Jumat, 08 Oktober 2010

Fenomena Guruh, Petir, dan Halilintar



Imaam Muslim dan lain-lain meriwayatkan ; sesungguhnya Nabi saw ketika sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya, terdengar suara gemuruh, maka Nabi saw bersabda ; "Apakah Kalian mendengar sesuatu!" Mereka berkata ; "Allah dan utusan-Nya lebih mengetahui." Nabi saw bersabda ; "Suara itu berasal dari batu yang dilemparkan ke dalam neraka Jahanam sejak 70 tahun lalu, dan baru sekarang tiba di dasarnya." Subhanallah...

Beberapa waktu belakangan ini kita banyak dikejutkan dengan fenomena alam yang berubah secara drastis; dipagi hari cuaca terik - menjelang sore hujan lebat, suhu udara dengan sangat cepat meningkat atau bahkan turun drastis di waktu bersamaan, banyak orang terkena penyakit mulai dari yang ringan hingga berat, terutama anak-anak yang menderita karena mereka tidak kuat menahan terpaan angin secara spontan. Apakah ini memang benar-benar dampak perubahan iklim global ataukah ini suatu bentuk teguran ALlah kepada kita yang selama ini sudah berlaku semena-mena terhadap lingkungan. Bagaimana Al-Quran memandang dan membahas peristiwa ini? Apakah Al-Quran bisa menjawab pertanyaan kita tentang perubahan cuaca ekstrim ini? mari kita simak sama-sama.

Pernahkah anda memperhatikan suara guruh yang menggelegar di kala hujan datang? Diiringi suara gemuruhnya yang demikian dahsyat dan menakutkan? dari manakah datangnya suara itu? ya, itu adalah bentuk kekuasaan Allah pada ciptaannya, dimana saking takutnya guruh dan malaikat di Arrasy ini kepada-Nya. Kedua mahluk yang ada diatas Arasy ini juga menyaksikan Allah melemparkan halilintar lalu menimpakannya kepada siapa saja yang pantas menerimanya. Kita juga tidak usah menampik bahwa hampir di semua peristiwa bencana, semua orang akan saling menuduh, tentang siapa penyebab dan biang kerok dari peristiwa itu. Pemerintah menuduh warganya yang tidak taat aturan dan suka bertindak seenaknya, dan rakyat juga menuduh pemerintah yang tidak mau berusaha mencegah dan membangun fasilitas memadai. Demikian seterusnya hingga akhirnya peristiwa demi peristiwa terus berulang...

"Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantahantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya. (Ar Ra'd:13)

"Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung." (Ar-Ra'd:12)
Dan tahukah anda bahwasanya seluruh mahluk hidup dimuka bumi ini senantiasa bersujud kepada Allah, termasuk yang ada dilangit, dengan cara apa? perhatikanlah pada setiap pergantian siang dan malam, dikala matahari muncul di ufuk timur maka kita bisa melihat bayangan semua mahluk yang berwarna gelap bergeser perlahan hingga menjelang sore bayangan itu kembali muncul untuk menutup hari menuju malam. Sungguh dahyat ciptaan-Nya, apakah sujud itu dilakukan dengan sengaja ataupun terpaksa, tapi yang pasti mereka harus melakukan sujud itu setiap hari tanpa kecuali. Nah bagaimana dengan manusia, seharusnya manusiapun melakukan hal yang sama, bahkan harus lebih besar amalannya, karena manusia adalah mahluk yang paling mulia di muka bumi ini.

"Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari." (Ar-Ra'd:15)

Ayat berikut ini ingin menerangkan bahwasanya ketika jagat raya ini ditanya mengenai siapa yang berhak atas keberadaannya, maka mereka menjawab hanya Allah satu-satunya dzat yang berkuasa atas mereka. Lalu ayat ini juga ingin menunjukkan perbedaan kekuasaan yang dimiliki Allah dengan para sekutu Allah yang selama ini lebih dipilih oleh sebagian orang untuk dijadikan pelindung, padahal para sekutu itu sama sekali tidak punya kemampuan apa-apa selain mereka pun diciptakan dari genggaman Allah. Agar manusia yang tersesat mau kembali merenungi tindakan dan perbuatannya menyekutukan Alah dengan selainnya, karena itu sama sekali tidak berarti.

"Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (Ar-Ra'd:16)

Diantara langit dan bumi, terjadilah pertemuan awan yang mampu menghasilkan air, dan itu hanya Allah sajalah yang mengetahui proses terjadinya, dengan tujuan agar manusia dapat mengambil manfaat. Tetapi dengan peristiwa tingginya debit hujan belakangan ini, pastinya ada maksud dan tujuan. Apakah buih yang dihasilkan memang bertujuan untuk memberi manfaat, sebagai bentuk teguran, atau sesuatu yang akan hilang begitu saja, tergantung bagaimana manusia menyikapinya.

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (Ar-Ra'd:17)

Disamping itu, bisakah anda mempehatikan hubungan peristiwa bencana di Wasior-Papua dengan lafaz Allah berikut ini? mengapa Megapolitan Jakartapun tak berdaya didera hujan deras setiap hari yang hanya berdurasi 2 jam? Mengapa awan selalu gelap menjelang pergantian hari? mengapa suhu udara mudah menguap belakangan ini? dapatkah anda membaca? ada apakah maksud semua peristiwa ini? Maha benar Allah dengan segala firman-Nya...sungguh kita ini hanya mahluk kecil tak berdaya...kemurkaan Allah ini barulah yang Dia sampaikan melalui alam, bagaimana jika kemurkaan itu disampaikan langsung kepada manusia, mahluk tak berdaya ini memangnya bisa berbuat apa? baru dikirimkan air bah saja sudah berargumen bahwa teorinya yang paling benar, lalu bagaimana kalau Allah kirimkah bala' yang lain? sungguh benar, kita ini hanyalah pasir dan bedu tak berdaya

"Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya." Ar-Ra'd:41)

"Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quraan itulah dia)774. Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. " (Ar-Ra'd:31)

Demikianlah kekuasaan ALlah atas alam semesta ini, tidak ada satupun hal yang luput dari pandangan-Nya. Jangankan hanya gunung, awan, halilintar, guruh dan semua bencana yang terjadi, itupun atas kehendak-Nya. Disinilah yang akan membedakan, mana orang yang berpikir dan tidak. Tidak, kita tidak akan pernah sanggup menghalangi peristiwa apapun di muka bumi ini. Segala bentuk perubahan, penambahan dan pengurangan ini bumi ini semua sudah atas kehendak-Nya...kita ini hanyalah penyewa sementara, yang jika sudah habis masa pakainya harus kembali ke alam barzah...itulah rumah kita yang sebenarnya...

"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (Ar-Ra'd:2)

"Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan765, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Ar-Ra'd:3)

"Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (Faathir : 38)

"Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Faathir : 41)


BENCANA DEMI BENCANA

Inilah firman-firman Allah tentang bencana yang datang kepada manusia. Bahwa semua kerusakan dan kehancuran di muka bumi ini semata-mata akibat tangan manusia itu sendiri.

"Apa saja ni'mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (AN NISAA' ayat 79)

Manusia hanyalah segelintir mahluk yang tidak akan mampu menghindar dari semua peristiwa di muka bumi ini, terkecuali, kita akan senantiasa bertasyakur, bertasbih dan bertahmid mengagungkan Lafadz-Nya kepada seluruh alam dengan suara lemah lembut dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Hanya itulah satu-satunya cara agar kita tidak tenggelam dan tertelan dalam kehancuran yang disebabkan kerusakan alam yang sudah terlanjur porak-poranda ini.

"Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur"". (SURAT AL AN'AAM ayat 63)

Yang seharusnya dilakukan manusia disaat bencana itu datang adalah beramai-ramai menggemakan Lafazd Allah, lalu memohon ampunan yang sebesar-besarnya untuk menyesali perbuatan dan tidak mengulanginya lagi. Bukannya saling lempar tanggung- jawab dan bahkan menjadikannya polemik berkepanjangan tanpa ada penyelesaian, bahkan warga disekitar lokasi bencana pun seolah2 tidak peduli, seharusnya mereka semua intropeksi apakah selama ini sudah banyak melakukan kesalahan, sehingga datanglah teguran Allah dalam bentuk bencana. Jangan lagi menganggap ini sepele, berpikir bahwa ini hanyalah peristiwa alam biasa, ini semua ini adalah bentuk kemurkaan ALlah pada umatnya yang sudah mulai melupakan tentang asal-usul siapa mereka sebenarnya. Wallah Hualam....

Artikel Terkait: