Selasa, 11 Januari 2011

LOKASI ROH SETELAH MATI


Di mana roh ditempatkan setelah mati? Apakah di langit? di surga dan neraka? Apakah ada di sekeliling kita? Apakah ia mempunyai hubungan dengan jasad yang ditanam di bumi?

(Masalah penempatan ini memang memiliki penafsiran yang berbeda-beda, hal ini terkait dengan tidak adanya saksi hidup yang pernah mati dan kembali lagi memberikan keterangan pasti, namun apapun itu sepatutnya tidaklah membuat kita meragukan ataupun menyangkal, sebaliknya harus menghormati dan menjadikannya tauladan bahwa diantara perbedaan itu terdapat rasa saling mengasihi dan tolong menolong dalam kebenaran).

Jawaban;

Ada banyak pandangan ulama tentang masalah ini, diantaranya;

Pendapat pertama:

Ruh orang-orang beriman sama dengan para Nabi atau syuhada, ditempatkan di dalam syurga. Adapun ruh-ruh orang kafir ditempatkan di dalam neraka. Ini adalah pendapat Abu Hurairah, Ibnu Umar, Imam Ahmad, Imam Syafi’ie dan Ibnu Kathir (Lihat; Tafsir Ibnu Kathir, surah al-Baqarah, ayat 154).

Pendapat kedua:

Ruh-ruh orang beriman berada di langit yang ke tujuh di tempat bernama ‘Illiyyiin, sedangkan ruh-ruh orang kafir berada di lapisan bumi yang ke tujuh di tempat bernama Sijjin (penjara). Ini adalah pendapat Kaab dan Syeikh Abu Bakar al-Jazairi.

Pendapat ketiga:

Ruh-ruh orang beriman akan berada di halaman kubur masing-masing di mana kubur-kubur mereka dilapangkan oleh Allah, kecuali ruh orang-orang mati syahid yang ditempatkan di dalam syurga. Adapun ruh-ruh orang kafir, ia ditahan/dipenjara di bawah lapisan bumi yang ke tujuh. Ini adalah pendapat sekumpulan ulama. Pendapat inilah yang dinyatakan oleh Imam al-Baijuri dalam kitabnya Syarah Jauharah at-Tauhid sebagai soheh. Menurut Imam Mujahid; ruh menetap di dalam kubur hingga seminggu saja dari hari ia dikuburkan, kemudian ditempatkan di tempat yang lain.

Pendapat keempat:

Ruh berada di suatu tempat di mana ia berada ketika jasadnya belum diciptakan. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm.

Pendapat kelima:

Ruh orang beriman berada di barzah di bumi di mana ia bebas dapat pergi ke mana-mana menurut kehendaknya. Ini adalah pendapat Salman al-Farisi dan Imam Malik.

Perbedaan pendapat di atas adalah karena wujudnya perbedaan dalil yang menjadi rujukan masing-masing. Kerana itu Imam Ibnul-Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya ar-Ruh, setelah beliau membentang pendapat-pendapat yang berbeda tadi, beliau membuat ulasan bahawa ruh-ruh di alam barzah berbeda-beda tempat dan tingkatnya mengikut kedudukan masing-masing di sisi Allah;

Ada ruh yang ditempatkan di ‘Illiyyin pada daerah yang paling tinggi yaitu ruh para Nabi,

Ada ruh yang ditempatkan di dalam syurga seperti ruh para Syuhada,

Ada ruh yang ditempatkan dipintu syurga,

Ada ruh yang ditempatkan di bumi,

Ada ruh yang berada lapisan terbawah dari bumi,

Ada ruh yang berenang dalam lautan darah (sebagaimana dilihat Nabi s.a.w. dalam peristiwa Isra’ dan Mikraj).

Kesimpulannya, ruh-ruh tidak berada di satu tempat. Sebagai menegaskan pandangan beliau, Imam Ibnul-Qayyim menjelaskan; “Jka kita analisis serta hayati hadis-hadis atau riwayat tersebut, maka kita akan menyimpulkan bahawa tidak ada dalil-dalil soheh yang saling bertentangan antara satu sama lain. Inilah hujah yang benar dan dapat dijadikan pegangan”.

Hubungan ruh dengan jasad

Ruh-ruh selepas mati walaupun berada di tempat yang jauh (di syurga, di langit dan sebagainya mengikut pendapat-pendapat tadi), namun ia masih mempunyai hubungan secara langsung dengan kuburnya yang mengandungi jasadnya. Dengan adanya hubungan itu, ruh akan membalas salam orang yang datang berziarah ke kuburnya dan tidaklah mustahil bagi ruh itu untuk kembali ke jasadnya dalam waktu yang amat pantas dari tempat tinggalnya dengan izin Allah (itulah sebabnya pada beberapa kasus ada orang yang bisa bangkit kembali dari kematian, padalah ia sudah di vonis meninggal secara medis, wallahualam). Dalam hadis Rasulullah s.a.w. bersabda; “Tidak ada seorangpun yang melalui kubur saudaranya yang muslim yang dikenalinya di dunia, lalu ia memberi salam kepadanya melainkan akan dikembalikan ruh kepadanya sehingga ia dapat menjawab salam”.

Begitu juga dengan adanya hubungan itu, jasad akan turut merasai nikmat atau azab yang dikenakan ke atas ruh di alam barzah. Kesimpulannya; di alam barzah sekalipun ruh dengan jasad terpisah, namun hubungan antara keduanya masih ada.

Wallahu A’lam.

Rujukan;

1. Ar-Ruh, Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah.
2. Tafsir Ibnu Kathir, surah al-Baqarah, ayat 154.
3. Aqidah al-Muslim, Syeikh Abu Bakar al-Jazairi.
4. Syarh Jauharah at-Tauhid, Imam al-Baijuri.

by USTAZ AHMAD ADNAN FADZIL
Tinggalka

Artikel Terkait: