tidak hanya membantu menarik pasangan, tetapi juga memperingatkan predator untuk menjauh. Memiliki lucibufagens juga sangat penting untuk kelangsungan hidup suatu spesies kunang-kunang yang tidak dapat membuat senyawa kimia ini dan memperolehnya melalui memakan spesies lain yang dapat membuatnya. Mereka melakukan ini dengan meniru pola kilatan spesies lain dan memikat mereka. Kunang-kunang jantan yang tidak curiga berpikir bahwa ia akan menemukan pasangan, melainkan menjadi makanan lezat bagi kunang-kunang licik.

Sumber: Fakta Ilmiah

Artikel Terkait: